Ketahanan rantai pasok energi tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan sumber daya, tetapi juga oleh kemampuan perusahaan menghadapi disrupsi geopolitik, perubahan iklim, tuntutan efisiensi, hingga persoalan sosial dan lingkungan. Berbagai dilema tersebut menjadi bagian dari studi kasus yang dibedah mahasiswa Program Studi Magister Sains Berkelanjutan Universitas Pertamina (UPER) dalam kuliah tamu bersama praktisi industri energi, pada 25 September 2026.
Menghadirkan Woody Boemara, VP Supply & Logistic Operation PT Pertamina Patra Niaga, kuliah tamu tersebut mengangkat materi Sustainability Supply Chain. Dengan pengalaman lebih dari 10 tahun di bidang logistik dan suplai minyak mentah, Woody memberikan gambaran mengenai kompleksitas pengelolaan rantai pasok energi sekaligus pentingnya mengintegrasikan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan dalam pengambilan keputusan bisnis.
Salah satu gambaran mengenai kompleksitas tersebut terlihat dari rantai pasok crude oil Pertamina yang melibatkan 34 pelabuhan muat (loading port) di berbagai belahan dunia dan delapan pelabuhan bongkar (discharge port). Dalam prosesnya, rantai pasok menghadapi berbagai tantangan, mulai dari waktu tunggu yang dapat mencapai 4 hingga 45 hari hingga perubahan rute akibat dinamika geopolitik, seperti gangguan di Laut Merah yang mendorong kapal memutar melalui Tanjung Harapan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa efisiensi rantai pasok energi tidak dapat dilepaskan dari kemampuan perusahaan mengelola risiko. Dalam pemaparannya, Woody menjelaskan bahwa Sustainable Supply Chain Management (SSCM) mengintegrasikan tujuan lingkungan, sosial, dan ekonomi ke dalam pengelolaan material, informasi, dan aliran modal di sepanjang jaringan bisnis.
Pendekatan tersebut juga menempatkan aspek ESG (Environmental, Social, Governance) sebagai bagian dari pengambilan keputusan. Artinya, pencapaian efisiensi operasional tidak hanya diukur dari kemampuan menekan biaya, tetapi juga dari bagaimana perusahaan menjaga tanggung jawab sosial, tata kelola, dampak lingkungan, serta keberlanjutan bisnis dalam jangka panjang.
Untuk menerapkan konsep tersebut, mahasiswa tidak hanya menerima materi secara teoritis. Mereka ditantang mengambil peran sebagai Strategic Supply Chain Committee PT Pertamina dan menyusun rekomendasi strategis kepada jajaran Direksi berdasarkan empat studi kasus yang menggambarkan persoalan nyata dalam rantai pasok energi.
Kasus pertama menguji strategi mahasiswa ketika terjadi penutupan Selat Hormuz. Mereka perlu merumuskan langkah mitigasi untuk menjaga keamanan pasokan crude ke kilang dengan tetap mempertimbangkan efisiensi, penurunan emisi, dan tata kelola.
Kasus kedua menghadapkan mahasiswa pada dilema pemilihan pemasok. Mereka diminta menentukan sikap ketika menemukan supplier dengan performa logistik yang sangat kompetitif, tetapi memiliki rekam jejak terkait persoalan lingkungan, ketenagakerjaan, dan transparansi yang rendah.
Selanjutnya, mahasiswa menganalisis risiko kekeringan ekstrem akibat El Niño terhadap keberlangsungan rantai pasok Pertamina. Tidak hanya mengidentifikasi ancaman, mereka juga ditantang menemukan peluang dan strategi keberlanjutan yang dapat diterapkan untuk meningkatkan ketahanan rantai pasok terhadap risiko iklim.
Kasus terakhir membawa mahasiswa pada isu bahan bakar rendah karbon melalui Sustainable Aviation Fuel (SAF). Di dalamnya, mahasiswa dihadapkan pada dilema ketika produk rendah karbon menggunakan bahan baku dari rantai pasok yang masih memiliki persoalan traceability, risiko deforestasi, hingga potensi konflik sosial.
Rangkaian studi kasus tersebut menunjukkan bahwa penerapan prinsip keberlanjutan dalam industri energi tidak selalu menghadirkan pilihan yang sederhana. Mahasiswa perlu menimbang berbagai kepentingan secara bersamaan, mulai dari ketahanan energi dan profitabilitas hingga dampak sosial, lingkungan, serta tata kelola.
Pendekatan pembelajaran berbasis kasus ini sejalan dengan karakter Program Studi Magister Sains Berkelanjutan UPER yang mengintegrasikan perspektif lingkungan, sosial, dan ekonomi dalam memahami persoalan pembangunan. Interaksi langsung dengan praktisi industri juga memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk melihat bagaimana konsep keberlanjutan diterapkan dalam proses pengambilan keputusan di dunia profesional.
Pembelajaran tersebut turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) 7: Energi Bersih dan Terjangkau melalui penguatan pemahaman mengenai ketahanan dan keberlanjutan sistem energi, SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab melalui penerapan prinsip sustainable supply chain, serta SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim melalui pembahasan risiko iklim dan upaya penurunan emisi dalam rantai pasok.
Dari perspektif pembangunan nasional, pembahasan mengenai ketahanan rantai pasok energi juga relevan dengan Asta Cita ke-2, yakni memantapkan sistem pertahanan keamanan negara dan mendorong kemandirian melalui swasembada pangan, energi, air, ekonomi kreatif, ekonomi hijau, dan ekonomi biru. Sementara itu, perhatian terhadap ESG, keterlacakan bahan baku, dan dampak lingkungan sejalan dengan semangat Asta Cita ke-8 dalam menjaga keselarasan kehidupan dengan lingkungan dan kelestarian alam.
Bagi Universitas Pertamina, pembelajaran yang menghubungkan teori dengan persoalan nyata industri merupakan bagian dari semangat UPER Berdampak. Melalui pengalaman tersebut, mahasiswa tidak hanya memahami konsep keberlanjutan secara akademis, tetapi juga dilatih untuk mempertimbangkan berbagai kepentingan dan merumuskan solusi dalam situasi yang kompleks.
Dengan membedah persoalan mulai dari disrupsi geopolitik, risiko iklim hingga transisi menuju energi rendah karbon, mahasiswa Magister Sains Berkelanjutan UPER dipersiapkan untuk menghadapi tantangan keberlanjutan secara lebih utuh. Kompetensi tersebut diharapkan dapat mendorong lahirnya lulusan yang mampu mengambil keputusan strategis dengan menempatkan ketahanan energi, kepentingan ekonomi, dan keberlanjutan lingkungan dalam satu kerangka. [RF]