Kerja sama internasional membuka peluang bagi perguruan tinggi untuk saling berbagi pengetahuan dan mengembangkan pengalaman akademik lintas negara. Melalui kemitraan ini, universitas dapat memperluas kesempatan belajar sekaligus mendorong pengembangan pendidikan dan penelitian bersama.
Pada 15 Oktober 2026, Universitas Pertamina menerima kunjungan kehormatan (courtesy visit) dari University of Ngaoundéré, Kamerun, bersama perwakilan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Yaoundé. Pertemuan ini menjadi kesempatan bagi kedua universitas untuk menjajaki peluang kerja sama akademik dan penelitian.
Kunjungan ini dihadiri Prof. Esther Ngah dari University of Ngaoundéré dan Tomy Lutvan Abqary dari KBRI Yaoundé, Kamerun. Dari Universitas Pertamina, hadir Dr. Harya Dwi Nugraha, M.Sc., DIC., Ph.D., Dekan Fakultas Eksplorasi dan Produksi; Wahyu Agung Pramudito, Ph.D., Direktur Inovasi dan Kewirausahaan; Eduardus Budi Nursanto, Ketua Program Studi Teknik Kimia; serta tim International Partnership.
Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas berbagai peluang kolaborasi yang dapat mempererat hubungan akademik. Pembahasan mencakup pertukaran mahasiswa dan dosen, kuliah tamu daring, pengajaran virtual, pertukaran kurikulum dan silabus, program magang, serta penelitian bersama.
Salah satu peluang yang dijajaki ialah program mobilitas mahasiswa inbound dari Kamerun ke Universitas Pertamina yang ditargetkan berlangsung pada September 2027. Selain itu, kedua pihak membahas peluang pelatihan dan beasiswa, partisipasi University of Ngaoundéré dalam konferensi ICOSEID dan ICU-PERTAIN, serta penjajakan program Fulbright Scholars.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Esther Ngah menyoroti potensi kolaborasi antara University of Ngaoundéré dan Universitas Pertamina untuk memperluas kesempatan belajar dan mengembangkan kegiatan akademik lintas negara.
“Kolaborasi dengan Universitas Pertamina membuka peluang untuk memperkuat hubungan akademik melalui pertukaran pengetahuan, pengalaman, dan perspektif dari kedua institusi. Kami berharap penjajakan ini dapat berkembang menjadi program konkret, mulai dari mobilitas mahasiswa dan dosen hingga pengembangan kurikulum dan penelitian bersama yang memberikan manfaat bagi kedua universitas,” ujar Prof. Esther Ngah.
Sementara itu, Dr. Harya Dwi Nugraha, M.Sc., DIC., Ph.D., Dekan Fakultas Eksplorasi dan Produksi Universitas Pertamina, menekankan pentingnya kerja sama lintas negara dalam memperluas wawasan akademik.
“Kemitraan internasional seperti ini dapat membuka akses terhadap perspektif dan keahlian baru yang mendukung pengembangan pendidikan tinggi serta peningkatan kualitas sumber daya manusia,” ujarnya.
Untuk menindaklanjuti pembahasan tersebut, kedua universitas merencanakan pertukaran silabus, penyusunan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU), dan perjanjian kerja sama terkait mobilitas mahasiswa serta dosen. Koordinasi pelaksanaan kuliah tamu daring juga menjadi bagian dari rencana tindak lanjut.
Penjajakan ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) ke-17, yaitu Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Melalui kemitraan lintas negara, kedua universitas berpeluang memperkuat pertukaran pengetahuan dan membangun kolaborasi yang mendukung pengembangan pendidikan serta penelitian.
Inisiatif ini juga relevan dengan Asta Cita dalam penguatan kualitas sumber daya manusia, pendidikan, sains, teknologi, dan inovasi. Sejalan dengan semangat UPER Berdampak, Universitas Pertamina berharap penjajakan ini dapat berkembang menjadi program kolaborasi nyata yang memperluas jejaring internasional dan memberikan manfaat bagi komunitas akademik kedua universitas. [MP]