ID / EN
Agenda

Rupiah Tembus Rp17.870: Bagaimana Memahami Risiko Financial Sustainability Agar Tidak Bernasib Seperti Sritex dan eFishery?


Published by: Admin Rabu, 3 Juni 2026
Dibaca: 24 kali
Jakarta - Selama puluhan tahun, PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) berdiri sebagai simbol kejayaan industri tekstil Indonesia. Namun pada 1 Maret 2025, perusahaan itu resmi tutup setelah dinyatakan pailit, meninggalkan lebih dari 10.000 karyawan tanpa pekerjaan dan utang yang melampaui Rp24 triliun. Tak berselang lama, giliran eFishery, unicorn agritech kebanggaan Indonesia, yang terguncang oleh dugaan manipulasi laporan keuangan: pendapatan diklaim jauh melampaui kenyataan, aset operasional dilebih-lebihkan, dan kerugian disembunyikan dari investor.

Dua kasus itu bukan berdiri sendiri. Mereka muncul di tengah gejolak makro yang semakin menekan dunia usaha. Sejak awal 2026, IHSG terkoreksi lebih dari 26% dari puncak tertinggi sepanjang sejarahnya di level 9.134 pada Januari 2026, bahkan sempat menyentuh posisi 5.966 pada pekan ketiga Mei 2026. Di saat yang sama, rupiah menembus Rp17.870 per dolar AS pada 28 Mei 2026 rekor terlemah sepanjang sejarah moneter Indonesia, sementara kapitalisasi pasar BEI menguap lebih dari Rp5.200 triliun hanya dalam hitungan bulan.
Yang membuat fenomena ini lebih mengkhawatirkan: kasus Sritex dan eFishery bukan terjadi karena badai eksternal semata. Sritex terjerumus oleh ekspansi agresif tanpa struktur modal yang sehat. eFishery tersandung absennya tata kelola keuangan yang akuntabel. Keduanya tampak kuat di permukaan, namun rapuh di fondasi. Ini menunjukkan bahwa ancaman terbesar bagi keberlangsungan bisnis sering kali bukan datang dari luar, melainkan dari dalam, dari ketiadaan sistem keuangan yang benar-benar berkelanjutan.

Di sinilah financial sustainability menemukan relevansinya yang paling nyata. Lebih dari sekadar menghindari kebangkrutan, konsep ini mencakup kemampuan perusahaan membangun struktur modal yang sehat, mengelola risiko secara terintegratif, menjaga transparansi pelaporan, dan menyelaraskan pertumbuhan dengan kapabilitas keuangan jangka panjang yang sesungguhnya. Di tengah tekanan nilai tukar, volatilitas pasar modal, dan standar tata kelola investor global yang semakin ketat, perusahaan yang tidak memiliki fondasi ini hanya menunggu giliran untuk tersandung.

Membangun kapabilitas ini membutuhkan pemimpin yang benar-benar memahami arsitektur keuangan perusahaan secara mendalam, mereka yang mampu membaca sinyal risiko sebelum menjadi bencana, merancang strategi pembiayaan yang adaptif, dan memastikan pertumbuhan tidak dibangun di atas fondasi semu. Program Magister Manajemen dengan peminatan Financial Sustainability hadir untuk mencetak profesional dengan kompetensi itu: karena pelajaran dari Sritex dan eFishery sudah terlalu mahal untuk dibiarkan terulang.
Thumbnail
Bagikan:
Bagikan ke WhatsApp
Bagikan ke Facebook
Bagikan ke X
Bagikan ke Telegram
Bagikan ke LinkedIn

Tinggalkan Balasan
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalan UU ITE

© 2026 Universitas Pertamina.
All rights reserved