Logo Universitas Pertamina
ID / EN
Berita Populer

Fenomena Penurunan Tanah di Jakarta: Penyebab dan Dampaknya


Published by: Universitas Pertamina Jumat, 13 Februari 2026
Dibaca: 282 kali

Jakarta merupakan salah satu kota dengan tingkat

Jakarta merupakan salah satu kota dengan tingkat land subsidence atau penurunan muka tanah yang signifikan di dunia. Berdasarkan pemantauan citra satelit dan metode geodetik seperti Persistent Scatterer Interferometry Synthetic Aperture Radar (PS-InSAR), sejumlah wilayah Jakarta menunjukkan rata-rata penurunan tanah sekitar 5,71 sentimeter per tahun, dengan variasi laju yang lebih tinggi terutama di wilayah utara dan barat, seperti Jakarta Utara dan Cengkareng.

Temuan ini merupakan hasil analisis PS-InSAR yang diterbitkan dalam Jurnal Teknologi Lingkungan oleh peneliti yang menggunakan data Sentinel-1 dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Hasil tersebut menjadi indikator kuat bahwa fenomena penurunan tanah di Jakarta masih terus berlangsung dan berdampak pada meningkatnya kerentanan lingkungan serta infrastruktur perkotaan.

Apa Itu Penurunan Tanah?

Penurunan tanah adalah fenomena turunnya permukaan bumi secara perlahan akibat perubahan kondisi di bawah permukaan tanah, baik yang terjadi secara alami maupun akibat aktivitas manusia. Bagi kota besar seperti Jakarta yang berdiri di atas dataran aluvial rendah dan kawasan pesisir, penurunan tanah menjadi isu geoteknik yang kompleks karena memicu berbagai dampak lingkungan, sosial, dan ekonomi.

Penyebab Utama Penurunan Tanah di Jakarta

Fenomena ini tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan kombinasi beberapa faktor yang saling berinteraksi.

1. Ekstraksi Air Tanah Berlebihan

Salah satu penyebab utama adalah pengambilan air tanah secara besar-besaran untuk kebutuhan domestik, industri, dan komersial. Ketika air tanah diekstraksi, tekanan pada lapisan sedimen berpori menurun sehingga terjadi kompaksi. Proses ini menyebabkan permukaan tanah turun secara bertahap.

2. Konsolidasi Alami Tanah Aluvial

Struktur geologi Jakarta tersusun atas endapan aluvial muda yang relatif lunak dan mudah terkompaksi. Di bawah beban konstruksi serta perubahan tekanan air tanah, lapisan ini secara alami mengalami konsolidasi yang mengakibatkan penurunan permukaan tanah.

3. Beban Pembangunan dan Urbanisasi

Perkembangan infrastruktur, pembangunan gedung bertingkat, serta perluasan kawasan perkotaan memberikan beban tambahan pada tanah yang sudah lemah. Tekanan ini mempercepat proses pemadatan sedimen di bawah permukaan.

4. Faktor Tektonik dan Lingkungan

Selain faktor antropogenik, kondisi geologi regional serta perubahan lingkungan, termasuk kenaikan muka laut, turut memengaruhi dinamika penurunan tanah di Jakarta.

Dampak Penurunan Tanah di Jakarta

Penurunan muka tanah membawa konsekuensi signifikan terhadap kehidupan sosial-ekonomi dan infrastruktur kota.

1. Meningkatnya Risiko Banjir dan Rob

Penurunan muka tanah menyebabkan sebagian wilayah Jakarta Utara berada semakin rendah dibandingkan permukaan laut. Akibatnya, risiko banjir pasang (rob) dan intrusi air laut meningkat, baik dari segi frekuensi maupun intensitas.

2. Kerusakan Bangunan dan Infrastruktur

Jalan, gedung, saluran drainase, serta jaringan transportasi menjadi rentan terhadap retakan, deformasi, dan gangguan fungsi akibat pergeseran tanah.

3. Dampak Ekonomi

Kerugian ekonomi mencakup biaya perbaikan infrastruktur, gangguan aktivitas usaha, serta penurunan nilai properti di kawasan terdampak.

4. Ancaman terhadap Ketahanan Air dan Lingkungan

Pengambilan air tanah yang tidak terkendali memperburuk krisis air bersih dan menciptakan lingkaran masalah, di mana penurunan tanah dan kekeringan saling memengaruhi.

Tantangan Mitigasi dan Peran Institusi Pendidikan

Penanganan penurunan tanah memerlukan pendekatan multidisipliner yang komprehensif, mulai dari penguatan data ilmiah, pengaturan penggunaan air tanah, hingga perancangan solusi teknis berbasis prinsip geoteknik. Dalam konteks ini, peran pendidikan tinggi, khususnya di bidang Teknik Geologi, menjadi sangat penting.

Lulusan dengan kompetensi geosains mampu melakukan pemantauan, analisis deformasi tanah, serta menyusun rekomendasi kebijakan berbasis sains dan teknologi mutakhir guna mendukung keberlanjutan kota-kota besar seperti Jakarta.

Ingin menjadi bagian dari solusi bagi tantangan geosains di Indonesia? Kenali lebih lanjut Program Studi Teknik Geologi Universitas Pertamina, tempat pendidikan tinggi berpadu dengan riset dan praktik profesional untuk menyiapkan generasi ahli geologi yang siap menjawab isu lingkungan dan infrastruktur masa depan. Daftar sekarang dan bangun masa depan Anda bersama Universitas Pertamina https://pmb.universitaspertamina.ac.id/ 


Sumber dan Referensi:
- Handika, R., Widodo, J., & Pravitasari, A. E. (2024). Combined Land Subsidence Analysis in Jakarta Based on Ps-InSAR and MICMAC Methods. Jurnal Teknologi Lingkungan, 25(1), 137-145.
-Kementerian Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (2017). Retrieve from https://sda.pu.go.id/post/detail/pemerintah_butuh_data_akurat_untuk_tangani_masalah_penurunan_muka_tanah  
- Pramono, FX Richo (2016). Journal: Tanah Amblas Ibu Kota. Retrieve from https://bkat.esdm.go.id/node/14 


Thumbnail
Bagikan:
Bagikan ke WhatsApp
Bagikan ke Facebook
Bagikan ke X
Bagikan ke Telegram
Bagikan ke LinkedIn

Tinggalkan Balasan
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalan UU ITE

© 2026 Universitas Pertamina.
All rights reserved