Perubahan iklim tidak lagi menjadi isu lingkungan yang berdiri sendiri. Dampaknya telah merambah berbagai sektor kehidupan, mulai dari ekonomi, energi, pangan, kesehatan hingga kondisi sosial masyarakat. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) dalam Sixth Assessment Report menyatakan bahwa aktivitas manusia, terutama emisi gas rumah kaca, secara tegas telah menyebabkan pemanasan global. Pada periode 2011–2020, suhu permukaan global telah mencapai sekitar 1,1°C di atas tingkat 1850–1900. IPCC juga mencatat bahwa perubahan iklim telah memengaruhi berbagai kejadian cuaca dan iklim ekstrem di seluruh dunia serta menimbulkan dampak terhadap ketahanan pangan dan air, kesehatan manusia, ekonomi, dan kehidupan masyarakat.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pembahasan mengenai perubahan iklim perlu ditempatkan dalam perspektif yang lebih luas. Persoalan iklim bukan semata-mata mengenai peningkatan temperatur atau perubahan pola cuaca, tetapi juga berkaitan dengan kemampuan suatu negara dan masyarakat dalam mempertahankan produktivitas, menjaga ketahanan energi, mengelola sumber daya alam, serta beradaptasi terhadap perubahan lingkungan.
Dampak Perubahan Iklim terhadap Ekonomi
Salah satu dampak yang semakin menjadi perhatian adalah konsekuensi perubahan iklim terhadap perekonomian. IPCC mencatat bahwa dampak ekonomi akibat perubahan iklim telah teridentifikasi pada berbagai sektor yang sensitif terhadap kondisi iklim, termasuk pertanian, kehutanan, perikanan, energi, pariwisata, serta produktivitas tenaga kerja di luar ruangan. Perubahan iklim juga dapat memengaruhi kehidupan masyarakat melalui penurunan produktivitas pertanian, gangguan kesehatan, kerusakan rumah dan infrastruktur, serta hilangnya pendapatan dan aset.
Bagi Indonesia, kondisi geografis sebagai negara kepulauan membuat isu ketahanan lingkungan memiliki kaitan erat dengan pembangunan ekonomi. Perubahan pola curah hujan, kenaikan suhu, banjir, kekeringan, serta berbagai risiko hidrometeorologi dapat memberikan tekanan terhadap infrastruktur dan aktivitas ekonomi apabila tidak diantisipasi melalui kebijakan adaptasi dan mitigasi yang memadai.
Perubahan Iklim dan Tantangan Sektor Energi
Kementerian PPN/Bappenas mencatat bahwa RPJPN 2025–2045 menargetkan bauran energi baru terbarukan mencapai 70 persen pada 2045. Strategi menuju ketahanan energi tersebut mencakup peningkatan efisiensi energi, diversifikasi sumber energi, serta pengembangan berbagai teknologi rendah karbon, termasuk energi terbarukan, hidrogen rendah karbon, dan teknologi Carbon Capture, Storage/Carbon Capture, Utilization and Storage (CCS/CCUS).
Perubahan tersebut menciptakan kebutuhan terhadap sumber daya manusia yang mampu memahami hubungan antara teknologi, energi dan lingkungan. Pengelolaan dampak lingkungan dari kegiatan industri energi, misalnya, membutuhkan pendekatan multidisiplin yang mencakup aspek rekayasa, pengendalian pencemaran, pengelolaan sumber daya, hingga evaluasi dampak lingkungan.
Dampak terhadap Kehidupan Masyarakat
IPCC menyebut bahwa perubahan iklim telah memberikan dampak terhadap kesehatan fisik manusia secara global. Peningkatan kejadian panas ekstrem, penyakit yang ditularkan melalui air dan makanan, serta perubahan persebaran penyakit yang ditularkan melalui vektor merupakan beberapa risiko yang telah diidentifikasi dalam kajian ilmiah.
