ID / EN
Berita Populer

Kebakaran Gambut Tak Kunjung Padam, Seberapa Siap Logistik Kita?


Published by: Humas UPER Selasa, 13 Oktober 2026
Dibaca: 15 kali
Petugas pemadam kebakaran di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, harus menyambungkan lima rol selang sepanjang 150 meter untuk menjangkau titik api. Berdasarkan laporan InfoPublik pada 20 Oktober 2026, sulitnya akses dan terbatasnya sumber air menjadi kendala pemadaman. Petugas pun mengandalkan sumur bor, embung, serta pasokan air dari kendaraan satuan tugas.

Situasi tersebut memperlihatkan bahwa kesiapan pemadaman juga bergantung pada kemampuan menyediakan dan menyalurkan kebutuhan di lapangan. Pompa dan selang harus sesuai dengan jarak sumber air, pasokan perlu dijaga selama operasi, dan peralatan harus dapat dibawa ke lokasi yang sulit dijangkau. Lantas, bagaimana logistik disiapkan agar kendala tersebut tidak menghambat upaya mengendalikan api?

1. Menyalurkan Air hingga ke Titik Api

Keberadaan sumber air belum tentu menjamin kelancaran pemadaman. Jarak menuju titik api, kondisi jalan, dan kemampuan peralatan turut menentukan apakah air dapat disalurkan ke lokasi kebakaran.

Di Palangka Raya, sejumlah sumber air mulai mengering, sementara lokasi kebakaran sulit dijangkau. Karena itu, petugas menggunakan beberapa sumber pasokan sekaligus. Penggunaan sumur bor, embung, dan kendaraan pemasok air membantu menyesuaikan kebutuhan pemadaman dengan kondisi lapangan.

Dalam perspektif logistik, informasi tersebut diperlukan untuk menentukan peralatan dan cara pengiriman yang sesuai. Lokasi yang jauh dari sumber air, misalnya, membutuhkan pertimbangan panjang selang, kemampuan pompa, serta tempat penampungan air sementara. Perencanaan ini membantu mengurangi risiko peralatan sudah tiba, tetapi belum dapat digunakan karena pasokan pendukungnya tidak tersedia.

2. Menghubungkan Dukungan Darat dan Udara

Penanganan kebakaran gambut juga membutuhkan koordinasi antara petugas darat dan dukungan udara. Dalam laporan pada 1 Agustus 2026, BNPB menyampaikan rencana distribusi pompa, bahan pemadam, dan tangki air lipat atau flexible tank sesuai kebutuhan di Kalimantan Tengah.

BNPB juga menjelaskan rencana penggunaan helikopter untuk mengisi tangki air lipat di Pulang Pisau. Air yang ditampung kemudian dapat digunakan oleh petugas darat melalui pompa kecil untuk menangani lokasi yang masih mengeluarkan asap. Skema ini ditujukan untuk membantu wilayah dengan keterbatasan sumber air.

Pengaturan tersebut memperlihatkan bahwa setiap peralatan memiliki fungsi yang saling berkaitan. Helikopter mendukung pengisian air, tangki menjadi tempat penampungan, sedangkan pompa dan selang menyalurkannya menuju sasaran. Jadwal pengisian, lokasi tangki, dan kesiapan petugas perlu dikoordinasikan agar pasokan dapat terus digunakan selama pemadaman dan pendinginan.

3. Menyiapkan Logistik Berdasarkan Informasi Risiko

Persiapan logistik dapat dimulai sebelum kebakaran terjadi. Penelitian Maulana dan tim dalam Journal of Sustainability Science and Management (2019) mengembangkan model prediksi kebakaran gambut di Bengkalis, Riau. Model yang diteliti memberikan waktu persiapan hingga dua bulan sebelum awal musim kebakaran.

Penelitian Hayati dan tim dalam Journal of Information Systems and Informatics (2026) juga menggunakan data titik panas Bengkalis periode 2015–2023 untuk mempelajari peluang kemunculan titik panas kebakaran berdasarkan faktor lingkungan dan aktivitas manusia.

Kedua penelitian tersebut berfokus pada prediksi risiko. Jika dipadukan dengan data akses jalan, sumber air, dan ketersediaan peralatan, informasi serupa dapat menjadi pertimbangan dalam perencanaan logistik. Wilayah berisiko dapat diprioritaskan untuk pemeriksaan peralatan, penyiapan persediaan, dan penentuan lokasi penempatan pasokan. Penerapannya tetap perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing daerah.

Persoalan ini berkaitan dengan bidang Teknik Logistik, yang membahas pengelolaan aliran barang, persediaan, transportasi, dan koordinasi rantai pasok. Program Studi Teknik Logistik Universitas Pertamina hadir untuk mengembangkan kemampuan sumber daya manusia dalam menjawab tantangan logistik dan konektivitas.

Dalam semangat UPER Berdampak, penerapan ilmu logistik untuk kesiapsiagaan bencana relevan dengan SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim dan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, serta Asta Cita ke-4 melalui penguatan pendidikan, sains, dan teknologi.

Tertarik mempelajari bagaimana perencanaan distribusi dapat membantu penanganan persoalan nyata? Kenali Program Studi Teknik Logistik Universitas Pertamina dan daftarkan dirimu melalui https://pmb.universitaspertamina.ac.id/

Referensi
Hayati, N., Sitanggang, I. S., Prasetyo, L. B., & Syaufina, L. (2026). Logistic regression modeling of peatland fire hotspots in Bengkalis District using integrated environmental and anthropogenic drivers. Journal of Information Systems and Informatics, 8(2), 2495–2528. https://journal-isi.org/index.php/isi/article/view/1560

Maulana, S. I., Syaufina, L., Prasetyo, L. B., & Aidi, M. N. (2019). Spatial logistic regression models for predicting peatland fire in Bengkalis Regency, Indonesia. Journal of Sustainability Science and Management, 14(3), 55–66.

MC Kota Palangka Raya. (2026, 20 Oktober). Fairid pantau pemadaman karhutla di Palangka Raya, petugas hadapi kendala air. InfoPublik.
https://infopublik.id/kategori/nusantara/993876/fairid-pantau-pemadaman-karhutla-di-palangka-raya-petugas-hadapi-kendala-air

Photo by Gustav Gullstrand on Unsplash
Thumbnail
Bagikan:
Bagikan ke WhatsApp
Bagikan ke Facebook
Bagikan ke X
Bagikan ke Telegram
Bagikan ke LinkedIn

Tinggalkan Balasan
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalan UU ITE

© 2026 Universitas Pertamina.
All rights reserved