Material yang selama ini identik dengan bencana lingkungan ternyata menyimpan potensi lain yang bermanfaat. Melalui inovasi bernama LAMBO JERNIH (Lapindo Mud Adsorben), sivitas Universitas Pertamina berhasil mengembangkan teknologi filtrasi air berbasis Lumpur Lapindo yang dapat membantu menurunkan kandungan besi (Fe) dan mangan (Mn) dalam air.
Inovasi tersebut dikembangkan oleh Muhammad Afrizal Ichwanul Ulum bersama Dr. Eng. Ari Rahman, S.T., M.Eng., Muhammad Karunia Vivaldi, Muhammad Hasyim Hudoyo, Zakiyah Fadhilah Putri, dan Puti Nur Sakinah. Atas karya tersebut, tim berhasil memperoleh Surat Pencatatan Ciptaan dari Kementerian Hukum Republik Indonesia dengan nomor pencatatan 001218491 pada 4 Mei 2026.
Pengembangan LAMBO JERNIH berangkat dari upaya mencari solusi yang tidak hanya membantu meningkatkan kualitas air, tetapi juga memanfaatkan material lokal yang selama ini belum banyak digunakan. Lumpur Lapindo dipilih karena memiliki karakteristik mineral yang berpotensi dikembangkan sebagai material adsorben atau penyerap dalam proses pengolahan air.
Dalam proses pembuatannya, Lumpur Lapindo terlebih dahulu diaktivasi menggunakan larutan NaOH untuk membuka pori-pori material sehingga meningkatkan kemampuan adsorpsinya. Material kemudian melalui proses kalsinasi atau pemanasan suhu tinggi untuk menghilangkan zat pengotor dan memperkuat karakteristiknya sebagai media filtrasi.
Lumpur yang telah teraktivasi selanjutnya dikombinasikan dengan karbon aktif, serbuk keramik, dan kerikil dalam sistem filtrasi berlapis. Susunan material tersebut membentuk media penyaring yang dirancang untuk membantu memperbaiki kualitas air secara sederhana dan efisien.
Hasil pengujian laboratorium menunjukkan bahwa LAMBO JERNIH mampu membantu menurunkan kandungan besi (Fe) dan mangan (Mn) dalam air. Menariknya, sistem ini dapat beroperasi tanpa listrik maupun penambahan bahan kimia selama proses filtrasi, sehingga berpotensi menjadi alternatif teknologi pengolahan air yang lebih sederhana, mudah dirawat, dan terjangkau untuk diterapkan di masyarakat.
Menurut Muhammad Afrizal Ichwanul Ulum, inovasi ini lahir dari keinginan untuk menghadirkan solusi lingkungan yang memberikan manfaat ganda: membantu pengolahan air sekaligus meningkatkan nilai guna material yang selama ini dianggap sebagai limbah.
“Kami ingin menunjukkan bahwa Lumpur Lapindo tidak hanya dipandang sebagai limbah, tetapi juga memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi material adsorben yang bermanfaat dalam pengolahan air,” ujarnya.
Perolehan HKI atas LAMBO JERNIH turut mendapat dukungan dari Direktorat Inovasi dan Kewirausahaan Universitas Pertamina melalui Fungsi Pengembangan Produk dan Kekayaan Intelektual dalam program Raise UP. Program tersebut menjadi bagian dari komitmen universitas dalam mendorong hilirisasi riset, memperkuat budaya inovasi, serta meningkatkan perlindungan kekayaan intelektual hasil karya sivitas akademika.
Lebih dari sekadar capaian HKI, LAMBO JERNIH menunjukkan bagaimana penelitian di perguruan tinggi dapat menghasilkan solusi yang relevan terhadap tantangan lingkungan dan kebutuhan masyarakat. Melalui pendekatan inovatif, material yang sebelumnya dipandang sebagai limbah dapat diolah menjadi teknologi yang berpotensi mendukung akses terhadap air yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Inovasi ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 6 tentang Air Bersih dan Sanitasi Layak melalui pengembangan teknologi pengolahan air yang ramah lingkungan, serta SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab melalui pemanfaatan limbah menjadi material bernilai guna dan berkelanjutan. [MV]