Situasi tersebut menunjukkan pentingnya pendekatan adaptasi. Masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk menghadapi perubahan kondisi lingkungan, sementara pemerintah dan sektor industri perlu membangun sistem yang lebih tangguh. Pengelolaan air, kualitas udara, sanitasi, limbah, tata ruang, hingga perlindungan ekosistem menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya membangun ketahanan masyarakat.
Peran Teknik Lingkungan dalam Menjawab Perubahan Iklim
Kompleksitas perubahan iklim membutuhkan tenaga profesional yang tidak hanya memahami persoalan lingkungan secara teoritis, tetapi juga mampu merancang solusi berbasis sains dan teknologi. Di sinilah bidang Teknik Lingkungan memiliki peran strategis.
Teknik Lingkungan mencakup berbagai pendekatan untuk mencegah dan mengendalikan risiko terhadap lingkungan, termasuk pengelolaan limbah, penyediaan air bersih, pengendalian pencemaran, serta pengelolaan sistem lingkungan secara berkelanjutan. Kompetensi tersebut semakin relevan ketika industri dituntut untuk meningkatkan efisiensi sumber daya sekaligus mengurangi dampak terhadap lingkungan.
Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Pertamina memiliki fokus keilmuan pada pencegahan dan pengendalian pencemaran lingkungan berbasis sains, teknologi, dan manajemen lingkungan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan. Program studi tersebut juga memiliki visi untuk menunjang kegiatan industri energi serta mengembangkan solusi pengelolaan lingkungan yang relevan dengan kebutuhan industri.
Perubahan Iklim dalam Asta Cita dan SDGs
Upaya menghadapi perubahan iklim juga memiliki keterkaitan dengan agenda pembangunan nasional dan global. Dalam RPJMN 2025–2029, yang merupakan penjabaran dari visi, misi, dan Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden, pembangunan diarahkan antara lain pada penguatan kemandirian energi, ekonomi hijau, serta penyelarasan kehidupan dengan lingkungan dan alam. Bappenas juga menempatkan ekonomi hijau sebagai bagian penting dari strategi pembangunan nasional.
Pada tingkat global, agenda tersebut selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 13: Climate Action yang mendorong penguatan ketahanan dan kapasitas adaptasi terhadap bahaya terkait iklim serta integrasi langkah-langkah perubahan iklim ke dalam kebijakan, strategi, dan perencanaan nasional. Isu perubahan iklim juga berkaitan erat dengan SDG 7 tentang energi bersih dan terjangkau, SDG 11 tentang kota dan permukiman berkelanjutan, serta SDG 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.
Karena itu, menghadapi perubahan iklim membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, industri, perguruan tinggi, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan. Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menghasilkan penelitian, inovasi, dan sumber daya manusia yang mampu menerjemahkan tantangan lingkungan menjadi solusi yang dapat diterapkan.
Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Pertamina dapat menjadi ruang untuk mengembangkan kompetensi tersebut. Dengan orientasi keilmuan yang mendukung industri energi dan pembangunan berkelanjutan, mahasiswa dipersiapkan untuk memahami persoalan lingkungan sekaligus mengembangkan pendekatan teknis dalam pengelolaannya. Tertarik mempelajari teknologi dan rekayasa lingkungan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan? Daftarkan diri Anda melalui laman resmi
Penerimaan Mahasiswa Baru Universitas Pertamina dan mulai perjalanan akademik untuk berkontribusi dalam menjawab tantangan lingkungan dan energi masa depan.
Sumber:
- IPCC — Climate Change 2023: Synthesis Report
https://www.ipcc.ch/report/ar6/syr/
- Kementerian PPN/Bappenas — Menteri PPN/Kepala Bappenas dan Dewan Energi Nasional Perkuat Sinergi Ketahanan Energi Nasional
https://www.bappenas.go.id/index.php/id/berita/menteri-ppnkepala-bappenas-dan-dewan-energi-nasional-perkuat-sinergi-ketahanan-energi-nasional-Vscw0
- United Nations — Sustainable Development Goal 13: Climate Action
https://sdgs.un.org/goals/goal13
- Universitas Pertamina — Program Studi Teknik Lingkungan
https://universitaspertamina.ac.id/prodi/teknik-lingkungan