Isu perubahan iklim kini tidak lagi jauh dari kehidupan sehari-hari, termasuk di lingkungan kampus. Aktivitas yang terlihat sederhana seperti menyalakan lampu, menggunakan pendingin ruangan, hingga mobilitas mahasiswa ternyata memiliki kontribusi terhadap emisi gas rumah kaca. Dalam konteks ini, jejak karbon menjadi indikator penting untuk mengukur seberapa besar dampak aktivitas tersebut terhadap lingkungan.
Jejak karbon sendiri merujuk pada total emisi gas rumah kaca, khususnya karbon dioksida (CO₂), yang dihasilkan dari berbagai aktivitas manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Di lingkungan perguruan tinggi, sumber emisi ini umumnya berasal dari penggunaan energi listrik, transportasi civitas akademika, serta produksi limbah harian.
Hasil Riset di Universitas Pertamina
Gambaran konkret mengenai hal ini dapat dilihat dari penelitian yang dilakukan oleh Betanti Ridhosari dan Ari Rahman di Universitas Pertamina. Studi tersebut mengukur jejak karbon kampus dari tiga aspek utama, yaitu listrik, transportasi, dan timbulan sampah. Hasilnya menunjukkan bahwa total emisi karbon yang dihasilkan dalam satu tahun mencapai 1.351,98 ton CO₂, dengan rata-rata emisi sebesar 0,52 ton CO₂ per orang per tahun.
Temuan ini menegaskan bahwa penyebab jejak karbon di kampus tidak tersebar merata. Penggunaan listrik menjadi kontributor terbesar, mencapai lebih dari 90 persen dari total emisi. Hal ini berkaitan erat dengan operasional gedung yang intensif, mulai dari penggunaan pencahayaan, pendingin udara, hingga berbagai perangkat elektronik penunjang kegiatan akademik. Ketergantungan pada sumber energi berbasis fosil juga memperbesar dampak emisi dari sektor ini.
Penyebab Utama Jejak Karbon di Lingkungan Kampus
Penyebab utama jejak karbon di lingkungan kampus pada dasarnya berasal dari aktivitas operasional dan kebiasaan sehari-hari civitas akademika. Berdasarkan berbagai studi, termasuk riset di Universitas Pertamina, sumbernya didominasi oleh beberapa faktor berikut:
1. Konsumsi listrik yang tinggi
Ini adalah penyebab paling besar. Penggunaan AC, lampu, lift, komputer, hingga peralatan laboratorium menyumbang emisi signifikan, terutama jika listrik masih berasal dari energi fosil. Operasional gedung kampus yang berlangsung hampir sepanjang hari membuat konsumsi energi menjadi sangat besar.
2. Transportasi civitas akademika
Mobilitas mahasiswa, dosen, dan staf terutama yang menggunakan kendaraan pribadi menjadi penyumbang emisi berikutnya. Semakin jauh jarak tempuh dan semakin padat kendaraan, semakin besar jejak karbon yang dihasilkan.
3. Timbulan limbah (sampah)
Sampah dari kantin, plastik sekali pakai, hingga limbah kertas turut menghasilkan emisi, baik dari proses pembusukan (menghasilkan gas metana) maupun dari pengelolaannya.
4. Konsumsi dan gaya hidup di kampus
Penggunaan kertas berlebih, pembelian makanan/minuman sekali pakai, hingga kebiasaan boros energi juga memperbesar jejak karbon secara tidak langsung.
5. Infrastruktur dan sistem energi
Desain bangunan yang kurang efisien energi serta belum optimalnya penggunaan energi terbarukan membuat konsumsi energi menjadi lebih tinggi dari yang seharusnya.
Secara umum, listrik menjadi penyebab utama jejak karbon di kampus, jauh melampaui faktor lainnya. Karena itu, upaya pengurangan emisi biasanya difokuskan pada efisiensi energi, diikuti dengan perbaikan sistem transportasi dan pengelolaan limbah.
Pentingnya Data sebagai Titik Awal Menuju Kampus Berkelanjutan
Meski angka emisi per kapita yang dihasilkan masih tergolong relatif rendah jika dibandingkan dengan rata-rata global, data ini memiliki peran penting sebagai titik awal. Dengan adanya baseline yang jelas, kampus dapat melakukan pemantauan, evaluasi, serta merancang strategi pengurangan emisi secara lebih terarah.
Lebih jauh, upaya ini sejalan dengan konsep green campus yang mendorong efisiensi energi, pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan, serta peningkatan kesadaran lingkungan di kalangan civitas akademika. Perguruan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan, tetapi juga memiliki peran strategis dalam membentuk pola pikir dan perilaku yang lebih ramah lingkungan.
Melalui pemahaman terhadap penyebab jejak karbon, kampus memiliki peluang besar untuk mengambil langkah nyata dalam menekan emisi. Dari optimalisasi penggunaan listrik hingga perubahan pola mobilitas, setiap upaya kecil dapat berkontribusi dalam menciptakan lingkungan kampus yang lebih berkelanjutan sekaligus mendukung agenda global dalam menghadapi perubahan iklim.
Upaya pengukuran dan pengurangan jejak karbon di lingkungan kampus juga selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 13 yang berfokus pada penanganan perubahan iklim dan SDG 7 tentang energi bersih dan terjangkau.
Secara sederhana, SDG 13 mendorong setiap pihak untuk menekan emisi gas rumah kaca termasuk dari aktivitas kampus seperti penggunaan listrik, transportasi, dan pengelolaan limbah yang menjadi sumber utama jejak karbon di Universitas Pertamina.
Sementara itu, SDG 7 berkaitan dengan upaya penggunaan energi yang lebih efisien dan beralih ke sumber energi yang lebih ramah lingkungan, yang relevan dengan temuan bahwa konsumsi listrik menjadi penyumbang terbesar emisi di kampus.
Dalam konteks ini, pendekatan berbasis sains dan teknologi menjadi kunci, termasuk peran Program Studi Teknik Kimia yang berkontribusi dalam pengembangan sistem energi yang lebih efisien, optimalisasi proses, hingga inovasi teknologi rendah emisi.
Melalui integrasi pendidikan, riset, dan praktik berkelanjutan, Universitas Pertamina tidak hanya berupaya menekan jejak karbonnya, tetapi juga membekali mahasiswa dengan pemahaman dan keterampilan untuk menghadapi tantangan energi dan lingkungan di masa depan.
Jika kamu tertarik memahami dan mengembangkan solusi untuk mengurangi jejak karbon mulai dari efisiensi energi, pengelolaan limbah, hingga inovasi teknologi rendah emisi, Program Studi Teknik Kimia di Universitas Pertamina bisa menjadi langkah awal untuk berkontribusi di bidang keberlanjutan.
Daftar Pustaka:
Ridhosari, B., & Rahman, A. (2020). Carbon footprint assessment at Universitas Pertamina from the scope of electricity, transportation, and waste generation: Toward a green campus and promotion of environmental sustainability. Journal of Cleaner Production, 246, 119172.