ID / EN
Agenda

Greenwashing: Ketika Komitmen ESG Hanya Menjadi Strategi Komunikasi


Published by: Admin Kamis, 8 Oktober 2026
Dibaca: 11 kali
Bayangkan Anda sedang memilih sebuah produk. Di kemasannya tertulis sustainable, eco-friendly, atau better for the planet. Warnanya hijau, terdapat gambar daun, dan perusahaan menjelaskan komitmennya terhadap keberlanjutan.

Kita mungkin langsung berpikir: produk ini lebih baik bagi lingkungan. Tetapi, lebih baik dibandingkan apa? Berdasarkan data apa? Dan siapa yang memastikan klaim tersebut benar?

Pertanyaan sederhana ini menjadi semakin penting ketika Environmental, Social, and Governance (ESG) berkembang menjadi bagian dari strategi bisnis. Perusahaan semakin aktif berbicara mengenai pengurangan emisi, energi terbarukan, ekonomi sirkular, kesejahteraan pekerja, hingga tata kelola. Pada saat yang sama, citra sebagai perusahaan yang berkelanjutan semakin memiliki nilai bagi konsumen, investor, dan pemangku kepentingan.

Di sinilah muncul sebuah paradoks: semakin berharga citra keberlanjutan, semakin besar pula dorongan untuk terlihat berkelanjutan. Fenomena inilah yang dikenal sebagai greenwashing.

Greenwashing umumnya dipahami sebagai upaya membangun persepsi bahwa suatu produk, aktivitas, atau perusahaan lebih ramah lingkungan daripada kondisi yang sebenarnya. Namun, penelitian menunjukkan bahwa fenomenanya jauh lebih kompleks. Greenwashing tidak selalu berbentuk kebohongan yang terang-terangan. Ia dapat muncul ketika perusahaan hanya menonjolkan informasi positif, menggunakan klaim yang terlalu umum, atau menciptakan jarak antara apa yang dikomunikasikan dan apa yang benar-benar dilakukan.

Sebuah systematic literature review yang diterbitkan dalam Journal of Environmental Management menganalisis 111 studi mengenai pengukuran greenwashing di tingkat perusahaan. Dua pendekatan yang paling banyak digunakan adalah selective disclosure dan decoupling. Yang terakhir menggambarkan kesenjangan antara komunikasi perusahaan dengan tindakan atau kinerja aktualnya. Sebanyak 78 dari 111 studi dalam tinjauan tersebut menggunakan pendekatan yang berkaitan dengan decoupling.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa persoalan greenwashing sebenarnya bukan sekadar apakah perusahaan melakukan aktivitas keberlanjutan atau tidak. Persoalannya adalah apakah narasi yang dibangun perusahaan sejalan dengan kenyataan yang dapat dibuktikan.

Tantangan ini semakin besar karena klaim lingkungan telah menjadi bagian dari komunikasi bisnis. European Commission mencatat bahwa dalam pemeriksaan terhadap environmental claims, 53% klaim yang diteliti memberikan informasi yang samar, menyesatkan, atau tidak berdasar, sementara 40% tidak memiliki bukti pendukung yang memadai.

Kasus di industri penerbangan memberikan gambaran nyata. Di Inggris, Advertising Standards Authority (ASA) menilai klaim Wizz Air sebagai “one of the greenest choices in air travel” menyesatkan karena konsumen tidak diberikan dasar perbandingan yang memadai. Dalam kasus Virgin Atlantic, ASA juga mempermasalahkan penggunaan klaim “100% sustainable aviation fuel” karena konsumen dapat menangkap kesan bahwa penerbangan tersebut sepenuhnya berkelanjutan, sementara sustainable aviation fuel tetap memiliki dampak lingkungan jika dilihat sepanjang siklus hidupnya.

