Kasus
pilot dan kopilot Batik Air yang tertidur selama sekitar 28 menit saat
penerbangan sempat menjadi perhatian publik. Banyak orang melihat kejadian
tersebut sebagai kesalahan individu. Namun, dalam perspektif Enterprise Risk
Management (ERM), pertanyaan yang lebih penting justru bukan mengapa pilot
tertidur, melainkan mengapa kondisi yang memungkinkan hal tersebut terjadi
tidak dapat dicegah lebih awal.
Melalui
mata kuliah Enterprise Risk Management for Sustainable Business,
mahasiswa Program Magister Manajemen Universitas Pertamina mempelajari bahwa
sebuah risiko tidak pernah berdiri sendiri. Di balik satu insiden sering kali
terdapat rangkaian faktor yang saling berkaitan, mulai dari aktivitas
operasional, proses pengawasan, sistem penjadwalan, hingga kebijakan dan
strategi organisasi.
Pendekatan ini sejalan dengan prinsip manajemen risiko
modern yang menekankan pentingnya melihat akar permasalahan secara menyeluruh.
Ketika sebuah insiden terjadi, fokus organisasi tidak hanya mencari siapa yang
salah, tetapi juga memahami bagaimana sistem dapat diperbaiki agar risiko
serupa tidak terulang di masa depan.
Di
sinilah Enterprise Risk Management berperan. ERM membantu organisasi
mengidentifikasi, menilai, dan mengelola risiko secara sistematis sehingga
keputusan yang diambil tidak hanya berorientasi pada pencapaian target jangka
pendek, tetapi juga pada keberlanjutan organisasi dalam jangka panjang. Melalui
pendekatan ini, perusahaan didorong untuk membangun budaya yang lebih proaktif
dalam menghadapi ketidakpastian.
Salah
satu instrumen penting dalam ERM adalah Risk Control Self Assessment
(RCSA), yaitu proses yang mendorong setiap unit kerja untuk mengenali risiko
yang dihadapi, mengevaluasi efektivitas pengendalian yang ada, dan menyusun
langkah perbaikan secara berkelanjutan. Dengan demikian, pengelolaan risiko
tidak hanya menjadi tanggung jawab satu divisi, tetapi menjadi bagian dari
budaya organisasi secara keseluruhan.
Penerapan
ERM dan RCSA juga menjadi fondasi dalam membangun business sustainability
dan business resilience. Organisasi yang mampu mengelola risiko dengan
baik tidak hanya lebih siap menghadapi krisis, tetapi juga lebih mampu
beradaptasi terhadap perubahan lingkungan bisnis yang semakin dinamis. Dalam dunia yang penuh ketidakpastian, kemampuan mengelola risiko menjadi
salah satu faktor penting yang menentukan keberlangsungan sebuah organisasi.
Kasus
Batik Air menjadi pengingat bahwa risiko dapat muncul kapan saja dan dalam
berbagai bentuk. Oleh karena itu, organisasi membutuhkan pemimpin yang mampu
melihat risiko secara lebih luas, memahami keterkaitan antarproses, dan
mengambil keputusan yang mempertimbangkan dampak jangka panjang.
Melalui
Program Magister Manajemen Universitas Pertamina, mahasiswa tidak hanya
mempelajari teori manajemen risiko, tetapi juga mengembangkan kemampuan
berpikir strategis untuk membangun organisasi yang tangguh, adaptif, dan
berkelanjutan di tengah berbagai tantangan masa depan.
Magister
Manajemen Universitas Pertamina, Mempersiapkan pemimpin yang mampu mengubah
ketidakpastian menjadi peluang dan risiko menjadi keunggulan kompetitif.