Indonesia terus memperkuat sektor pertanian untuk menjaga ketahanan pangan di tengah kebutuhan produksi yang semakin besar. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi padi Indonesia pada 2025 mencapai 60,21 juta ton Gabah Kering Giling (GKG), meningkat 13,29 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Capaian tersebut menunjukkan besarnya kapasitas sektor pertanian nasional, sekaligus menegaskan pentingnya menjaga produktivitas melalui teknologi yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Di tengah kebutuhan tersebut, pertanian mulai bergerak dari cara-cara konvensional menuju sistem yang lebih terukur. Sensor, otomasi, konektivitas internet, hingga energi terbarukan mulai digunakan untuk membantu petani memantau kondisi tanaman, mengatur penggunaan energi, dan mengambil keputusan berdasarkan data. Konsep inilah yang kemudian dikenal sebagai smart farming.
Menariknya, transformasi tersebut tidak hanya membutuhkan teknologi pertanian, tetapi juga keahlian di bidang kelistrikan, sistem kendali, energi terbarukan, dan Internet of Things (IoT). Salah satu contohnya terlihat pada penerapan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang terintegrasi dengan IoT untuk mendukung usaha hidroponik.
Ketika Pertanian Bertemu Energi Surya dan IoT
Hidroponik menjadi salah satu bentuk pertanian modern yang menarik karena dapat dilakukan pada lahan terbatas dengan penggunaan air yang lebih terkontrol. Namun, sistem ini juga memiliki kebutuhan energi yang cukup besar untuk mengoperasikan pompa air, aerator, pencahayaan, hingga perangkat sensor.
Kondisi tersebut ditemukan pada Pagifarm Bogor. Dalam penelitian bertajuk “Sinergi Energi Terbarukan dan Pertanian Modern: Penerapan PLTS untuk Meningkatkan Kinerja Usaha Hidroponik di Pagifarm Bogor”, tim dosen Program Studi Teknik Elektro Universitas Pertamina kemudian mengembangkan penerapan PLTS yang terintegrasi dengan sistem monitoring berbasis IoT untuk membantu meningkatkan efisiensi energi sekaligus mendukung produktivitas usaha hidroponik.
Sebelum penerapan teknologi, sistem hidroponik Pagifarm bergantung pada pasokan listrik konvensional dengan konsumsi rata-rata sekitar 2,1 kWh per hari. Listrik tersebut digunakan untuk menjalankan berbagai perangkat yang menjaga proses budidaya tetap berlangsung, mulai dari pompa air, aerator, pencahayaan, hingga sensor monitoring.
Untuk mengatasinya, tim memasang PLTS berkapasitas 1.000 Wp dengan baterai penyimpanan 1.200 Wh. Sistem tersebut dibuat dalam konfigurasi hibrida yang dapat memanfaatkan PLTS maupun listrik PLN, sehingga operasional tetap dapat berjalan ketika kondisi cuaca kurang mendukung.
Tidak berhenti pada penyediaan sumber energi, sistem tersebut juga dilengkapi monitoring berbasis IoT. Melalui sistem ini, produksi energi panel, konsumsi beban, serta performa sistem hidroponik dapat dipantau secara real-time.
Dengan kata lain, PLTS berperan sebagai sumber energi bersih, sementara IoT menjadi "mata" yang membantu pengguna mengetahui bagaimana energi tersebut diproduksi dan digunakan.
Bukan Cuma Hemat Listrik, Panen Juga Meningkat
Penerapan teknologi tersebut menunjukkan hasil yang cukup signifikan. Penggunaan listrik dari PLN berhasil dikurangi hingga 70 persen, dari sekitar 2,1 kWh menjadi 0,6 kWh per hari. Penurunan konsumsi energi tersebut turut membuat biaya listrik bulanan turun dari sekitar Rp300.000 menjadi Rp90.000.
Yang menarik, manfaatnya juga terlihat pada produktivitas tanaman.
Sebelum menggunakan PLTS, siklus panen sayuran seperti selada, kangkung, dan bayam merah berlangsung sekitar 30–33 hari dengan kapasitas rata-rata 400–500 tanaman per siklus. Setelah sistem diterapkan, siklus panen menjadi lebih konsisten pada 28–30 hari, dengan peningkatan hasil panen hingga 15 persen.
