ID / EN
Berita Kampus

Dunia Kerja Kian Kompetitif, Dosen Universitas Pertamina Ajak Gen Z Bangun Skill dan Portofolio


Published by: Universitas Pertamina Senin, 2 November 2026
Dibaca: 15 kali
Memiliki indeks prestasi kumulatif (IPK) tinggi dan menguasai teori perkuliahan belum tentu cukup untuk menghadapi persaingan dunia kerja. Laporan Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum (WEF) memperkirakan sekitar 39 persen keterampilan pekerja akan berubah atau menjadi kurang relevan pada periode 2025–2030. Perkembangan kecerdasan artifisial (AI), digitalisasi, dan perubahan kebutuhan industri menuntut generasi muda untuk terus beradaptasi, berpikir analitis, serta mampu menerapkan pengetahuan dalam menyelesaikan persoalan nyata.

Isu tersebut menjadi pembahasan dalam talkshow yang menghadirkan Ita Musfirowati Hanika, dosen Program Studi Komunikasi Universitas Pertamina, pada Jumat (30/10/2026), di Pakuwon Mall Bekasi. Kegiatan ini merupakan bagian dari Pertamina Small Medium Enterprise Expo (SMEXPO) 2026, yang menghadirkan 50 usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) binaan Pertamina.

Dalam kesempatan tersebut, Ita membahas perubahan lanskap industri dan keterampilan yang perlu dipersiapkan Generasi Z (Gen Z) sebelum memasuki dunia kerja. Menurutnya, perbedaan antara dunia akademik dan profesional terletak pada cara keberhasilan diukur. Mahasiswa terbiasa dengan tugas dan indikator penilaian yang jelas, sementara dunia kerja menuntut kemampuan mengidentifikasi persoalan, mengambil keputusan, dan menghasilkan solusi nyata.

Ita juga menyoroti bahwa peluang karier Gen Z tidak terbatas pada perusahaan besar, tetapi semakin terbuka melalui pertumbuhan ekonomi digital dan sektor UMKM. Kehadiran 50 UMKM dalam Pertamina SMEXPO 2026 menjadi gambaran beragamnya peluang bagi generasi muda untuk berkontribusi, mulai dari pengelolaan media sosial, pengembangan merek, pemasaran digital, hingga membangun usaha sendiri. Karena itu, keterampilan yang dimiliki Gen Z perlu diarahkan untuk menjawab kebutuhan industri dan menciptakan nilai ekonomi.

“Generasi muda tidak harus selalu berorientasi menjadi pekerja di perusahaan besar. Perkembangan teknologi juga membuka kesempatan untuk berkarier, berkolaborasi dengan UMKM, bahkan menciptakan usaha sendiri. Yang terpenting adalah bagaimana mereka mampu mengidentifikasi peluang, memahami kebutuhan pasar, dan menggunakan keterampilannya untuk memberikan solusi,” ungkap Ita.

IPK atau Pengalaman Kerja, Mana yang Lebih Penting?

Selain penguasaan teknologi, Ita turut menyoroti pentingnya pengalaman praktis bagi Gen Z yang ingin berkarier maupun berwirausaha. Menurutnya, indeks prestasi kumulatif (IPK) tetap menjadi indikator pencapaian akademik, tetapi bukan satu-satunya ukuran kesiapan profesional. Survei Job Outlook 2026 dari National Association of Colleges and Employers (NACE) menunjukkan bahwa sekitar 70 persen perusahaan responden di Amerika Serikat telah menerapkan rekrutmen berbasis keterampilan (skills-based hiring).

“IPK mencerminkan komitmen dan tanggung jawab kita sebagai mahasiswa dalam menjalani pendidikan, sementara portofolio menunjukkan kemampuan menerapkan pengetahuan dan menghasilkan karya nyata. Jadi, keduanya tidak perlu dipertentangkan seolah-olah kita harus memilih salah satu, karena justru saling melengkapi sebagai bekal untuk berkarier maupun berwirausaha,” ujar Ita.

Oleh karena itu, Ita mendorong mahasiswa untuk mulai membangun portofolio, memperluas jejaring profesional, dan mengembangkan kebiasaan belajar sepanjang hayat (lifelong learning) sejak masa perkuliahan. Menurutnya, kegiatan seperti Pertamina SMEXPO 2026 juga dapat menjadi ruang pembelajaran bagi Gen Z untuk mengenali kebutuhan industri, memahami praktik bisnis secara langsung, serta melihat peluang berkarier maupun berwirausaha.

Adapun Pertamina SMEXPO 2026 merupakan program pemberdayaan UMKM yang diselenggarakan di berbagai kota, termasuk Pekanbaru, Cirebon, Yogyakarta, dan Bekasi. Di Bekasi, sebanyak 50 UMKM terlibat, terdiri atas 25 UMKM yang hadir langsung dan 25 UMKM lainnya yang produknya turut dipamerkan. Kegiatan ini menjadi sarana bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan produk, memperluas akses pasar, dan membangun peluang kolaborasi bisnis.

Pembahasan mengenai kesiapan kerja Gen Z juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) ke-4, Pendidikan Berkualitas, dan ke-8, Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, serta Asta Cita ke-4 yang menekankan penguatan kualitas sumber daya manusia. Melalui semangat UPER Berdampak, keterlibatan akademisi dalam forum publik diharapkan dapat menjembatani pengetahuan akademik dengan kebutuhan industri sekaligus mendorong generasi muda menjadi tenaga profesional yang kompeten, adaptif, dan siap menghadapi perubahan. [IH]
Thumbnail Thumbnail
Bagikan:
Bagikan ke WhatsApp
Bagikan ke Facebook
Bagikan ke X
Bagikan ke Telegram
Bagikan ke LinkedIn

Tinggalkan Balasan
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalan UU ITE

© 2026 Universitas Pertamina.
All rights reserved