Di tengah meningkatnya kebutuhan pengembangan teknologi migas yang efisien dan berkelanjutan, inovasi pada sektor rig pengeboran menjadi salah satu aspek penting dalam mendukung operasional industri energi modern.
Tantangan eksplorasi migas yang semakin kompleks menuntut hadirnya teknologi rig yang tidak hanya kuat secara struktur, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan efisiensi operasional, keselamatan kerja, dan stabilitas pada berbagai kondisi lapangan.
Menjawab tantangan tersebut, lima mahasiswa Program Studi Teknik Perminyakan Universitas Pertamina yang tergabung dalam Tim AGENOR berhasil menorehkan prestasi internasional dengan meraih gelar Champion pada OGIP 2026 International Oil Rig Design Competition yang diselenggarakan di UPN Veteran Yogyakarta pada 2 Mei 2026.
Capaian ini menjadi bukti kemampuan mahasiswa dalam mengembangkan inovasi rekayasa teknologi energi yang aplikatif dan relevan dengan kebutuhan industri migas saat ini.
Kompetisi tersebut diikuti oleh 125 peserta yang tergabung dalam 25 tim dari berbagai perguruan tinggi. Dalam ajang ini, setiap tim ditantang merancang konsep rig migas inovatif melalui pendekatan engineering yang komprehensif, mulai dari analisis kebutuhan lapangan, efisiensi desain struktur, hingga kemampuan rig dalam menghadapi simulasi pengujian beban di darat maupun perairan.
Selain menampilkan blueprint dan pemodelan tiga dimensi, peserta juga harus merealisasikan desain menjadi maket rig yang diuji secara langsung untuk mengukur kekuatan, stabilitas, dan akurasi struktur.
Tim AGENOR yang beranggotakan Muhammad Najeeb Mubarak, Yuda Ihsan Firmansyah, Alzikri Ramadhani, Putri Adelia Diranata, dan Muhammad Ridha Dhia Ulhaq berhasil menunjukkan kemampuan inovasi dan rekayasa teknologi melalui rancangan rig migas yang berfokus pada stabilitas struktur, optimalisasi distribusi beban, serta efisiensi operasional. Desain tersebut dikembangkan dengan mempertimbangkan kebutuhan lapangan dan standar keselamatan industri migas modern.
Pada tahap pre-eliminary, Tim AGENOR melakukan analisis studi kasus untuk menentukan konsep desain yang sesuai dengan kebutuhan operasional dan regulasi industri energi. Tim kemudian mengembangkan blueprint teknis dan pemodelan tiga dimensi secara detail guna memastikan struktur rig mampu memenuhi parameter kekuatan, keseimbangan, dan efisiensi desain sebelum direalisasikan dalam bentuk maket.
Muhammad Ridha Dhia Ulhaq menjelaskan bahwa tim berupaya menghadirkan desain rig yang tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga realistis dan adaptif terhadap tantangan industri migas modern.
“Kami merancang rig yang mampu mengintegrasikan kekuatan struktur, efisiensi operasional, dan aspek keselamatan kerja secara optimal dengan tetap memenuhi standar industri migas internasional,” ujarnya.
Pada tahap final, setiap tim mempresentasikan konsep desain dan mengikuti pengujian beban di darat maupun air untuk mengukur stabilitas serta ketahanan struktur terhadap simulasi kondisi operasional lapangan. Tahap ini menjadi penentu utama dalam menilai akurasi desain, distribusi beban, dan kemampuan rig dalam mempertahankan keseimbangan pada kondisi kerja yang kompleks dan berisiko tinggi.
Muhammad Najeeb Mubarak menyampaikan bahwa proses persiapan dilakukan secara intensif melalui riset, diskusi, dan pengembangan desain secara berulang agar rig yang dirancang mampu memenuhi seluruh parameter pengujian kompetisi.
“Prestasi ini memotivasi kami untuk terus mengembangkan inovasi teknologi perminyakan yang adaptif dan aplikatif guna mendukung kemajuan industri energi nasional,” katanya.
Prestasi Tim AGENOR menunjukkan bahwa inovasi teknologi energi tidak hanya lahir dari industri, tetapi juga dari ruang pembelajaran dan riset mahasiswa. Pengembangan desain rig yang adaptif dan efisien menjadi bagian penting dalam menjawab tantangan industri migas yang semakin kompleks, mulai dari aspek keselamatan kerja hingga efektivitas operasional di lapangan.