Perubahan iklim semakin relevan untuk diperhatikan karena dampaknya berkaitan erat dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari kenaikan suhu hingga risiko terhadap ketahanan pangan dan sumber daya air. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat suhu udara rata-rata Indonesia pada 2024 mencapai 27,52 derajat Celsius, tertinggi sepanjang periode pengamatan 1981–2024. Kondisi ini menjadi pengingat pentingnya upaya mitigasi dan adaptasi untuk menghadapi perubahan iklim.
Di tengah tantangan tersebut, teknologi perubahan iklim dapat menjadi bagian dari solusi. Pemanfaatan energi bersih, pengembangan teknologi hijau, dan inovasi berkelanjutan membuka peluang untuk mengurangi emisi sekaligus meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya. Namun, penerapannya membutuhkan perencanaan yang mempertimbangkan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Teknologi Hijau untuk Mendorong Energi Bersih
Salah satu upaya menghadapi perubahan iklim adalah mengurangi emisi gas rumah kaca dari aktivitas manusia, termasuk penggunaan bahan bakar fosil. Dalam hal ini, teknologi hijau menawarkan berbagai alternatif, seperti panel surya, pembangkit listrik tenaga panas bumi, serta sistem penyimpanan energi yang mendukung pemanfaatan energi terbarukan.
Indonesia memiliki beragam potensi energi terbarukan yang dapat dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan energi masyarakat dan industri. Meski demikian, transisi menuju energi bersih masih membutuhkan penguatan infrastruktur, investasi, kebijakan, dan sumber daya manusia.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat porsi energi baru dan terbarukan (EBT) dalam bauran energi nasional mencapai 14,68 persen pada 2024. Data tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan energi terbarukan masih perlu dikembangkan untuk mendukung transformasi sektor energi.
Selain energi terbarukan, inovasi juga dapat diterapkan melalui teknologi pemantauan emisi, sistem pengelolaan energi, dan optimalisasi proses produksi. Di sektor industri, misalnya, pemanfaatan sensor dan analisis data dapat membantu mengidentifikasi penggunaan energi yang tidak efisien sehingga perusahaan dapat menyusun langkah perbaikan yang lebih terukur.
Sementara itu, teknologi penangkapan, pemanfaatan, dan penyimpanan karbon atau Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) menjadi salah satu pendekatan yang dapat dikaji untuk mengurangi emisi dari sektor industri tertentu. Penerapannya tetap memerlukan evaluasi terhadap kelayakan teknis, biaya, keamanan, dan manfaat pengurangan emisi.
Inovasi Berkelanjutan Tidak Hanya tentang Teknologi
Peran teknologi perubahan iklim tidak terbatas pada pengurangan emisi. Teknologi juga dapat membantu masyarakat beradaptasi terhadap dampak perubahan iklim melalui sistem peringatan dini, pemodelan iklim, pemantauan kondisi lingkungan, dan pemetaan wilayah berisiko.
Informasi cuaca dan iklim dari BMKG, misalnya, dapat menjadi salah satu dasar untuk mendukung perencanaan pembangunan, pengelolaan sumber daya air, serta kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi. Dengan memanfaatkan data secara tepat, pemerintah dan masyarakat dapat mengantisipasi risiko serta merencanakan langkah adaptasi sesuai kondisi wilayah.
Namun, keberhasilan inovasi berkelanjutan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi. Sebuah solusi perlu mempertimbangkan kebutuhan masyarakat, dampak terhadap ekosistem, kelayakan ekonomi, serta kemungkinan penerapannya dalam jangka panjang.
Pembangunan fasilitas energi terbarukan, misalnya, membutuhkan kajian mengenai lokasi, kebutuhan infrastruktur, pembiayaan, dan dampaknya terhadap masyarakat sekitar. Karena itu, pendekatan keberlanjutan diperlukan untuk melihat keterkaitan antara persoalan lingkungan, sosial, dan ekonomi sebelum suatu kebijakan atau teknologi diterapkan.
Pendekatan ini juga menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, industri, dan masyarakat. Penguasaan teknologi perlu berjalan beriringan dengan riset, kebijakan yang tepat, dan kesiapan sumber daya manusia agar solusi yang dikembangkan dapat menjawab kebutuhan nyata.
Pendidikan Keberlanjutan untuk Menjawab Tantangan Iklim
Kompleksitas perubahan iklim menunjukkan bahwa dunia membutuhkan sumber daya manusia yang mampu memahami persoalan lingkungan dari berbagai perspektif. Selain pengetahuan teknis, dibutuhkan kemampuan analisis, pemecahan masalah, serta pemahaman mengenai keterkaitan aspek lingkungan, sosial, ekonomi, dan tata kelola.
Pendidikan tinggi memiliki peran dalam mempersiapkan sumber daya manusia dengan kompetensi tersebut. Melalui pembelajaran dan pengembangan pengetahuan, mahasiswa dapat memperdalam pemahaman mengenai tantangan keberlanjutan sekaligus mengeksplorasi pendekatan untuk merumuskan solusi yang relevan.
Pengetahuan di bidang sains keberlanjutan dapat menjadi bekal untuk mengkaji berbagai tantangan, mulai dari pengelolaan lingkungan hingga penerapan strategi pembangunan yang mempertimbangkan dampak jangka panjang. Dengan perspektif lintas disiplin, upaya menghadapi perubahan iklim dapat dilihat tidak hanya sebagai persoalan teknologi, tetapi juga sebagai tantangan yang membutuhkan perencanaan dan kolaborasi.
Mendukung Masa Depan Berkelanjutan melalui Pendidikan
Upaya menghadapi perubahan iklim sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim dan SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas. Penguatan pengetahuan, kapasitas, dan inovasi menjadi bagian penting dalam mendukung aksi iklim serta mempersiapkan generasi yang mampu menghadapi tantangan keberlanjutan.
Komitmen tersebut juga selaras dengan arah Asta Cita, khususnya penguatan pembangunan sumber daya manusia serta penguasaan sains dan teknologi. Melalui semangat UPER Berdampak, Universitas Pertamina turut mendorong peran pendidikan dan pengetahuan dalam mendukung penyelesaian persoalan masyarakat serta pembangunan berkelanjutan.
Bagi calon mahasiswa yang ingin memperdalam ilmu keberlanjutan dan mempersiapkan diri untuk berkontribusi dalam menghadapi tantangan perubahan iklim, Program Magister Sains Keberlanjutan Universitas Pertamina dapat menjadi pilihan untuk melanjutkan pendidikan. Informasi program studi dan penerimaan mahasiswa baru dapat diakses melalui laman resmi PMB Universitas Pertamina.
Referensi:
BMKG. 2025. BMKG: 2024 Jadi Tahun Terpanas Sepanjang Sejarah, Perubahan Iklim Kian Membahayakan Kesehatan Publik. https://www.bmkg.go.id/siaran-pers/bmkg-2024-jadi-tahun-terpanas-sepanjang-sejarah-perubahan-iklim-kian-membahayakan-kesehatan-publik
Kementerian ESDM. 2024. Laporan Kinerja Ditjen EBTKE Tahun 2024. https://www.esdm.go.id/assets/media/content/content-laporan-kinerja-ditjen-ebtke-tahun-2024.pdf
Kredit foto: Javier Miranda // Unsplash
https://unsplash.com/photos/a-picture-of-the-earth-in-a-ring-of-fire-7bnvNN3R_eo?utm_source=unsplash&utm_medium=referral&utm_content=creditShareLink