Pernah membuang sisa nasi, sayur, atau lauk setelah makan? Bagi sebagian orang, makanan yang tersisa mungkin terlihat seperti sampah biasa. Padahal, ketika dikumpulkan dalam jumlah besar, sampah makanan menjadi persoalan lingkungan yang tidak sederhana.
Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan, dari 278 kabupaten/kota yang melaporkan data pada 2025, timbulan sampah mencapai sekitar 29,2 juta ton per tahun. Dari jumlah tersebut, baru sekitar 32,9 persen yang tercatat terkelola, sementara 67,1 persen masih belum terkelola. Data ini menunjukkan bahwa pengurangan dan pengolahan sampah sejak dari sumber masih menjadi pekerjaan penting dalam pengelolaan lingkungan di Indonesia.
Salah satu jenis sampah yang perlu mendapat perhatian adalah sampah makanan. Berbeda dari plastik atau logam, sisa makanan merupakan material organik yang mudah terurai. Jika dikelola dengan tepat, material tersebut sebenarnya masih dapat dimanfaatkan kembali, salah satunya melalui proses komposting.
Lantas, mengapa sampah makanan sebaiknya tidak langsung berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA)?
Sampah Makanan Bukan Sekadar Sampah
Sampah makanan memiliki kandungan organik dan air yang tinggi sehingga mudah mengalami proses penguraian. Ketika material organik menumpuk dan terurai dalam kondisi tanpa cukup oksigen, proses tersebut dapat menghasilkan metana, yaitu salah satu gas rumah kaca yang berkontribusi terhadap perubahan iklim.
Karena itu, semakin banyak sampah makanan yang dibuang dan menumpuk di TPA, semakin besar pula potensi persoalan lingkungan yang perlu ditangani.
Padahal, ada pilihan lain.
Alih-alih langsung membuang sisa makanan, material organik tersebut dapat dikembalikan ke dalam siklus pemanfaatan melalui komposting. Sederhananya, sampah makanan diolah melalui proses biologis hingga menjadi kompos yang dapat dimanfaatkan kembali.
Pendekatan ini juga sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular. Dalam ekonomi sirkular, material tidak langsung dianggap sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi diupayakan agar tetap memiliki nilai dan dapat dimanfaatkan kembali selama mungkin.
Namun, mengolah sampah makanan menjadi kompos ternyata tidak sesederhana memasukkannya ke wadah kompos dan menunggu sampai terurai.
Tantangannya Ada pada Kandungan Air
Salah satu persoalan yang perlu diperhatikan dalam pengolahan sampah makanan adalah kadar airnya yang tinggi.
Kondisi tersebut dapat memengaruhi efisiensi proses pengolahan. Karena itu, sampah makanan dapat membutuhkan proses awal atau pra-pengolahan sebelum masuk ke tahap komposting. Pra-pengolahan ini dapat membantu mengurangi kadar air, massa, dan volume sampah sekaligus membuat material lebih stabil untuk diproses lebih lanjut.
Melalui penelitian berjudul “Sustainable Design of a Composting Pre-treatment System for Food Waste Management in Campus Setting”, keduanya mengkaji bagaimana sistem pra-pengolahan sampah makanan dapat dirancang agar sesuai dengan kondisi lingkungan kampus.
Kalau Kampus Saja Menghasilkan Hampir 200 Kg Sampah Makanan Sehari
Penelitian tersebut mengambil kondisi Universitas Pertamina sebagai studi kasus.
Hasil kajian menunjukkan, lingkungan kampus menghasilkan sekitar 605,21 kilogram sampah per hari. Dari jumlah tersebut, sampah makanan mencapai 190,68 kilogram per hari, atau sekitar 31,5 persen dari total timbulan sampah. Sampah berasal dari berbagai aktivitas sivitas akademika, termasuk kegiatan di kantin, ruang kelas, dan area perkantoran.
Bayangkan jika jumlah tersebut terus menumpuk setiap hari. Persoalannya bukan hanya seberapa banyak sampah yang dihasilkan, tetapi juga bagaimana sampah tersebut dapat dikelola sesuai karakteristiknya.
Dalam rancangan yang dikaji peneliti, sampah yang dikumpulkan dari berbagai sumber di kampus terlebih dahulu dibawa ke tempat penampungan sementara untuk kemudian dipilah menjadi sampah organik, anorganik, dan limbah berbahaya. Sampah organik, terutama sisa makanan, selanjutnya masuk ke tahap pra-pengolahan.
Dari sini terlihat bahwa pengelolaan sampah tidak dimulai ketika sampah sudah berada di TPA. Pengelolaan justru perlu dimulai sejak sampah dihasilkan dan dipilah.
Mencari Cara yang Paling Sesuai
Untuk menemukan metode pra-pengolahan yang paling sesuai, penelitian tersebut membandingkan tiga alternatif, yaitu pengeringan menggunakan sinar matahari, pengeringan dengan oven, dan pengepresan secara mekanis.
Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.
Pengeringan dengan sinar matahari relatif sederhana dan tidak membutuhkan energi listrik, tetapi membutuhkan ruang lebih luas dan bergantung pada kondisi cuaca. Sementara itu, pengepresan mekanis dapat mengurangi kadar air dan volume dengan waktu pengolahan yang lebih singkat.
Setelah dibandingkan berdasarkan sejumlah pertimbangan, termasuk efisiensi pengurangan kadar air, kebutuhan lahan, dan waktu pengolahan, pengeringan menggunakan oven dipilih sebagai metode yang paling sesuai dengan kondisi kampus.
