Carbon neutrality atau netralitas karbon menjadi salah satu pendekatan penting dalam menekan dampak perubahan iklim. Menurut Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), kondisi ini tercapai ketika emisi karbon dioksida yang dihasilkan dari aktivitas manusia diseimbangkan dengan jumlah karbon dioksida yang dihilangkan dari atmosfer dalam periode tertentu. Upaya menuju kondisi tersebut membutuhkan pengurangan emisi secara signifikan sekaligus pengembangan berbagai pendekatan untuk menyerap atau menghilangkan emisi yang tersisa.
Upaya mencapai netralitas karbon tidak hanya membutuhkan inovasi teknologi, tetapi juga generasi peneliti yang mampu memahami persoalan emisi dan mengembangkan solusi berbasis riset. Kesempatan tersebut dimanfaatkan Muhammad Karunia Vivaldi, mahasiswa Program Studi Teknik Lingkungan angkatan 2023 Universitas Pertamina, yang terpilih mengikuti Taiwan Experience Education Program (TEEP) di National Dong Hwa University (NDHU), Taiwan. Program tersebut berlangsung selama kurang lebih tiga bulan, mulai 26 Agustus hingga 28 November 2026, dengan fokus penelitian pada carbon neutrality.
“Kesempatan mengikuti TEEP menjadi pengalaman yang sangat berarti bagi saya untuk memperluas perspektif mengenai karbon netral. Saya ingin memahami lebih dalam bagaimana pendekatan riset dapat digunakan untuk mengidentifikasi dan mengembangkan strategi pengurangan emisi yang dapat diterapkan,” ujar Vivaldi.
Selama program, Vivaldi terlibat dalam penelitian mengenai pengurangan emisi dan keberlanjutan lingkungan dengan pendampingan Dr. Amit Kumar Sah, yang menjalani kegiatan postdoctoral di NDHU, di bawah arahan Prof. Hong Yao-Ming, Professor and Chair pada Department of Natural Resources and Environmental Studies. Lingkungan riset tersebut memberikan kesempatan bagi Vivaldi untuk memperdalam penerapan ilmu Teknik Lingkungan dalam memahami strategi menuju netralitas karbon.
Selain menjalankan penelitian, Vivaldi mengikuti berbagai kegiatan akademik, mulai dari perkuliahan, seminar, hingga diskusi bersama peneliti dan mahasiswa dengan latar belakang keilmuan yang beragam. Pengalaman tersebut memperluas perspektifnya dalam melihat isu perubahan iklim sekaligus memahami bagaimana riset dapat digunakan untuk menjawab tantangan lingkungan.
“Belajar dalam lingkungan akademik internasional membuat saya dapat melihat isu keberlanjutan dari perspektif yang lebih luas. Saya tidak hanya belajar mengenai aspek teknisnya, tetapi juga bagaimana penelitian dapat diarahkan untuk menjawab persoalan lingkungan yang nyata,” jelas Vivaldi.
Kesempatan serupa juga terbuka bagi mahasiswa yang ingin memperoleh pengalaman riset internasional. TEEP merupakan program yang didukung Kementerian Pendidikan Taiwan untuk memberikan kesempatan kepada mahasiswa internasional mengikuti kegiatan riset dan magang jangka pendek di berbagai universitas di Taiwan. Pada 2026, lebih dari 700 proyek tersedia dalam berbagai bidang. Durasi program umumnya berkisar antara dua hingga enam bulan, sedangkan mekanisme pendaftaran, periode pelaksanaan, dan dukungan pendanaan mengikuti ketentuan masing-masing proyek dan principal investigator.
Bagi Vivaldi, pengalaman tersebut diharapkan menjadi bekal untuk mengembangkan kompetensi riset sekaligus membawa pengetahuan yang diperolehnya kembali ke Indonesia. “Saya berharap pengalaman di NDHU dapat memperkuat kemampuan riset dan pemahaman saya mengenai isu keberlanjutan. Pengetahuan yang saya peroleh selama program juga ingin saya kembangkan menjadi bekal untuk berkontribusi pada pengelolaan lingkungan dan upaya pengurangan emisi di Indonesia,” tambahnya.
Keikutsertaan Vivaldi dalam TEEP menjadi bagian dari upaya Universitas Pertamina memperluas pengalaman akademik dan riset mahasiswa di tingkat internasional. Pengalaman tersebut sekaligus mendukung SDG 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim, sejalan dengan Asta Cita dalam penguatan kualitas sumber daya manusia, serta membawa semangat UPER Berdampak melalui pengembangan kompetensi mahasiswa untuk berkontribusi terhadap tantangan keberlanjutan. [MP]