ID / EN
Berita Kampus

Target SDGs 2030 Masih Tertinggal, UPER Dorong Aksi Pembangunan yang Terukur


Published by: Universitas Pertamina Kamis, 8 Oktober 2026
Dibaca: 39 kali
Target pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) 2030 masih menghadapi kesenjangan. Laporan Sustainable Development Goals Report 2025 Perserikatan Bangsa-Bangsa mencatat hanya 18 persen target global yang berada pada jalur pencapaian. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa percepatan pembangunan berkelanjutan tidak cukup berhenti pada komitmen, tetapi membutuhkan aksi yang terencana dan terukur. 
Perspektif tersebut dibahas Universitas Pertamina (UPER) melalui Prominent Lecture Program Studi Magister Sains Keberlanjutan bertajuk “Transisi Keberlanjutan Global” pada Rabu, 23 September 2026.
Menghadirkan Dr. Ir. Rachman Kurniawan, M.Si., Manager Pilar Pembangunan Lingkungan di Sekretariat Nasional SDGs, Kementerian PPN/Bappenas, kegiatan ini membahas bagaimana target pembangunan berkelanjutan dapat diterjemahkan menjadi rencana aksi serta kontribusi konkret dari berbagai pihak. Forum tersebut sekaligus menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memahami perkembangan pencapaian SDGs serta strategi memperkuat aksi pembangunan berkelanjutan di Indonesia.

Di tingkat nasional, capaian SDGs Indonesia menunjukkan perkembangan dengan 152 dari 244 indikator atau 62,7 persen telah tercapai. Sementara itu, 32 indikator masih menunjukkan progres dan 54 indikator memerlukan perhatian khusus. Capaian tersebut menunjukkan bahwa Indonesia telah bergerak dalam memenuhi target SDGs, namun percepatan dan kesinambungan aksi tetap diperlukan untuk memastikan target pembangunan dapat dicapai secara menyeluruh.

Menurut Dr. Rachman, tantangan pembangunan berkelanjutan tidak hanya berkaitan dengan pencapaian indikator, tetapi juga kemampuan membangun transformasi yang mampu merespons berbagai risiko sistemik, termasuk perubahan iklim. 

“Transformasi pembangunan berkelanjutan perlu mengintegrasikan dimensi lingkungan, sosial, dan ekonomi untuk memperkuat ketahanan dalam menghadapi berbagai risiko,” ujarnya.

Untuk memastikan komitmen tersebut diterjemahkan menjadi aksi, penyusunan Rencana Aksi TPB/SDGs atau Renaksi SDGs menjadi salah satu instrumen penting. Dokumen ini memuat indikator, target tahunan, program dan kegiatan, pendanaan, lokasi, hingga instansi pelaksana. Dengan komponen tersebut, kontribusi terhadap SDGs dapat direncanakan sekaligus dipantau berdasarkan target yang lebih jelas.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan berkelanjutan membutuhkan pembagian peran dari berbagai pihak. Pemerintah memiliki peran dalam merumuskan kebijakan dan target pembangunan, sementara sektor nonpemerintah dapat berkontribusi melalui program, inovasi, penelitian, maupun kolaborasi yang relevan dengan kebutuhan pembangunan.

Dalam konteks tersebut, perguruan tinggi memiliki posisi strategis karena berperan dalam pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Kapasitas akademik yang dimiliki perguruan tinggi dapat diarahkan untuk menghasilkan pengetahuan dan inovasi yang menjawab persoalan pembangunan, sekaligus membekali mahasiswa agar mampu memahami dan berkontribusi terhadap agenda keberlanjutan.

Selain Renaksi, Dr. Rachman turut memperkenalkan SDGs Action Register dan SDGs Action Certificate sebagai mekanisme pencatatan dan pengakuan kontribusi organisasi terhadap pencapaian SDGs. Mekanisme tersebut membuka ruang bagi sektor nonpemerintah untuk mendokumentasikan aksi yang dilakukan, memperluas peluang kemitraan, serta memperkuat transparansi dan akuntabilitas kontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan.

Bagi mahasiswa, pemahaman mengenai mekanisme tersebut memperluas perspektif bahwa SDGs tidak hanya merupakan agenda global yang dibahas dalam kebijakan, tetapi juga membutuhkan kontribusi nyata dari berbagai sektor. Pendidikan tinggi dapat menjadi ruang untuk menghubungkan pengetahuan akademik dengan kebutuhan pembangunan sekaligus mendorong lahirnya gagasan dan inovasi yang dapat memberikan dampak bagi masyarakat.

Melalui kuliah tamu ini, UPER memperkuat perannya sebagai ruang pembelajaran yang mempertemukan mahasiswa dengan perspektif dan praktik pembangunan berkelanjutan. Pembahasan mengenai target, indikator, rencana aksi, serta mekanisme pencatatan kontribusi memberikan pemahaman yang lebih konkret mengenai bagaimana agenda SDGs dapat diterjemahkan ke dalam aksi.

Upaya tersebut sejalan dengan SDG 4: Pendidikan Berkualitas, khususnya dalam mendorong pembelajaran yang relevan dengan tantangan pembangunan. Kegiatan ini juga memperkuat semangat SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui keterhubungan antara perguruan tinggi, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan dalam mendorong aksi pembangunan berkelanjutan.

Semangat tersebut selaras dengan Asta Cita ke-4 melalui penguatan sumber daya manusia, pendidikan, sains, dan teknologi. Melalui semangat UPER Berdampak, Universitas Pertamina terus mendorong pendidikan, penelitian, dan kolaborasi agar tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga berkontribusi pada penyelesaian tantangan pembangunan berkelanjutan dan mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045. [MP]
Thumbnail Thumbnail
Bagikan:
Bagikan ke WhatsApp
Bagikan ke Facebook
Bagikan ke X
Bagikan ke Telegram
Bagikan ke LinkedIn

Tinggalkan Balasan
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalan UU ITE

© 2026 Universitas Pertamina.
All rights reserved