Rancangan tersebut diperkirakan dapat mengurangi kadar air sampah hingga sekitar 60 persen dengan waktu pengeringan sekitar tiga jam. Sistem juga dirancang secara vertikal agar dapat memanfaatkan lahan kampus yang terbatas secara lebih efisien.
Perlu digarisbawahi, oven dalam penelitian ini bukanlah alat yang langsung mengubah sampah makanan menjadi kompos. Pengeringan merupakan tahap pra-pengolahan untuk mempersiapkan sampah makanan sebelum masuk ke proses pengolahan berikutnya, termasuk komposting. Sistem tersebut dirancang untuk mengurangi kadar air, massa, dan volume material sekaligus meningkatkan kesiapan sampah untuk proses lebih lanjut.
Dari Sisa Makanan ke Solusi Lingkungan
Apa yang dilakukan peneliti UPER menunjukkan bahwa persoalan sampah makanan membutuhkan pendekatan yang lebih luas daripada sekadar menyediakan tempat sampah.
Ada karakteristik material yang harus dipahami. Ada teknologi yang perlu dipilih. Ada kebutuhan lahan dan kapasitas yang harus dihitung. Ada pula sistem pemilahan, operasional, keselamatan, hingga evaluasi dampak lingkungan yang perlu dirancang.
Di sinilah Teknik Lingkungan memiliki peran.
Teknik Lingkungan bukan hanya tentang bagaimana membersihkan lingkungan yang sudah tercemar. Bidang ini juga mempelajari bagaimana merancang teknologi dan sistem untuk mencegah pencemaran serta mengelola berbagai persoalan lingkungan secara berkelanjutan.
Di Universitas Pertamina, Program Studi Teknik Lingkungan mempelajari perancangan teknologi, rekayasa proses, serta pengelolaan sistem untuk menjaga kualitas lingkungan. Mahasiswa juga mempelajari penerapan ilmu pengetahuan, teknologi, dan manajemen lingkungan, termasuk dalam pengelolaan limbah dan sumber daya secara berkelanjutan.
Pendekatan tersebut juga diterapkan melalui pembelajaran berbasis persoalan nyata. Salah satunya melalui Proyek Terintegrasi Berbasis Lingkungan, yang mendorong mahasiswa merancang solusi terhadap permasalahan di bidang Teknik Lingkungan dengan mempertimbangkan aspek masyarakat, kesehatan dan keselamatan, lingkungan, serta ekonomi.
Artinya, persoalan seperti sampah makanan dapat menjadi ruang belajar yang nyata bagi mahasiswa untuk memahami bagaimana ilmu teknik digunakan untuk menjawab kebutuhan lingkungan.
Dari sebuah sisa makanan di piring, pertanyaannya pun dapat berkembang dari sekadar “akan dibuang ke mana?” menjadi “bagaimana material ini dapat dimanfaatkan kembali, teknologi apa yang paling tepat, dan bagaimana sistem pengelolaannya dapat berjalan secara berkelanjutan?”
Ketika Sampah Tidak Lagi Dipandang Sebagai Akhir
Mengurangi sampah makanan tidak selalu berarti menemukan teknologi yang paling rumit. Langkah awalnya justru dapat dimulai dari hal yang sederhana: mengurangi makanan yang terbuang, memilah sampah dari sumber, dan memastikan material organik yang masih dapat dimanfaatkan tidak langsung berakhir di TPA.
Dari sana, teknologi dan rekayasa dapat mengambil peran untuk membuat proses pengolahan menjadi lebih efektif.
Penelitian tentang pra-pengolahan sampah makanan di Universitas Pertamina menjadi salah satu contoh bagaimana persoalan lingkungan di sekitar kita dapat dikaji secara ilmiah untuk menghasilkan rancangan solusi yang lebih sesuai dengan kondisi nyata. Penelitian tersebut juga menempatkan pengelolaan sampah makanan sebagai bagian dari upaya mendukung ekonomi sirkular dan mitigasi perubahan iklim.
Upaya mengubah sampah makanan menjadi sumber daya menunjukkan bahwa persoalan lingkungan membutuhkan solusi yang tidak hanya berorientasi pada pengelolaan limbah, tetapi juga pada inovasi, teknologi, dan keberlanjutan. Semangat tersebut sejalan dengan SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab serta SDG 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim, sekaligus mendukung Asta Cita ke-8 dalam menjaga keselarasan kehidupan dengan lingkungan alam.
Melalui riset dan pembelajaran yang berangkat dari persoalan nyata, Universitas Pertamina (UPER) terus mendorong lahirnya inovasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan sebagai bagian dari semangat UPER Berdampak. Bagi kamu yang tertarik memahami bagaimana ilmu pengetahuan dan teknologi dapat digunakan untuk menjawab tantangan lingkungan, Program Studi Teknik Lingkungan UPER dapat menjadi ruang untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman melalui pembelajaran serta riset yang relevan dengan kebutuhan industri dan masyarakat.
Tertarik ikut menjadi bagian dari generasi yang menghadirkan solusi untuk lingkungan dan masa depan yang berkelanjutan? Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Universitas Pertamina telah dibuka. Informasi lengkap mengenai program studi, jalur pendaftaran, dan proses seleksi dapat diakses melalui link ini.
Referensi:
Ulhasanah, N., & Wayan Koko Suryawan, I. (2025,). Sustainable design of a composting pre-treatment system for food waste management in campus setting. In IOP Conference Series: Earth and Environmental Science (Vol. 1542, No. 1, p. 012025). IOP Publishing.
Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional. (2025). Statistik Pengelolaan Sampah. https://sampahnasional.kemenlh.go.id/portal-indikatif/