Perubahan lanskap informasi yang berlangsung semakin cepat menuntut organisasi dan pemimpin untuk tidak hanya mampu menyampaikan pesan, tetapi juga membangun pemahaman, mendapatkan dukungan, dan menggerakkan berbagai pihak untuk bertindak. Kemampuan tersebut menjadi semakin penting dalam agenda keberlanjutan yang melibatkan banyak pemangku kepentingan dengan kepentingan dan perspektif yang beragam.
Perspektif tersebut menjadi bagian dari pembahasan Prominent Lecture Program Magister Sains Keberlanjutan Universitas Pertamina yang menghadirkan President Director Perum LKBN ANTARA, Benny Siga Butarbutar, M.Si., IAP, pada Sabtu 26 September 2026. Mengangkat tema “Communication in a Real-Time World”, kegiatan ini membekali mahasiswa dengan pemahaman mengenai komunikasi strategis, stakeholder engagement, serta peran komunikasi dalam mendorong aksi untuk mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).
Dalam pemaparannya, Benny menjelaskan bahwa perkembangan teknologi digital telah mengubah cara informasi diproduksi, disebarkan, dan diterima oleh masyarakat. Komunikasi berlangsung secara persisten, partisipatif, terukur, dan bergerak dalam siklus yang semakin cepat. Kondisi tersebut membuat kemampuan untuk memahami karakter informasi sekaligus melakukan verifikasi menjadi semakin penting, terutama ketika perhatian publik terhadap suatu pesan semakin terbatas.
Menurut Benny, komunikasi yang efektif memiliki tiga tujuan utama, yaitu memastikan pemahaman, membangun penerimaan, dan mendorong tindakan. Ketiga tujuan tersebut diwujudkan melalui proses menjelaskan, meyakinkan, dan memengaruhi. Dengan demikian, komunikasi strategis tidak berhenti pada bagaimana sebuah pesan disampaikan, tetapi juga bagaimana pesan tersebut dapat dipahami oleh audiens, memperoleh penerimaan, dan pada akhirnya menghasilkan tindakan.
Perspektif tersebut menjadi penting dalam konteks keberlanjutan yang membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Dalam materi stakeholder engagement, mahasiswa diperkenalkan pada pentingnya mengidentifikasi dan memetakan pemangku kepentingan berdasarkan tingkat kepentingan dan pengaruhnya terhadap suatu isu. Pemetaan tersebut kemudian menjadi dasar untuk menentukan pendekatan komunikasi yang tepat, mulai dari memantau, menjaga kepuasan, memberikan informasi, hingga melibatkan pemangku kepentingan secara aktif.
Benny menekankan bahwa setiap pemangku kepentingan memiliki karakter, kepentingan, dan tingkat pengaruh yang berbeda. Karena itu, pendekatan komunikasi tidak dapat diterapkan secara seragam. Kemampuan membaca posisi setiap pihak menjadi bagian penting dalam membangun hubungan, mengelola ekspektasi, serta menciptakan ruang kolaborasi yang dapat mendukung pencapaian tujuan bersama.
Kebutuhan akan kolaborasi tersebut semakin relevan dalam upaya mencapai agenda pembangunan berkelanjutan. Benny menekankan bahwa tantangan keberlanjutan saat ini bukan hanya terletak pada ketersediaan pengetahuan dan teknologi, tetapi juga pada kemampuan berbagai pihak untuk bergerak bersama.
“Kita memiliki tujuan, kita memiliki ilmu pengetahuan, dan kita memiliki teknologi. Namun, yang semakin terbatas adalah waktu dan tindakan kolektif. Karena itu, tantangannya bukan lagi hanya bagaimana kita menghasilkan pengetahuan atau teknologi, tetapi bagaimana kita dapat menyampaikan dan berkomunikasi dengan baik, membangun pemahaman bersama, melibatkan berbagai pemangku kepentingan, dan kemudian mengubahnya menjadi tindakan nyata,” ujar Benny.
Pesan tersebut menyoroti bahwa tujuan, ilmu pengetahuan, dan teknologi belum cukup untuk menjawab tantangan keberlanjutan tanpa adanya kemampuan berbagai pihak untuk bergerak melalui aksi kolektif.
Dalam konteks tersebut, komunikasi memiliki posisi strategis sebagai penghubung antara pengetahuan, kebijakan, organisasi, industri, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya. Kemampuan membangun pemahaman bersama menjadi penting agar berbagai pihak tidak hanya mengetahui suatu persoalan keberlanjutan, tetapi juga memiliki kesamaan arah untuk mengambil tindakan.
Pembahasan tersebut turut dikaitkan dengan konsep Triple Bottom Line yang mencakup People, Planet, dan Profit. Konsep ini menempatkan keberlanjutan tidak semata-mata pada pencapaian ekonomi, tetapi juga pada kesejahteraan sosial dan kelestarian lingkungan. Perspektif tersebut sejalan dengan kerangka SDGs yang menempatkan manusia, planet, kemakmuran, perdamaian, dan kemitraan sebagai bagian yang saling berkaitan dalam pembangunan berkelanjutan.
Bagi mahasiswa Magister Sains Keberlanjutan Universitas Pertamina, pemahaman mengenai komunikasi strategis dan stakeholder engagement menjadi relevan untuk memperkuat kemampuan dalam menerjemahkan isu keberlanjutan ke dalam strategi dan aksi. Sebagai bidang yang bersifat lintas disiplin, keberlanjutan tidak hanya membutuhkan penguasaan terhadap aspek ilmiah dan teknis, tetapi juga kemampuan berkomunikasi dan berkolaborasi dengan berbagai pihak yang terlibat dalam proses pengambilan keputusan.
Kegiatan ini turut mendukung SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas melalui penguatan pengetahuan dan kompetensi mahasiswa, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui pemahaman mengenai kolaborasi dan keterlibatan berbagai pemangku kepentingan.
Penguatan kapasitas mahasiswa melalui pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan dunia profesional tersebut juga sejalan dengan Asta Cita ke-4, yakni memperkuat pembangunan sumber daya manusia, sains, teknologi, dan pendidikan. Di sisi lain, perspektif keberlanjutan yang menjadi fokus pembelajaran turut selaras dengan Asta Cita ke-8 yang menekankan penyelarasan kehidupan dengan lingkungan dan alam.
Melalui Prominent Lecture, Universitas Pertamina terus menghadirkan pembelajaran yang menghubungkan pengetahuan akademik dengan persoalan nyata serta kebutuhan dunia profesional. Upaya ini menjadi bagian dari komitmen UPER Berdampak dalam menghasilkan sumber daya manusia yang tidak hanya memiliki kompetensi keilmuan, tetapi juga mampu membangun kolaborasi, mengomunikasikan gagasan, dan berkontribusi dalam mendorong perubahan yang berkelanjutan. [KC]