ID / EN
Berita Populer

Apakah Energi Nuklir Benar-Benar Bersih? Ini Faktanya!


Published by: Universitas Pertamina Senin, 30 Maret 2026
Dibaca: 151 kali
Wacana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia bukan lagi sekadar rencana jangka panjang. Pemerintah menargetkan PLTN pertama mulai beroperasi pada 2032, sebagai bagian dari strategi transisi menuju energi rendah karbon. Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, PLTN bahkan direncanakan memiliki kapasitas awal sekitar 500 megawatt dan menjadi bagian dari upaya meningkatkan keandalan sistem listrik nasional.

Langkah ini menunjukkan bahwa energi nuklir mulai dipandang sebagai solusi realistis untuk memenuhi kebutuhan listrik yang terus meningkat sekaligus menekan emisi karbon. Namun, apakah energi nuklir benar-benar termasuk energi bersih?

Apa itu Energi Nuklir?

Energi nuklir adalah energi yang dihasilkan dari reaksi pada inti atom, biasanya melalui proses fisi, yaitu pembelahan inti atom berat seperti uranium. Saat inti atom terbelah, energi panas dalam jumlah besar dilepaskan dan digunakan untuk menghasilkan uap yang memutar turbin pembangkit listrik.

Keunggulan utama energi nuklir terletak pada kepadatan energinya yang sangat tinggi. Sejumlah kecil bahan bakar nuklir dapat menghasilkan energi jauh lebih besar dibandingkan bahan bakar fosil seperti batu bara atau minyak.

Rendah Emisi, Tapi Bukan Tanpa Risiko

Proses fisi dalam pembangkitan energi nuklir menghasilkan panas yang digunakan untuk menghasilkan uap dan menggerakkan turbin listrik. Berbeda dengan pembangkit berbahan bakar batu bara atau gas, proses ini tidak menghasilkan emisi karbon secara langsung saat pembangkitan listrik berlangsung. Karena itu, energi nuklir sering dikategorikan sebagai low-carbon energy dan menjadi bagian dari strategi banyak negara untuk mencapai target net-zero emission.

Meski demikian, energi nuklir tetap menimbulkan sejumlah kekhawatiran, terutama terkait dengan:
  • Limbah radioaktif, yang harus disimpan dan dikelola dengan aman dalam jangka waktu sangat panjang karena sifatnya yang berbahaya dan tidak dapat terurai secara cepat.
  • Risiko kecelakaan nuklir, yang meskipun jarang terjadi, dapat menimbulkan dampak besar apabila sistem keselamatan mengalami kegagalan.

Walaupun volume limbah nuklir relatif kecil dibandingkan limbah dari pembangkit fosil, pengelolaannya tetap memerlukan teknologi canggih, standar keselamatan tinggi, serta pengawasan berkelanjutan hingga puluhan bahkan ribuan tahun. Kompleksitas inilah yang membuat teknologi nuklir tidak hanya membutuhkan pemahaman fisika inti, tetapi juga sistem instrumentasi dan pengukuran radiasi yang presisi untuk memastikan keselamatan dan pengendalian reaktor.

Dalam dunia akademik, pemahaman tersebut mulai dibangun melalui eksperimen fisika nuklir yang memungkinkan mahasiswa mempelajari karakteristik radiasi, peluruhan, dan deteksi partikel secara langsung. Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan instrumen sederhana seperti ionization chamber dapat membantu mahasiswa memahami fenomena radiasi sekaligus meningkatkan literasi keselamatan nuklir sejak tahap pendidikan (Saminan et al., 2023).

Kebutuhan akan sistem pengukuran, kontrol, dan proteksi yang andal inilah yang menjadikan bidang teknik elektro memiliki peran penting dalam pengembangan teknologi nuklir. Kompetensi tersebut juga menjadi bagian dari pembelajaran di Program Studi Teknik Elektro Universitas Pertamina, yang membekali mahasiswa dengan pemahaman tentang sistem tenaga listrik, instrumentasi, dan teknologi energi masa depan, termasuk teknologi nuklir.

Pengembangan energi nuklir berkaitan erat dengan SDG 7: Affordable and Clean Energy, karena mampu menyediakan listrik dalam jumlah besar dengan emisi rendah. Selain itu, nuklir juga mendukung upaya pengurangan emisi global yang menjadi bagian dari SDG 13: Climate Action.

Kamu tertarik mempelajari bagaimana listrik dihasilkan, dikendalikan, dan disalurkan, termasuk pada teknologi pembangkit maju seperti nuklir?Program Studi Teknik Elektro Universitas Pertamina bisa menjadi tempat yang tepat untuk mulai mendalami bidang ini.

Informasi lengkap mengenai program studi dan pendaftarannya dapat kamu lihat langsung di laman resmi PMB Universitas Pertamina: https://pmb.universitaspertamina.ac.id

DAFTAR PUSTAKA
Kurnia, E. (2024). Jalan panjang energi nuklir Indonesia di tengah transisi energi. Kompas.id. https://www.kompas.id/artikel/jalan-panjang-energi-nuklir-indonesia-di-tengah-transisi-energi
Saminan, S., Silviana, F., & Prayogi, S. (2023). Experiments in nuclear physics using inexpensive instruments. Journal of Physics: Theories and Applications, 7(2), 168–176. https://doi.org/10.20961/jphystheor-appl.v7i2.78406
Syeirazi, M. K. (2025). Pemerintah mempercepat pembangunan reaktor pembangkit listrik tenaga nuklir di Indonesia. Kompas.id. https://www.kompas.id/artikel/en-selamat-datang-pltn
Uly, Y. A., & Ika, A. (2023). Pemerintah targetkan pembangkit listrik tenaga nuklir beroperasi komersial 2032. Kompas.com. https://money.kompas.com/read/2023/11/16/063000226/pemerintah-targetkan-pembangkit-listrik-tenaga-nuklir-beroperasi-komersial


Thumbnail
Bagikan:
Bagikan ke WhatsApp
Bagikan ke Facebook
Bagikan ke X
Bagikan ke Telegram
Bagikan ke LinkedIn

Tinggalkan Balasan
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalan UU ITE

© 2026 Universitas Pertamina.
All rights reserved