Sistem PLTS menghasilkan rata-rata sekitar 4–4,5 kWh listrik per hari pada kondisi penyinaran optimal. Energi tersebut digunakan untuk mendukung operasional pompa nutrisi, aerator, dan perangkat monitoring suhu serta kelembapan. Efisiensi sistem yang diterapkan mencapai sekitar 85 persen untuk skala usaha mikro.
Sementara itu, IoT membantu mengubah data menjadi informasi yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan. Sistem monitoring mencatat produksi energi panel dan konsumsi beban secara real-time, sehingga pengelola dapat mengetahui pola penggunaan energi dan menyesuaikan operasional dengan lebih presisi.
Bahkan setelah program selesai, mitra tetap dapat melakukan pemantauan secara mandiri. Sistem IoT memungkinkan performa PLTS dipantau tanpa harus selalu melakukan pemeriksaan fisik terhadap setiap komponen.
Hasil tersebut memperlihatkan satu hal penting: pertanian modern bukan hanya tentang menghasilkan lebih banyak, tetapi juga bagaimana menghasilkan secara lebih efisien.
Kenapa Teknik Elektro Punya Peran Penting?
Kalau melihat cara kerja sistem tersebut, jelas bahwa transformasi pertanian tidak dapat dilepaskan dari bidang Teknik Elektro.
Bayangkan sebuah kebun hidroponik yang dapat menghasilkan listrik sendiri dari sinar matahari. Panel surya menangkap energi matahari, inverter mengubah energi tersebut agar dapat digunakan oleh perangkat listrik, baterai menyimpan energi, sementara sensor dan perangkat IoT mengirimkan data mengenai kondisi sistem.
Semua perangkat tersebut harus dapat bekerja secara terintegrasi.
Di sinilah kompetensi Teknik Elektro dibutuhkan, mulai dari perancangan sistem kelistrikan, elektronika, instrumentasi, sistem kendali, otomasi, hingga pengembangan perangkat IoT. Teknologi yang terlihat sederhana dari sisi pengguna sebenarnya membutuhkan sistem yang cukup kompleks di belakangnya.
Perkembangan energi terbarukan juga membuat kebutuhan terhadap kompetensi tersebut semakin besar. Kementerian ESDM mencatat Indonesia memiliki potensi energi surya sekitar 3.294 GWp, sementara pemanfaatannya hingga akhir 2024 masih sekitar 912 MW. Besarnya kesenjangan antara potensi dan pemanfaatan menunjukkan masih terbuka ruang yang luas untuk pengembangan teknologi energi surya di berbagai sektor.
Pertanian menjadi salah satu sektor yang dapat memanfaatkan peluang tersebut. PLTS dapat menyediakan energi untuk berbagai kebutuhan operasional, sementara IoT memungkinkan penggunaan energi dan kondisi sistem dipantau secara lebih presisi.
Karena itu, seorang calon engineer Teknik Elektro tidak hanya dituntut memahami bagaimana listrik mengalir, tetapi juga bagaimana teknologi kelistrikan dapat diintegrasikan dengan kebutuhan dunia nyata.
Dari PLTS sampai IoT, Dipelajari di Teknik Elektro UPER
Kebutuhan terhadap kompetensi tersebut juga tercermin dalam pengembangan Program Studi Teknik Elektro Universitas Pertamina. Program studi ini memiliki dua peminatan yang sangat relevan dengan perkembangan smart farming, yaitu Automation and Internet of Things serta Electrical Sustainable Energy. Keduanya menghubungkan kompetensi kelistrikan dengan perkembangan otomasi, IoT, dan energi baru terbarukan.
Dukungan pembelajaran juga hadir melalui fasilitas laboratorium. Laboratorium Teknik Elektro Lanjut, misalnya, digunakan untuk penelitian dan tugas akhir di bidang Electrical Sustainable Energy serta Automation and Internet of Things. Laboratorium ini dilengkapi solar cell trainer dan fasilitas yang mendukung penelitian energi baru terbarukan serta sel surya.
