ID / EN
Berita Kampus

Elastic FWI dan Wavefield Solutions Jadi Sorotan SEG Distinguished Lecture 2026


Published by: Universitas Pertamina Jumat, 5 Juni 2026
Dibaca: 41 kali
Pengembangan Carbon Capture and Storage (CCS) menjadi salah satu strategi penting dalam mendukung target transisi energi dan pengurangan emisi karbon di berbagai negara, termasuk Indonesia. Namun, keberhasilan penyimpanan karbon maupun eksplorasi energi sangat bergantung pada kemampuan memahami kondisi bawah permukaan secara akurat. 

Isu tersebut menjadi fokus pembahasan dalam kuliah tamu internasional bertajuk “SEG Distinguished Lecture – Next Generation Seismic Imaging: Elastic FWI and Wavefield Solutions for Seeing through Complex Carbonates” yang digelar Program Studi Teknik Geofisika Universitas Pertamina pada 18 Mei 2026. 

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Society of Exploration Geophysicists (SEG) Student Chapter Universitas Pertamina ini berlangsung di Auditorium dan diikuti oleh 100 peserta yang terdiri atas mahasiswa, akademisi, dan praktisi industri. Melalui kegiatan tersebut, peserta memperoleh wawasan mengenai perkembangan teknologi seismic imaging modern yang berperan penting dalam mendukung eksplorasi energi yang lebih akurat, efisien, dan berkelanjutan.

Kuliah tamu menghadirkan Dr. Ahmad Riza Ghazali, SEG Honorary Lecturer Pacific South 2026 sekaligus Custodian Geophysics and Head of Subsurface Imaging Petronas. Dalam pemaparannya, Dr. Ahmad menjelaskan penerapan Elastic Full Waveform Inversion (FWI) dan wavefield solutions untuk meningkatkan kualitas pencitraan bawah permukaan, khususnya pada struktur karbonat yang kompleks.

Menurutnya, batuan karbonat merupakan salah satu tantangan terbesar dalam pencitraan seismik karena memiliki karakteristik geologi yang rumit dan sulit dipetakan secara detail. Kondisi tersebut kerap meningkatkan ketidakpastian dalam proses eksplorasi energi maupun evaluasi lokasi penyimpanan karbon.

“Batuan karbonat menyimpan kompleksitas bawah permukaan yang sulit dipetakan. Namun melalui pendekatan full physics approach, teknologi seismic imaging kini mampu memberikan pencitraan yang lebih jelas dan akurat untuk mendukung eksplorasi energi,” ujar Dr. Ahmad.

Ia menjelaskan bahwa perkembangan teknologi seismic imaging modern mampu meningkatkan akurasi identifikasi struktur bawah permukaan sehingga membantu perusahaan energi mengurangi ketidakpastian sebelum proses investasi dan pengeboran dilakukan. Kemampuan menghasilkan citra bawah permukaan yang lebih detail juga berkontribusi pada pengambilan keputusan yang lebih tepat dalam pengembangan lapangan energi maupun proyek CCS.

Penerapan Elastic FWI dan integrasi gelombang multi geometri diketahui memberikan peningkatan signifikan terhadap kualitas pencitraan bawah permukaan. Teknologi ini mampu mengurangi efek gas cloud dan zona bayangan sehingga reservoir karbonat tipis dapat dipetakan dengan lebih presisi.

“Perkembangan seismic imaging modern membantu industri mengurangi risiko dry hole dan menjaga seal integrity pada proyek Carbon Capture and Storage (CCS). Teknologi ini juga mendukung pengambilan keputusan eksplorasi yang lebih aman, efektif, dan efisien,” jelas Dr. Ahmad.

Dalam industri energi, peningkatan akurasi pencitraan bawah permukaan menjadi faktor penting karena dapat membantu menekan risiko kegagalan pengeboran yang berpotensi menimbulkan kerugian investasi dalam jumlah besar. Di sisi lain, pada proyek CCS, pemahaman yang akurat terhadap kondisi geologi diperlukan untuk memastikan karbon dapat tersimpan secara aman dalam jangka panjang.

Kegiatan ini juga dihadiri oleh praktisi industri dari berbagai perusahaan energi dan geosains, di antaranya Elnusa, SLB, Pertamina Hulu Energi, PHE OSES, Pertamina EP Cepu, Ikon Science, DUG, dan BGP. Kehadiran para profesional industri membuka ruang diskusi mengenai perkembangan teknologi bawah permukaan sekaligus memperkuat kolaborasi antara dunia akademik dan industri energi.

Ketua Program Studi Teknik Geofisika Universitas Pertamina, Dicky Ahmad Zaky, M.T., menyampaikan bahwa perkembangan teknologi geosains saat ini menuntut kolaborasi yang semakin erat antara perguruan tinggi dan industri.

“Perkembangan teknologi geosains menuntut kolaborasi yang kuat antara akademisi dan industri. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya memahami perkembangan seismic imaging modern, tetapi juga memperoleh perspektif langsung mengenai tantangan dan kebutuhan industri energi di masa depan,” ujar Dicky.

Selain memperluas wawasan akademik, kegiatan ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk memahami teknologi yang saat ini digunakan dalam proyek-proyek energi global. Kompetensi di bidang seismic imaging, karakterisasi reservoir, dan CCS diperkirakan akan semakin dibutuhkan seiring berkembangnya industri energi rendah karbon dan upaya dekarbonisasi di berbagai negara.

Melalui kolaborasi antara akademisi dan praktisi industri dalam pengembangan teknologi geosains modern, Universitas Pertamina terus memperkuat komitmennya dalam menyiapkan talenta energi masa depan yang mampu menjawab tantangan transisi energi global. 

Kegiatan ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) poin 7 tentang Energi Bersih dan Terjangkau melalui penguatan kapasitas sumber daya manusia di sektor energi berkelanjutan. [MP]
Thumbnail Thumbnail
Bagikan:
Bagikan ke WhatsApp
Bagikan ke Facebook
Bagikan ke X
Bagikan ke Telegram
Bagikan ke LinkedIn

Tinggalkan Balasan
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalan UU ITE

© 2026 Universitas Pertamina.
All rights reserved