JAKARTA — Ketidakpastian ekonomi global membuat perusahaan tidak cukup hanya memiliki strategi bisnis yang tepat. Keputusan untuk membaca peluang pasar, mengalokasikan sumber daya, menjaga kualitas, hingga mengelola rantai pasok perlu diterjemahkan ke dalam operasi yang terukur. Keterkaitan antara strategi dan eksekusi inilah yang menjadi fokus pembelajaran mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Pertamina (UPER) bersama praktisi industri hulu migas.
Melalui Kuliah Tamu bertajuk “Understanding the Global Context of Business” dan “Operations Management & Quality”, mahasiswa kelas Pengantar Bisnis MN1A, MN1B, dan MN1C diajak memahami bagaimana dinamika bisnis global memengaruhi pengambilan keputusan perusahaan hingga implementasinya di lapangan. Kegiatan yang menghadirkan VP Eksplorasi PT Pertamina EP Cepu, Dr. Ir. Dedi Yusmen, S.Si., MBA, MEsy, IPU, ASEAN Eng, sebagai narasumber tersebut berlangsung di Auditorium 2301, Gedung Griya Legita, UPER, pada Senin (19/10/2026).
Dalam sesi pertama, Dedi membedah berbagai faktor yang membentuk lanskap bisnis global, mulai dari kondisi ekonomi, regulasi, perdagangan internasional, hingga karakteristik budaya. Menurutnya, kemampuan membaca lingkungan bisnis perlu diikuti dengan penilaian terhadap kapabilitas internal perusahaan sebelum sebuah strategi ditetapkan.
“Dalam mengambil keputusan bisnis, diperlukan kesesuaian antara kondisi yang ada dengan mempertimbangkan tiga aspek utama, yaitu peluang, kapabilitas perusahaan, dan lingkungan bisnis. Ketiganya harus dilihat secara bersamaan karena peluang yang besar belum tentu dapat dimanfaatkan apabila tidak didukung oleh kapabilitas perusahaan yang memadai. Begitu juga dengan kapabilitas yang dimiliki perusahaan perlu disesuaikan dengan kondisi lingkungan bisnis yang terus berubah.” jelas Dedi.
Perspektif tersebut memberikan gambaran kepada mahasiswa bahwa keputusan bisnis tidak dapat dibuat hanya berdasarkan besarnya peluang pasar. Perusahaan perlu mengukur apakah peluang tersebut sesuai dengan kapabilitas yang dimiliki sekaligus mempertimbangkan kondisi lingkungan yang dapat memengaruhi keberhasilan strategi.
Bagi industri dengan karakteristik kompleks seperti hulu migas, kemampuan membaca ketiga aspek tersebut menjadi semakin penting. Keputusan bisnis perlu mempertimbangkan berbagai faktor yang saling berkaitan, termasuk kebutuhan sumber daya, kondisi operasi, risiko, waktu pelaksanaan, serta tuntutan terhadap kualitas.
Pembahasan kemudian berlanjut pada materi Operations Management & Quality: Perspektif Industri Hulu Migas. Pada sesi ini, mahasiswa melihat bagaimana keputusan strategis diterjemahkan menjadi proses operasional yang konkret.
Dedi menjelaskan bahwa manajemen operasi tidak berhenti pada bagaimana perusahaan menghasilkan barang atau jasa, tetapi mencakup bagaimana berbagai sumber daya dikelola secara efektif untuk menghasilkan nilai. Dalam industri hulu migas, kompleksitas tersebut semakin tinggi karena kegiatan operasi banyak berlangsung dengan karakteristik berbasis proyek atau make-to-order yang menuntut keseimbangan antara biaya, waktu, kualitas, dan kebutuhan operasional.
Untuk menjaga agar proses berjalan sesuai target, mahasiswa diperkenalkan pada penerapan Total Quality Management (TQM) melalui siklus Plan, Do, Check, Act (PDCA). Pendekatan tersebut membantu perusahaan memastikan bahwa proses tidak hanya direncanakan dan dijalankan, tetapi juga dievaluasi secara berkala untuk menemukan penyimpangan serta menentukan tindakan perbaikan.
Perspektif kualitas juga tidak berdiri sendiri. Mahasiswa diajak melihat keterkaitannya dengan pengelolaan rantai pasok (supply chain management), terutama dalam memastikan ketersediaan peralatan dan jasa dari pemasok hingga mendukung kebutuhan operasi di lapangan. Dari sini, mahasiswa dapat melihat bahwa keberhasilan strategi bisnis sangat ditentukan oleh kemampuan perusahaan mengintegrasikan berbagai fungsi, mulai dari perencanaan, operasi, kualitas, hingga rantai pasok.
Keterhubungan antara strategi bisnis dan operasi tersebut menjadi kompetensi penting bagi mahasiswa Manajemen untuk menghadapi kebutuhan industri yang semakin kompleks. Tidak hanya memahami konsep bisnis secara teoritis, mahasiswa perlu mampu menganalisis peluang, membaca risiko, mengelola sumber daya, serta mengambil keputusan berdasarkan kondisi nyata di lapangan.
Melalui keterlibatan praktisi industri, pembelajaran di UPER mempertemukan perspektif akademik dengan pengalaman profesional. Mahasiswa tidak hanya mempelajari bagaimana sebuah keputusan bisnis dirumuskan, tetapi juga memahami tantangan ketika strategi tersebut diterapkan dalam lingkungan operasional yang kompleks, khususnya pada sektor energi.
Kegiatan ini sekaligus memperkuat komitmen UPER Berdampak dalam menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan industri. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan dunia industri menjadi ruang bagi mahasiswa untuk membangun kesiapan profesional sekaligus memahami persoalan sektor energi secara lebih komprehensif.
Dari sisi pembangunan berkelanjutan, kegiatan ini mendukung SDG 4 (Quality Education) melalui penguatan pembelajaran berbasis pengalaman dan keterlibatan praktisi. Perspektif mengenai pengelolaan bisnis dan operasi industri juga berkontribusi terhadap SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) serta SDG 9 (Industry, Innovation, and Infrastructure) melalui pengembangan kompetensi sumber daya manusia yang mampu mendukung produktivitas dan keberlanjutan industri.
Lebih luas, penguatan kompetensi manajemen dan pemahaman terhadap operasional industri energi juga sejalan dengan Asta Cita ke-2, khususnya dalam mendukung kemandirian ekonomi dan energi nasional, serta Asta Cita ke-4 melalui pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas. Melalui sinergi akademik dan industri, UPER terus mendorong lahirnya lulusan yang tidak hanya memahami teori manajemen, tetapi juga mampu menerjemahkannya menjadi keputusan yang relevan bagi kebutuhan industri dan pembangunan nasional. [RF]