ID / EN
Berita Populer

Seberapa Besar Jejak Karbon Tambang? Blockchain Bisa Bantu Menelusurinya


Published by: Universitas Pertamina Kamis, 10 September 2026
Dibaca: 5 kali
Ketika sebuah komoditas tambang berpindah dari lokasi penambangan menuju pabrik atau konsumen, perjalanan tersebut tidak hanya meninggalkan jejak ekonomi. Ada pula jejak karbon yang muncul dari berbagai aktivitas di sepanjang rantai pasok, mulai dari produksi hingga transportasi.

Pertanyaannya, bagaimana mengetahui seberapa besar emisi yang dihasilkan dalam perjalanan tersebut?
Persoalannya tidak sesederhana menghitung bahan bakar yang digunakan kendaraan pengangkut. Rantai pasok industri pertambangan melibatkan banyak pihak dan tahapan. Data emisi pun dapat berasal dari berbagai sumber, seperti data pemasok, rata-rata industri, maupun data primer perusahaan. Tantangannya, data tersebut belum tentu tersedia secara lengkap, konsisten, atau dapat diakses secara langsung.

Di sinilah teknologi blockchain berpotensi memainkan peran.

Dari Tambang hingga Konsumen, Emisi Perlu Ditelusuri

Peneliti logistik Universitas Pertamina mengembangkan kerangka penilaian emisi karbon pada rantai pasok industri pertambangan berbasis blockchain. Kerangka ini dirancang untuk membantu perusahaan menelusuri emisi dari berbagai tahapan rantai pasok sekaligus meningkatkan transparansi dan akuntabilitas data. 

Penelitian tersebut berangkat dari kebutuhan untuk membuat pengukuran emisi menjadi lebih transparan dan dapat ditelusuri. Berdasarkan kajian literatur dan wawancara terhadap 10 pemangku kepentingan industri pertambangan, kerangka yang dikembangkan mengintegrasikan teknologi blockchain dengan penilaian emisi karbon di sepanjang rantai pasok.

Secara sederhana, konsepnya dapat dibayangkan seperti membuat “rekam jejak digital” perjalanan karbon.
Rantai pasok terlebih dahulu dipetakan secara menyeluruh, mulai dari sumber bahan baku hingga produk sampai ke tujuan. Dari pemetaan tersebut, perusahaan dapat melihat tahapan mana yang berpotensi menjadi hotspot emisi. Selanjutnya, emisi pada setiap tahapan dinilai dan dicatat sehingga menghasilkan gambaran yang lebih utuh mengenai jejak karbon rantai pasok.

Teknologi blockchain kemudian digunakan untuk membantu mencatat dan memverifikasi data tersebut secara transparan.

Blockchain dikenal melalui kemampuannya menyimpan catatan transaksi secara terdesentralisasi dan sulit diubah. Dalam konteks rantai pasok, karakteristik ini dapat membantu berbagai pihak melacak data sekaligus meningkatkan keamanan dan akuntabilitas informasi.

Bukan Sekadar Teknologi, tetapi Persoalan Logistik

Menariknya, persoalan emisi dalam industri pertambangan bukan hanya persoalan teknologi lingkungan. Ada persoalan rantai pasok di dalamnya.

Setiap perpindahan material membutuhkan keputusan: dari mana bahan diperoleh, bagaimana dipindahkan, moda transportasi apa yang digunakan, berapa jaraknya, hingga siapa saja pihak yang terlibat. Setiap keputusan tersebut dapat berkontribusi terhadap jejak karbon.

Sebuah studi mengenai rantai pasok batubara di Indonesia, misalnya, menunjukkan bahwa aktivitas distribusi dapat menghasilkan emisi yang berbeda pada setiap tahapan perjalanan. Studi tersebut juga merekomendasikan peningkatan efisiensi sistem transportasi sebagai salah satu upaya mengurangi dampak emisi.

Karena itu, pengelolaan rantai pasok berkelanjutan membutuhkan lebih dari sekadar pemindahan barang dari titik A ke titik B. Data mengenai apa yang dipindahkan, bagaimana prosesnya, dan berapa emisi yang dihasilkan juga menjadi bagian penting dalam pengambilan keputusan.

