ID / EN
Berita Populer

Mengapa Rantai Pasok Industri Migas Perlu Terus Dioptimalkan? Dosen UPER Jelaskan Alasannya


Published by: Universitas Pertamina Kamis, 6 Agustus 2026
Dibaca: 16 kali
Industri minyak dan gas bumi (migas) menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari menjaga tingkat produksi, meningkatkan efisiensi operasional, hingga menghadapi volatilitas pasar energi global. Di Indonesia, tantangan tersebut semakin relevan seiring target peningkatan lifting nasional. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat lifting minyak bumi sepanjang 2025 mencapai 605,3 ribu barel per hari, sedikit melampaui target APBN sebesar 605 ribu barel per hari. Pemerintah juga menetapkan target lifting minyak sebesar 610 ribu barel per hari pada 2026 dan secara bertahap mendorong peningkatan produksi hingga 1 juta barel per hari pada 2030.

Target tersebut menunjukkan bahwa penguatan industri migas tidak hanya bergantung pada kemampuan meningkatkan produksi di sisi hulu. Efisiensi dan keandalan rantai pasok industri migas juga menjadi bagian penting untuk memastikan material, peralatan, produk energi, hingga kebutuhan operasional dapat bergerak secara tepat waktu, efisien, dan aman.

Rantai Pasok Migas Tidak Berhenti di Produksi

Dalam industri migas, rantai pasok mencakup rangkaian aktivitas yang saling terhubung dari hulu hingga hilir. Dosen Program Studi Teknik Logistik Universitas Pertamina, Yelita Anggiane Iskandar, S.T., M.T., melalui penelitian berjudul “Mapping Research Trends in Oil Supply Chain Optimization: A Bibliometric Analysis”, menjelaskan bahwa rantai pasok minyak secara umum terbagi dalam tiga tahapan utama, yakni logistik hulu, tengah, dan hilir.

Pada tahap hulu, logistik memastikan fasilitas eksplorasi dan produksi memperoleh material, peralatan, serta kebutuhan operasional yang diperlukan. Selanjutnya, tahap tengah mencakup aktivitas transportasi, penyimpanan, dan pemrosesan. Sementara itu, tahap hilir berfokus pada distribusi produk hasil pengolahan kepada konsumen.

Artinya, gangguan pada satu titik dapat memberikan dampak berantai terhadap keseluruhan sistem. Keterlambatan pengiriman peralatan, keterbatasan kapasitas penyimpanan, ketidaktepatan perencanaan persediaan, hingga pemilihan moda transportasi yang tidak optimal dapat meningkatkan biaya dan mengurangi efisiensi operasional.

Mengapa Optimalisasi Rantai Pasok Migas Menjadi Penting?

Menurut penelitian Yelita, industri minyak beroperasi dalam lingkungan yang semakin kompetitif sehingga peningkatan efisiensi, terutama dalam aspek logistik transportasi, menjadi semakin penting. Namun, penelitian mengenai optimalisasi rantai pasok minyak masih relatif terbatas.

Kajian bibliometrik tersebut menemukan 78 publikasi terkait optimalisasi rantai pasok minyak sejak 2014 hingga periode penelitian, dengan sebagian besar literatur lebih banyak berfokus pada bidang pertambangan dan teknik dibandingkan perspektif logistik. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa kata kunci optimisasi dan produksi masih memiliki keterkaitan yang relatif lemah dengan literatur rantai pasok minyak dan gas.

Temuan tersebut memperlihatkan adanya ruang pengembangan yang besar bagi pendekatan logistik dalam industri migas. Optimalisasi tidak semata-mata berarti menekan biaya transportasi, tetapi bagaimana keseluruhan jaringan rantai pasok dapat dirancang agar lebih efisien, tangguh, responsif, dan mampu beradaptasi terhadap perubahan kondisi.

Peran Teknik Logistik dalam Menjawab Tantangan Industri Energi

Kebutuhan terhadap kompetensi tersebut menjadi salah satu alasan Program Studi Teknik Logistik Universitas Pertamina (UPER) dikembangkan dengan kekhususan pada sektor energi. Program studi ini memiliki visi keilmuan untuk menjadi pusat pengembangan ilmu, penelitian, dan penerapan Logistics and Supply Chain Engineering dengan spesialisasi sektor energi.

