ID / EN
Agenda

28 Menit yang Bisa Mengubah Segalanya: Pelajaran Enterprise Risk Management dari Kasus Batik Air


Published by: Admin Jumat, 19 Juni 2026
Dibaca: 8 kali
Kasus pilot dan kopilot Batik Air yang tertidur selama sekitar 28 menit saat penerbangan sempat menjadi perhatian publik. Banyak orang melihat kejadian tersebut sebagai kesalahan individu. Namun, dalam perspektif Enterprise Risk Management (ERM), pertanyaan yang lebih penting justru bukan mengapa pilot tertidur, melainkan mengapa kondisi yang memungkinkan hal tersebut terjadi tidak dapat dicegah lebih awal.

Melalui mata kuliah Enterprise Risk Management for Sustainable Business, mahasiswa Program Magister Manajemen Universitas Pertamina mempelajari bahwa sebuah risiko tidak pernah berdiri sendiri. Di balik satu insiden sering kali terdapat rangkaian faktor yang saling berkaitan, mulai dari aktivitas operasional, proses pengawasan, sistem penjadwalan, hingga kebijakan dan strategi organisasi.

Pendekatan ini sejalan dengan prinsip manajemen risiko modern yang menekankan pentingnya melihat akar permasalahan secara menyeluruh. Ketika sebuah insiden terjadi, fokus organisasi tidak hanya mencari siapa yang salah, tetapi juga memahami bagaimana sistem dapat diperbaiki agar risiko serupa tidak terulang di masa depan.

Di sinilah Enterprise Risk Management berperan. ERM membantu organisasi mengidentifikasi, menilai, dan mengelola risiko secara sistematis sehingga keputusan yang diambil tidak hanya berorientasi pada pencapaian target jangka pendek, tetapi juga pada keberlanjutan organisasi dalam jangka panjang. Melalui pendekatan ini, perusahaan didorong untuk membangun budaya yang lebih proaktif dalam menghadapi ketidakpastian.

Salah satu instrumen penting dalam ERM adalah Risk Control Self Assessment (RCSA), yaitu proses yang mendorong setiap unit kerja untuk mengenali risiko yang dihadapi, mengevaluasi efektivitas pengendalian yang ada, dan menyusun langkah perbaikan secara berkelanjutan. Dengan demikian, pengelolaan risiko tidak hanya menjadi tanggung jawab satu divisi, tetapi menjadi bagian dari budaya organisasi secara keseluruhan.

Penerapan ERM dan RCSA juga menjadi fondasi dalam membangun business sustainability dan business resilience. Organisasi yang mampu mengelola risiko dengan baik tidak hanya lebih siap menghadapi krisis, tetapi juga lebih mampu beradaptasi terhadap perubahan lingkungan bisnis yang semakin dinamis. Dalam dunia yang penuh ketidakpastian, kemampuan mengelola risiko menjadi salah satu faktor penting yang menentukan keberlangsungan sebuah organisasi.

Kasus Batik Air menjadi pengingat bahwa risiko dapat muncul kapan saja dan dalam berbagai bentuk. Oleh karena itu, organisasi membutuhkan pemimpin yang mampu melihat risiko secara lebih luas, memahami keterkaitan antarproses, dan mengambil keputusan yang mempertimbangkan dampak jangka panjang.

Melalui Program Magister Manajemen Universitas Pertamina, mahasiswa tidak hanya mempelajari teori manajemen risiko, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir strategis untuk membangun organisasi yang tangguh, adaptif, dan berkelanjutan di tengah berbagai tantangan masa depan.

Magister Manajemen Universitas Pertamina, Mempersiapkan pemimpin yang mampu mengubah ketidakpastian menjadi peluang dan risiko menjadi keunggulan kompetitif.
Thumbnail
Bagikan:
Bagikan ke WhatsApp
Bagikan ke Facebook
Bagikan ke X
Bagikan ke Telegram
Bagikan ke LinkedIn

Tinggalkan Balasan
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalan UU ITE

© 2026 Universitas Pertamina.
All rights reserved