Hal ini semakin relevan ketika tuntutan terhadap transparansi keberlanjutan terus meningkat. IEA mencatat emisi COâ‚‚ terkait energi global mencapai rekor 37,8 gigaton pada 2024. Sementara di Indonesia, sektor mineral dan batubara tetap menjadi salah satu subsektor strategis, dengan investasi minerba mencapai US$6,7 miliar pada 2025 dan jumlah tenaga kerja mencapai 685.724 orang pada Semester I 2026 (KataData, 2025).

Artinya, ketika aktivitas industri terus berjalan dalam skala besar, kemampuan untuk mengetahui dan mengelola dampak lingkungannya juga menjadi semakin penting.

Ketika Blockchain Bertemu Rantai Pasok Berkelanjutan

Dalam kerangka yang dikembangkan peneliti, terdapat tiga komponen utama: Value Chain Mapping, Carbon Emissions Assessment, dan Blockchain-Driven Sustainability.

Pertama, value chain mapping digunakan untuk memetakan seluruh proses dalam rantai pasok dan menemukan titik-titik yang berpotensi menghasilkan emisi tinggi.

Kedua, carbon emissions assessment digunakan untuk mengukur emisi pada berbagai tahapan, termasuk produksi, transportasi, hingga konsumsi.

Ketiga, blockchain digunakan untuk membantu pencatatan, pelacakan, dan verifikasi data emisi. Kerangka tersebut juga memasukkan penggunaan smart contract untuk membantu verifikasi otomatis terhadap batas emisi yang telah ditentukan.

Jika diterapkan secara lebih luas, pendekatan ini berpotensi membantu perusahaan mendapatkan data yang lebih transparan, meningkatkan kepatuhan terhadap standar lingkungan, menemukan sumber emisi terbesar, sekaligus membuat proses administrasi rantai pasok lebih efisien.

Dengan demikian, blockchain bukanlah solusi tunggal untuk menghilangkan emisi. Teknologi ini lebih tepat dilihat sebagai alat untuk membuat data emisi lebih terlacak dan dapat dipertanggungjawabkan, sehingga keputusan pengurangan emisi dapat dilakukan berdasarkan informasi yang lebih baik.

Di titik inilah ilmu Teknik Logistik menjadi relevan. Masa depan logistik tidak hanya berbicara tentang bagaimana barang sampai lebih cepat dan efisien, tetapi juga bagaimana barang bergerak dengan jejak lingkungan yang semakin terukur dan terkendali.

Upaya tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, serta SDG 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim. Dari sisi pembangunan nasional, penguatan industri dan hilirisasi sumber daya juga berkaitan dengan Asta Cita, terutama agenda penguatan industrialisasi berbasis sumber daya alam.

Melalui pengembangan riset dan pembelajaran yang menghubungkan logistik, teknologi, industri, dan keberlanjutan, Universitas Pertamina terus mendorong hadirnya solusi yang relevan dengan kebutuhan industri—bagian dari semangat UPER Berdampak.

Bagi kamu yang tertarik mempelajari bagaimana teknologi dan strategi rantai pasok dapat menjawab tantangan industri masa depan, Program Studi Teknik Logistik Universitas Pertamina bisa menjadi ruang untuk mengembangkan kompetensi tersebut. Informasi mengenai program studi dan penerimaan mahasiswa baru dapat dilihat melalui situs resmi Penerimaan Mahasiswa Baru Universitas Pertamina.

Referensi:
Vikaliana, R., Rahmawati, N. F., Hidayat, Y. R., Islah, K., Sari, S. N., Santoso, T., & Kristanto, R. (2024). Sustainable supply chain in carbon emissions assessment with blockchain technology driven: A framework for mining industries. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 1422, 012029. https://doi.org/10.1088/1755-1315/1422/1/012029 

KataData. 2025. Emisi CO2 Sektor Energi dan Industri Global Meningkat pada 2024. https://databoks.katadata.co.id/infografik/2025/04/30/emisi-co2-sektor-energi-dan-industri-global-meningkat-pada-2024 


Thumbnail
Bagikan:
Bagikan ke WhatsApp
Bagikan ke Facebook
Bagikan ke X
Bagikan ke Telegram
Bagikan ke LinkedIn

Tinggalkan Balasan
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalan UU ITE

© 2026 Universitas Pertamina.
All rights reserved