Mahasiswa tidak hanya dipersiapkan memahami konsep rantai pasok secara umum, tetapi juga diarahkan untuk memahami konteks industri energi melalui peminatan Rantai Pasok Global, Logistik Energi Berkelanjutan, dan Logistik Maritim. Program studi ini juga membuka kesempatan kerja praktik, magang industri, dan pengerjaan studi kasus secara langsung di lingkungan PT Pertamina dan anak perusahaannya.

Dengan kompetensi tersebut, lulusan Teknik Logistik dapat memiliki prospek karier sebagai Supply Chain Analyst, Logistics Energy Specialist, Logistics Operation Engineer, Procurement Engineer, Supply and Inventory Planner, Network Optimization Engineer, hingga Logistics Manager.

Mendukung Asta Cita dan Pembangunan Berkelanjutan

Optimalisasi rantai pasok industri migas juga memiliki keterkaitan dengan agenda pembangunan nasional. Pemerintah menempatkan ketahanan energi dan kemandirian energi sebagai bagian penting dalam Asta Cita. Kementerian ESDM menegaskan bahwa peningkatan lifting, penguatan produksi, pemanfaatan teknologi, serta pengembangan sektor hulu menjadi bagian dari upaya mencapai ketahanan energi nasional.

Di sisi lain, pengembangan rantai pasok yang efisien dan tangguh sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 9 tentang pembangunan infrastruktur yang tangguh, industrialisasi berkelanjutan, dan inovasi, serta SDG 12 mengenai pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan. Penguatan efisiensi transportasi, pengelolaan persediaan, pemanfaatan teknologi, dan pengurangan pemborosan dalam rantai pasok dapat menjadi bagian dari upaya tersebut.

Pada akhirnya, optimalisasi rantai pasok industri migas bukan sekadar persoalan bagaimana barang dapat dikirim dari satu lokasi ke lokasi lain. Di dalamnya terdapat proses perencanaan, pengelolaan risiko, pemanfaatan teknologi, pengendalian biaya, hingga pengambilan keputusan berbasis data yang menentukan seberapa efisien dan tangguh sebuah sistem energi dapat beroperasi. Karena itu, kebutuhan terhadap tenaga profesional yang mampu mengintegrasikan ilmu teknik, logistik, dan karakteristik bisnis energi akan semakin strategis.

Bagi generasi muda yang ingin berkontribusi pada pengembangan sistem logistik dan rantai pasok industri energi, Program Studi Teknik Logistik Universitas Pertamina dapat menjadi pilihan untuk membangun kompetensi tersebut melalui pendidikan yang berorientasi pada teknologi dan bisnis energi. Informasi program studi dan kesempatan pendaftaran mahasiswa baru dapat diakses melalui halaman resmi PMB Universitas Pertamina.

Foto: Pertamina.com
Sumber: 
- Kementerian ESDM RI — capaian lifting minyak 2025 dan target peningkatan produksi nasional. 
https://esdm.go.id/id/media-center/arsip-berita/pertama-kalinya-dalam-9-tahun-lifting-minyak-bumi-lewati-target-apbn
- Yelita Anggiane Iskandar (Universitas Pertamina) — Mapping Research Trends in Oil Supply Chain Optimization: A Bibliometric Analysis, https://journals.upi-yai.ac.id/index.php/ikraith-teknologi/article/view/5344
- Program Studi Teknik Logistik Universitas Pertamina — https://universitaspertamina.ac.id/index.php/prodi/teknik-logistik
- United Nations SDGs — SDG 9, SDG 12, dan SDG 13. Sustainable Development Goals
https://sdgs.un.org/goals

Thumbnail
Bagikan:
Bagikan ke WhatsApp
Bagikan ke Facebook
Bagikan ke X
Bagikan ke Telegram
Bagikan ke LinkedIn

Tinggalkan Balasan
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalan UU ITE

© 2026 Universitas Pertamina.
All rights reserved