Menangani krisis reputasi menjadi salah satu tantangan terbesar dalam dunia hubungan masyarakat (humas). Ketika kepercayaan publik terancam, praktisi humas dituntut tidak hanya mampu meredam pemberitaan negatif, tetapi juga merancang strategi yang dapat memulihkan reputasi perusahaan.
Kemampuan inilah yang diuji dalam kompetisi Next Gen. PR Strategy pada Konvensi Humas Indonesia (KHI), yang berhasil dimenangkan oleh tiga mahasiswa Prodi Komunikasi Universitas Pertamina (UPER), Mutiara Permatasari, Ni Wayan Listyawati, dan Regitha Nur Azizah, pada 18 Oktober 2026.
Dalam kompetisi tersebut, peserta ditantang merancang strategi komunikasi krisis untuk Chocova, perusahaan cokelat yang menghadapi dugaan keterlibatan pekerja anak dalam rantai pasoknya. Berbeda dari pendekatan yang hanya berfokus pada permintaan maaf dan kampanye pemulihan citra, tim UPER menawarkan solusi melalui transparansi rantai pasok dan program sosial untuk membantu anak-anak terdampak kembali bersekolah. Gagasan ini menjadi salah satu keunggulan yang diapresiasi dewan juri.
Lantas, apa saja tiga strategi yang mengantarkan mereka meraih juara nasional?
1. Buat Deck Presentasi yang Detail dan Menarik
Dalam kompetisi strategi komunikasi, presentation deck bukan sekadar kumpulan slide, melainkan sarana untuk menunjukkan kedalaman analisis dan kekuatan solusi yang ditawarkan. Hal ini menjadi perhatian tim UPER yang menyusun presentasi secara sistematis, mulai dari identifikasi akar persoalan, perumusan strategi, hingga penetapan indikator keberhasilan. Setiap gagasan juga didukung data dan visual yang menarik agar mudah dipahami sekaligus meyakinkan dewan juri.
“Sejak awal, kami memastikan setiap strategi dalam deck dijelaskan secara detail, runtut, dan memiliki dasar yang kuat. Kami juga memperhatikan visual agar presentasi tidak hanya menarik, tetapi mampu memperjelas gagasan yang disampaikan. Jadi, bukan sekadar membuat slide yang bagus, melainkan memastikan juri memahami alasan di balik setiap strategi yang kami tawarkan,” ujar Mutiara.
2. Kuasai Presentasi dengan Storytelling
“Saat presentasi, kami tidak hanya menjelaskan isi deck, tetapi membangun storytelling yang mampu menggugah emosi juri. Setiap anggota juga memiliki pembagian materi yang jelas dan benar-benar memahami keseluruhan strategi. Jadi, ketika sesi tanya jawab, kami bisa langsung menjawab tanpa harus berdiskusi terlebih dahulu,” ujar Mutiara.
Menurutnya, kemampuan menyampaikan gagasan sama pentingnya dengan kualitas strategi yang dirancang. Karena itu, tim UPER menyusun alur presentasi mulai dari persoalan perusahaan, dampaknya terhadap masyarakat, hingga solusi yang ditawarkan. Pendekatan ini membuat presentasi lebih menarik dan meyakinkan. Penguasaan materi serta latihan menghadapi pertanyaan kritis juga menjadi kunci agar peserta mampu menunjukkan kesiapan dan pemahaman di hadapan dewan juri.
3. Hadirkan Big Idea yang Unik dan Relevan
Kreativitas menjadi salah satu kunci dalam kompetisi humas, tetapi gagasan yang ditawarkan juga harus mampu menjawab akar persoalan. Dalam kasus Chocova, tim UPER mengembangkan kampanye “Satu Cokelat, Satu Harapan” yang tidak hanya berfokus pada pemulihan reputasi, tetapi juga mengintegrasikan program Corporate Social Responsibility (CSR) untuk membantu anak-anak terdampak kembali mengakses pendidikan. Pendekatan ini menjadi pembeda karena menawarkan tindakan nyata, bukan sekadar permintaan maaf atau kampanye komunikasi.
“Menurut kami, big idea yang kuat harus memiliki keunikan dan benar-benar menjawab masalah. Salah satu hal yang diapresiasi juri adalah kami menjadi satu-satunya tim yang mengintegrasikan program CSR dalam strategi penanganan krisis. Jadi, solusi yang kami tawarkan tidak hanya berfokus pada pemulihan citra perusahaan, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” ujar Mutiara.
Dukung Asta Cita dan SDGs
Keberhasilan tiga mahasiswi Universitas Pertamina dalam kompetisi humas nasional menjadi salah satu wujud komitmen UPER Berdampak dalam mengembangkan sumber daya manusia yang kompeten, kreatif, dan mampu menghadirkan solusi atas tantangan nyata industri. Prestasi ini juga sejalan dengan Asta Cita ke-4 yang menekankan penguatan sumber daya manusia, pendidikan, sains, dan teknologi melalui peningkatan kualitas pembelajaran serta pengembangan kompetensi generasi muda.
Pencapaian tersebut turut mendukung SDG 4 (Quality Education) melalui penerapan pembelajaran berbasis kasus yang mengintegrasikan teori, riset, dan praktik komunikasi profesional. Selain itu, strategi komunikasi krisis yang dikembangkan melalui kampanye “Satu Cokelat, Satu Harapan” juga relevan dengan SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), khususnya dalam mendorong penghapusan pekerja anak, serta SDG 16 (Peace, Justice and Strong Institutions) melalui penguatan transparansi, akuntabilitas, dan kepercayaan publik terhadap perusahaan.