Kasus tersebut memperlihatkan sesuatu yang penting: sebuah perusahaan dapat benar-benar melakukan inisiatif keberlanjutan, tetapi cara mengomunikasikannya tetap dapat menyesatkan apabila konteks, batasan, dan bukti tidak disampaikan dengan jelas.

Persoalan yang sama menjadi semakin relevan di Indonesia. Otoritas Jasa Keuangan melalui POJK Nomor 51/POJK.03/2017 telah mengatur penerapan keuangan berkelanjutan dan kewajiban sustainability report bagi Lembaga Jasa Keuangan, Emiten, dan Perusahaan Publik. Dalam pengembangan keuangan berkelanjutan, OJK juga mengidentifikasi greenwashing, bersama social washing dan impact washing, sebagai salah satu risiko yang perlu diperhatikan.

Hal ini penting bagi manajemen karena ketika ESG menjadi dasar pertimbangan investor, konsumen, regulator, dan mitra bisnis, informasi ESG berubah menjadi bagian dari informasi bisnis yang memiliki konsekuensi nyata. Klaim yang tidak akurat dapat memengaruhi reputasi perusahaan, kepercayaan stakeholder, keputusan investasi, bahkan menimbulkan risiko hukum dan regulasi.

Dengan demikian, greenwashing seharusnya tidak dipandang hanya sebagai persoalan komunikasi atau pemasaran. Ia merupakan persoalan strategi dan tata kelola.

Perusahaan yang ingin membangun kredibilitas ESG perlu memastikan bahwa setiap klaim memiliki dasar yang jelas. Pernyataan mengenai pengurangan emisi, misalnya, seharusnya dapat menjelaskan berapa besar pengurangannya, dibandingkan dengan tahun dasar apa, menggunakan metode pengukuran apa, dan bagaimana pencapaiannya diverifikasi. Demikian pula, target net zero perlu dibedakan secara jelas dari pencapaian aktual.

Pada titik ini, sustainability report juga perlu dilihat secara kritis. Laporan keberlanjutan bukan sekadar dokumen untuk memenuhi kewajiban, tetapi merupakan sarana bagi perusahaan untuk menjelaskan bagaimana strategi keberlanjutan diterjemahkan menjadi target, indikator, tindakan, dan hasil. Penelitian terbaru terhadap 41 artikel mengenai sustainability assurance menunjukkan bahwa assurance dengan cakupan dan kualitas yang kuat dapat membantu mengurangi risiko greenwashing, sementara assurance yang lemah atau simbolis dapat menimbulkan risiko assurance-washing.

Artinya, membangun ESG yang kredibel membutuhkan lebih dari sekadar komunikasi yang baik. Perusahaan perlu memastikan adanya konsistensi antara strategi, tindakan, pengukuran, pelaporan, dan akuntabilitas.

Pada akhirnya, greenwashing memberikan pelajaran penting bagi dunia bisnis. Di tengah meningkatnya perhatian terhadap keberlanjutan, perusahaan mungkin semakin mudah mengatakan bahwa mereka “hijau”. Namun, semakin besar klaim yang dibuat, semakin besar pula tuntutan untuk membuktikannya.

ESG yang kredibel bukan tentang membuat perusahaan terlihat lebih berkelanjutan, melainkan tentang memastikan bahwa keberlanjutan benar-benar menjadi bagian dari bagaimana perusahaan mengambil keputusan, mengelola risiko, menciptakan nilai, dan mempertanggungjawabkan dampaknya.

Sebab pada akhirnya, publik tidak hanya membutuhkan perusahaan yang pandai berbicara tentang keberlanjutan. Publik membutuhkan perusahaan yang mampu membuktikannya.


Thumbnail
Bagikan:
Bagikan ke WhatsApp
Bagikan ke Facebook
Bagikan ke X
Bagikan ke Telegram
Bagikan ke LinkedIn

Tinggalkan Balasan
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalan UU ITE

© 2026 Universitas Pertamina.
All rights reserved