Artinya, mahasiswa memiliki ruang untuk mempelajari teknologi yang tidak hanya relevan dengan sistem kelistrikan, tetapi juga dengan kebutuhan industri masa depan.
Pengembangan kompetensi tersebut dapat diarahkan pada berbagai persoalan nyata, termasuk bagaimana menciptakan sistem energi yang lebih bersih, membuat perangkat bekerja secara otomatis, mengembangkan sistem monitoring berbasis IoT, hingga mengintegrasikan teknologi untuk meningkatkan efisiensi suatu proses.
Kasus Pagifarm menjadi salah satu contoh bagaimana keilmuan tersebut dapat diterapkan secara langsung. Teknologi yang dikembangkan tidak berhenti sebagai konsep, tetapi menghasilkan penurunan konsumsi listrik, penghematan biaya, peningkatan produktivitas tanaman, sekaligus meningkatkan kemampuan mitra dalam mengelola teknologi secara mandiri.
Saat Teknologi Membantu Mewujudkan Pertanian Berkelanjutan
Perpaduan PLTS dan IoT pada pertanian menunjukkan bahwa teknologi dapat menjadi penghubung antara kebutuhan energi dan kebutuhan pangan. Energi matahari dimanfaatkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap listrik konvensional, sementara data dari sistem IoT membantu proses budidaya berjalan lebih terukur.
Pendekatan seperti ini sejalan dengan Asta Cita ke-2, khususnya dalam memperkuat swasembada pangan dan energi sebagai bagian dari pembangunan nasional. Dari sisi Sustainable Development Goals (SDGs), inovasi tersebut juga berkaitan dengan SDG 2: Tanpa Kelaparan melalui penguatan produktivitas dan ketahanan pangan, SDG 7: Energi Bersih dan Terjangkau melalui pemanfaatan energi surya, serta SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui pengembangan teknologi dan sistem berbasis IoT.
Bagi Universitas Pertamina, riset dan inovasi semacam ini menjadi salah satu bentuk bagaimana ilmu pengetahuan diterjemahkan menjadi solusi yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Penerapan PLTS dan IoT di Pagifarm menunjukkan bahwa teknologi dapat hadir untuk menjawab persoalan konkret sekaligus mendorong kemandirian dan keberlanjutan, sejalan dengan semangat UPER Berdampak.
Bagi calon mahasiswa yang tertarik dengan dunia energi terbarukan, otomasi, IoT, dan teknologi kelistrikan, Program Studi Teknik Elektro Universitas Pertamina dapat menjadi ruang untuk mempelajari dan mengembangkan teknologi tersebut secara lebih mendalam. Dari ruang kelas dan laboratorium, mahasiswa dapat mulai membangun kompetensi untuk menjadi bagian dari solusi atas berbagai tantangan energi dan teknologi di masa depan. Informasi penerimaan mahasiswa baru Universitas Pertamina dapat diakses melalui Laman Resmi Penerimaan Mahasiswa Baru Universitas Pertamina.
Referensi:
BPS. (2026). Luas Panen dan Produksi Padi di Indonesia 2025. https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2026/02/02/2545/luas-panen-padi-pada-tahun-2025-mencapai-sekitar-11-32-juta-hektare-dengan-produksi-padi-sebanyak-60-21-juta-ton-gabah-kering-giling--gkg-.html
Prayogi, S., Nugroho, T. A., Pertiwi, N. I., Pramudito, W. A., Marzuki, M. I., Abdillah, M., ... & Muhammad, M. (2025). Sinergi Energi Terbarukan dan Pertanian Modern: Penerapan PLTS untuk Meningkatkan Kinerja Usaha Hidroponik di Pagifarm Bogor. I-Com: Indonesian Community Journal, 5(2), 994-1005.
Kementerian ESDM. (2025). Langkah Awal Realisasi PLTS 100 GW, Menteri Bahlil Temui Perusahaan Solar PV di Tiongkok. https://www.esdm.go.id/en/media-center/news-archives/langkah-awal-realisasi-plts-100-gw-menteri-bahlil-temui-perusahaan-solar-pv-di-tiongkok