Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Kalimantan turut mengancam simpanan karbon dalam tanah gambut. Di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, BPBD mencatat 981 kejadian kebakaran dengan sekitar 6.200 hektare lahan terdampak sejak pertengahan Juli hingga awal Oktober 2026. Di kawasan gambut, bara dapat bertahan di bawah permukaan dan kembali menyala setelah api di atasnya padam.
Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Kalimantan turut mengancam simpanan karbon dalam tanah gambut. Di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, BPBD mencatat 981 kejadian kebakaran dengan sekitar 6.200 hektare lahan terdampak sejak pertengahan Juli hingga awal Oktober 2026. Di kawasan gambut, bara dapat bertahan di bawah permukaan dan kembali menyala setelah api di atasnya padam.
Ketika gambut terbakar, senyawa organik di dalamnya mengalami reaksi kimia yang melepaskan karbon ke udara, antara lain sebagai karbon dioksida atau CO₂. Padahal, lahan gambut hanya mencakup sekitar 3–4 persen daratan bumi, tetapi menyimpan hingga sepertiga karbon tanah dunia. Besarnya simpanan ini menjelaskan mengapa kebakaran gambut menjadi persoalan penting dalam pengendalian perubahan iklim.
Lantas, bagaimana karbon bisa tersimpan begitu lama dalam gambut, dan mengapa pengeringan serta pembakaran membuatnya kembali terlepas? Jawabannya berkaitan dengan proses kimia yang berlangsung di dalam tanah.
1. Karbon Tersimpan dalam Senyawa Penyusun Tumbuhan
Karbon dalam gambut berasal dari karbon dioksida atau CO₂ yang diserap tumbuhan dari udara. Melalui fotosintesis, tumbuhan menggunakan air dan energi matahari untuk mengolah CO₂ menjadi gula. Gula ini digunakan untuk tumbuh dan membentuk jaringan daun, batang, serta akar. Ketika tumbuhan mati, sisa-sisanya diuraikan oleh mikroorganisme, lalu sebagian karbonnya kembali ke udara sebagai CO₂.
Di lahan gambut, tanah yang dipenuhi air membuat oksigen sulit masuk sehingga penguraian berlangsung lebih lambat. Akibatnya, sisa tumbuhan terus menumpuk dan menyimpan karbon selama ribuan tahun. Penguraian tetap dapat terjadi tanpa oksigen dan bisa menghasilkan metana atau CH₄, yang juga merupakan gas rumah kaca. Jadi, gambut dapat terus menyimpan karbon selama jumlah sisa tumbuhan yang masuk lebih banyak daripada yang terurai.
2. Mengering dan Terbakar, Karbon Kembali ke Udara
Karbon yang tersimpan dalam gambut dapat kembali terlepas ketika lahan mengering atau terbakar. Saat gambut mengering, oksigen lebih mudah masuk ke tanah sehingga mikroorganisme lebih cepat menguraikan sisa tumbuhan dan melepaskan karbon dioksida atau CO₂. Jika gambut terbakar, karbon di dalamnya juga dilepaskan melalui reaksi pembakaran. Pembakaran yang tidak sempurna turut menghasilkan karbon monoksida atau CO dan partikel asap.
Dampaknya cukup besar. Menurut Global Peatland Hotspot Atlas UNEP (2024), gambut yang rusak menghasilkan sekitar 1,94 miliar ton setara CO₂ per tahun, atau sekitar 4 persen emisi gas rumah kaca global akibat aktivitas manusia. Setara CO₂ merupakan ukuran untuk membandingkan dampak pemanasan berbagai gas rumah kaca. Namun, penelitian Tuomas J. Mattila (2024) menunjukkan bahwa emisi kerusakan gambut sering belum dihitung dalam jejak karbon produk. Akibatnya, dampak lingkungan produk pertanian dan kehutanan dari lahan tersebut dapat terlihat lebih rendah daripada yang sebenarnya.
3. Memahami Kimia Gambut untuk Menjaga Lingkungan
Menjaga gambut tetap basah membantu memperlambat penguraian sehingga karbon lebih lama tersimpan di dalam tanah. Untuk mengetahui apakah upaya ini berhasil mengurangi emisi, diperlukan pengukuran. Ilmu kimia berperan dalam mengukur kandungan karbon, tingkat keasaman atau pH, serta gas yang dilepaskan gambut, seperti CO₂ dan metana. Hasilnya membantu menilai kondisi gambut dan menentukan langkah pengelolaan yang sesuai.
Persoalan gambut menunjukkan bagaimana ilmu kimia dapat membantu menjawab tantangan lingkungan, mulai dari memahami perubahan senyawa hingga mengukur emisi gas rumah kaca. Tertarik mendalami bidang ini? Kenali Program Studi Kimia Universitas Pertamina dan daftarkan dirimu melalui pmb.universitaspertamina.ac.id.
Pemanfaatan ilmu kimia untuk mendukung perlindungan gambut sejalan dengan SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim melalui pengurangan emisi dan SDG 15: Ekosistem Daratan melalui pelestarian lahan gambut, serta Asta Cita ke-8 yang menekankan kehidupan harmonis dengan lingkungan dan alam. Dalam semangat UPER Berdampak, pengetahuan kimia dapat menjadi dasar untuk memahami kondisi gambut dan mendukung pengelolaan lingkungan berbasis data.
Photo by kazuend on Unsplash