ID / EN
Berita Populer

Di Balik Perjuangan Kartini Modern, Mengapa Pekerja Migran Perempuan Masih Rentan Eksploitasi


Published by: Universitas Pertamina Selasa, 21 April 2026
Dibaca: 4 kali
Isu pekerja migran perempuan masih menjadi tantangan serius di kawasan Asia Tenggara. Data terbaru dari International Labour Organization (ILO) menunjukkan bahwa terdapat sekitar 38,3 juta pekerja domestik di kawasan Asia-Pasifik dan lebih dari 80 persen di antaranya adalah perempuan, namun 84,3 persen bekerja di sektor informal tanpa perlindungan memadai, dan kurang dari 16 persen memiliki jaminan sosial . Angka ini menegaskan paradoks besar, di satu sisi mereka menjadi tulang punggung ekonomi dan perawatan rumah tangga global, namun di sisi lain masih jauh dari prinsip pekerjaan layak.

Fenomena ini tidak dapat dilepaskan dari struktur ketenagakerjaan global yang menempatkan perempuan migran dalam sektor rentan seperti pekerjaan domestik dan perawatan. ILO juga mencatat bahwa perempuan migran cenderung menghadapi diskriminasi, jam kerja panjang, upah rendah, hingga keterbatasan mobilitas akibat status migrasi mereka . Bahkan, sejumlah studi menemukan indikasi praktik kerja paksa di beberapa negara tujuan di Asia Tenggara, dengan pekerja tidak bebas mengakhiri kontrak atau bekerja tanpa kompensasi yang layak . Kondisi ini menunjukkan bahwa pekerjaan layak masih menjadi “mimpi” bagi banyak perempuan migran.

Dalam konteks ASEAN, tantangan ini semakin kompleks karena lemahnya kerangka hukum yang mengikat serta dominasi pendekatan “soft law”. Perlindungan terhadap pekerja migran perempuan sering kali bersifat normatif dan belum diimplementasikan secara efektif di tingkat nasional. Banyak negara belum sepenuhnya mengintegrasikan perlindungan berbasis gender dalam kebijakan migrasi tenaga kerja. Akibatnya, pekerja migran perempuan tetap berada dalam posisi rentan terhadap eksploitasi, kekerasan, dan ketidakadilan struktural.

Lebih jauh, pekerjaan domestik yang menjadi sektor utama bagi perempuan migran sering kali tidak dianggap sebagai pekerjaan formal. Padahal, sektor ini memiliki kontribusi besar terhadap ekonomi global dan kesejahteraan keluarga. Ketika pekerjaan ini tidak diakui secara setara, maka akses terhadap hak-hak dasar seperti upah minimum, jam kerja seseuai, dan perlindungan sosial menjadi terbatas. Hal ini memperkuat siklus ketidaksetaraan yang terus berulang.

Di tengah realitas tersebut, semangat emansipasi yang diwariskan oleh Raden Ajeng Kartini menjadi refleksi penting. Kartini memperjuangkan kesetaraan dan akses terhadap pendidikan bagi perempuan, namun tantangan yang dihadapi perempuan migran saat ini menunjukkan bahwa perjuangan tersebut belum sepenuhnya selesai. Perempuan migran modern masih menghadapi bentuk baru dari ketimpangan, terutama dalam akses terhadap pekerjaan layak dan perlindungan hukum.

Isu ini juga memiliki keterkaitan erat dengan agenda global Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-5 (kesetaraan gender), tujuan ke-8 (pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi), dan tujuan ke-10 (pengurangan kesenjangan). Upaya perlindungan pekerja migran perempuan menjadi bagian integral dari komitmen global untuk menciptakan pembangunan yang inklusif dan berkeadilan. Tanpa intervensi kebijakan yang kuat, target SDGs berisiko tidak tercapai, terutama di kawasan berkembang seperti ASEAN.

Pendidikan tinggi memiliki posisi strategis dalam membentuk generasi yang mampu menjawab tantangan ketenagakerjaan global. Dengan kurikulum yang relevan dan berbasis kebutuhan industri serta isu global, mahasiswa didorong untuk memahami kompleksitas migrasi tenaga kerja, hak asasi manusia, dan kebijakan publik. Hal ini menjadi penting agar ke depan lahir pemimpin dan profesional yang mampu menciptakan sistem kerja yang lebih adil dan inklusif.

Sebagai institusi pendidikan yang berkomitmen terhadap pembangunan berkelanjutan, Universitas Pertamina turut mengambil peran dalam mendorong kesadaran dan solusi berbasis akademik terhadap isu-isu global, termasuk perlindungan pekerja migran. Melalui pendekatan multidisiplin, riset, serta penguatan kapasitas sumber daya manusia, universitas berkontribusi dalam mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki sensitivitas sosial dan perspektif global.

Bagi generasi muda yang ingin berkontribusi dalam menjawab tantangan global ini, pendidikan menjadi langkah awal yang strategis. Universitas Pertamina membuka kesempatan bagi calon mahasiswa untuk mengembangkan kompetensi unggul dan berdaya saing global melalui berbagai program studi yang relevan dengan kebutuhan masa depan. Segera kunjungi halaman https://pmb.universitaspertamina.ac.id/ dan jadilah bagian dari generasi yang membawa perubahan menuju dunia kerja yang lebih adil dan berkelanjutan.

sumber:
https://www.ilo.org/sites/default/files/2024-10/Labour_RightsSocial_Protection_Coverage_for_Domestic_Workers_in_ASEAN%20_REPORT.pdf
https://www.journal.cicofficial.com/index.php/jbo/article/view/235
https://www.pensionpolicyinternational.com/new-ilo-report-highlights-urgent-need-for-improved-labour-and-social-protection-for-domestic-workers-in-asean/

Foto: Aswaddy Hamid/Antara Foto


Thumbnail
Bagikan:
Bagikan ke WhatsApp
Bagikan ke Facebook
Bagikan ke X
Bagikan ke Telegram
Bagikan ke LinkedIn

Tinggalkan Balasan
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalan UU ITE

© 2026 Universitas Pertamina.
All rights reserved