Jakarta - Selama puluhan
tahun, PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) berdiri sebagai simbol kejayaan
industri tekstil Indonesia. Namun pada 1 Maret 2025, perusahaan itu resmi tutup
setelah dinyatakan pailit, meninggalkan lebih dari 10.000 karyawan tanpa
pekerjaan dan utang yang melampaui Rp24 triliun. Tak berselang lama, giliran
eFishery, unicorn agritech kebanggaan Indonesia, yang terguncang oleh dugaan
manipulasi laporan keuangan: pendapatan diklaim jauh melampaui kenyataan, aset
operasional dilebih-lebihkan, dan kerugian disembunyikan dari investor.
Dua kasus itu bukan berdiri sendiri. Mereka muncul di
tengah gejolak makro yang semakin menekan dunia usaha. Sejak awal 2026, IHSG
terkoreksi lebih dari 26% dari puncak tertinggi sepanjang sejarahnya di level
9.134 pada Januari 2026, bahkan sempat menyentuh posisi 5.966 pada pekan ketiga
Mei 2026. Di saat yang sama, rupiah menembus Rp17.870 per dolar AS pada 28 Mei
2026 rekor terlemah sepanjang sejarah moneter Indonesia, sementara kapitalisasi
pasar BEI menguap lebih dari Rp5.200 triliun hanya dalam hitungan bulan.
Yang membuat fenomena ini lebih mengkhawatirkan: kasus
Sritex dan eFishery bukan terjadi karena badai eksternal semata. Sritex
terjerumus oleh ekspansi agresif tanpa struktur modal yang sehat. eFishery
tersandung absennya tata kelola keuangan yang akuntabel. Keduanya tampak kuat
di permukaan, namun rapuh di fondasi. Ini menunjukkan bahwa ancaman terbesar
bagi keberlangsungan bisnis sering kali bukan datang dari luar, melainkan dari
dalam, dari ketiadaan sistem keuangan yang benar-benar berkelanjutan.
Di sinilah financial sustainability menemukan
relevansinya yang paling nyata. Lebih dari sekadar menghindari kebangkrutan,
konsep ini mencakup kemampuan perusahaan membangun struktur modal yang sehat,
mengelola risiko secara terintegratif, menjaga transparansi pelaporan, dan
menyelaraskan pertumbuhan dengan kapabilitas keuangan jangka panjang yang
sesungguhnya. Di tengah tekanan nilai tukar, volatilitas pasar modal, dan
standar tata kelola investor global yang semakin ketat, perusahaan yang tidak
memiliki fondasi ini hanya menunggu giliran untuk tersandung.
Membangun kapabilitas ini membutuhkan pemimpin
yang benar-benar memahami arsitektur keuangan perusahaan secara mendalam, mereka
yang mampu membaca sinyal risiko sebelum menjadi bencana, merancang strategi
pembiayaan yang adaptif, dan memastikan pertumbuhan tidak dibangun di atas
fondasi semu. Program Magister Manajemen dengan peminatan Financial
Sustainability hadir untuk mencetak profesional dengan kompetensi itu: karena
pelajaran dari Sritex dan eFishery sudah terlalu mahal untuk dibiarkan
terulang.