Kebakaran hutan dan lahan yang terus terjadi di Kalimantan menjadi pekerjaan besar yang harus ditangani bersama. Di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, BPBD mencatat 981 kejadian kebakaran dengan sekitar 6.200 hektare lahan terdampak sejak pertengahan Juli hingga awal Oktober 2026. Di kawasan gambut, pemadaman menghadapi tantangan karena bara di bawah permukaan dapat kembali menyala meski api di atasnya telah padam.
Namun, yang dipertaruhkan bukan hanya vegetasi di permukaan. Kebakaran juga mengancam lapisan gambut yang menyimpan karbon dan rekaman perubahan lingkungan selama ribuan tahun. Penelitian Anshari dan tim (2026) mencatat bahwa gambut di sejumlah lokasi pedalaman Kalimantan memiliki ketebalan lebih dari 7 meter.
Bagaimana lapisan setebal itu terbentuk, dan apa yang dapat kita pelajari dari sejarahnya?
1. Berawal dari Sisa Tumbuhan yang Tidak Terurai Sempurna
Gambut terbentuk dari daun, ranting, batang, dan akar yang menumpuk di tempat basah, seperti rawa. Tanah yang terus terendam air memiliki sedikit oksigen sehingga sisa tumbuhan lebih lambat membusuk. Sementara itu, tumbuhan terus tumbuh dan menggugurkan daun atau mati. Sisa-sisanya menambah tumpukan yang belum selesai terurai.
Proses ini berlangsung berulang selama ribuan tahun hingga membentuk lapisan gambut yang tebal. Karbon yang diserap tumbuhan dari udara selama masa hidupnya ikut tersimpan di dalam lapisan tersebut. Penelitian Treat dan tim dalam PNAS (2019) menjelaskan bahwa kondisi basah dan minim oksigen memungkinkan penyimpanan karbon ini berlangsung dalam waktu panjang.
Namun, gambut tidak selalu bertambah tebal dengan kecepatan yang sama. Pertumbuhannya bergantung pada jumlah sisa tumbuhan dan kondisi lingkungan, terutama ketersediaan air. Jika tanah mengering, oksigen lebih mudah masuk dan mempercepat pembusukan. Akibatnya, timbunan gambut dapat berkurang dan sebagian karbonnya kembali terlepas ke udara.
2. Lapisan Gambut Merekam Sejarah Ribuan Tahun
Gambut di setiap wilayah tidak terbentuk pada waktu yang sama. Penelitian Gusti Z. Anshari dan tim dalam Scientific Reports (2026) menelusuri perbedaan tersebut melalui 15 sampel berbentuk kolom yang diambil dari lapisan gambut di Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur. Peneliti menggunakan 55 hasil pengukuran radiokarbon, yaitu metode untuk memperkirakan umur sisa tumbuhan dalam sampel.
Hasilnya, gambut di sejumlah lokasi pedalaman mulai terbentuk lebih dari 11.700 tahun lalu. Sementara itu, gambut pesisir yang diteliti terbentuk lebih belakangan, ketika permukaan laut berada pada posisi tinggi setelah zaman es. Artinya, perbedaan lokasi dan kondisi lingkungan turut menentukan awal pembentukan gambut.
Dalam cakupan global, Treat dan tim dalam PNAS (2019) meneliti 1.063 catatan lapisan gambut yang tertimbun untuk menelusuri keberadaannya selama 130.000 tahun terakhir. Di wilayah utara bumi, gambut meluas pada masa hangat, lalu sebagian tertutup es dan endapan tanah ketika gletser meluas. Sementara di wilayah tropis, tertimbunnya gambut lebih banyak dipengaruhi perubahan muka laut dan kondisi air setempat.
Lapisan gambut pun dapat dibaca seperti arsip alam. Umur dan susunan lapisannya membantu peneliti mengetahui kapan suatu kawasan mulai menjadi rawa serta bagaimana lingkungan di sekitarnya berubah.
Untuk membaca arsip tersebut, diperlukan pemahaman tentang lapisan endapan, bentang alam, dan air bawah permukaan. Di sinilah ilmu geologi berperan. Analisis lapisan serta penentuan umur material membantu menjelaskan kapan gambut terbentuk dan bagaimana lingkungannya berubah.
Pemahaman ini juga relevan bagi perlindungan gambut. Penelitian Anshari dan tim menegaskan pentingnya keseimbangan air untuk mempertahankan penyimpanan karbon. Pengeringan lahan memungkinkan oksigen masuk lebih banyak, mempercepat penguraian, dan meningkatkan kerentanan terhadap kebakaran.
Keterkaitan antara proses kebumian dan lingkungan tersebut sejalan dengan cakupan Program Studi Teknik Geologi Universitas Pertamina (UPER). Prodi ini mempelajari bumi dalam dimensi ruang dan waktu, dengan fokus pada sumber daya energi serta lingkungan, termasuk geologi rekayasa dan hidrogeologi. Keilmuan tersebut menjadi bekal untuk memahami perubahan bumi dan mendukung pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan.
Tertarik mengungkap sejarah di balik lapisan bumi sekaligus berkontribusi bagi keberlanjutan lingkungan? Daftarkan dirimu ke Program Studi Teknik Geologi Universitas Pertamina melalui pmb.universitaspertamina.ac.id. Referensi
Anshari, G. Z., Ruwaimana, M., Ritonga, R. P., Gangga, A., Loisel, J., Galego-Sala, A. V., van der Kaars, S., & Novita, N. (2026). Peatland inception and development across Kalimantan, Indonesia. Scientific Reports, 16, Article 5496. https://doi.org/10.1038/s41598-026-35152-x
Treat, C. C., Kleinen, T., Broothaerts, N., Dalton, A. S., Dommain, R., Douglas, T. A., Drexler, J. Z., Finkelstein, S. A., Grosse, G., Hope, G., Hutchings, J., Jones, M. C., Kuhry, P., Lacourse, T., Lähteenoja, O., Loisel, J., Notebaert, B., Payne, R. J., Peteet, D. M., … Brovkin, V. (2019). Widespread global peatland establishment and persistence over the last 130,000 y. Proceedings of the National Academy of Sciences, 116(11), 4822–4827. https://doi.org/10.1073/pnas.1813305116 Photo by
Barkah Wibowo on
Unsplash