ID / EN
Berita Populer

Sering Dianggap Berbahaya, Ternyata Sampah Ini Bisa Bikin Ayam Tumbuh Lebih Sehat


Published by: Universitas Pertamina Rabu, 1 Juli 2026
Dibaca: 2 kali
Di tempat pembuangan sampah, ada satu cairan berwarna gelap yang hampir selalu dianggap sebagai limbah berbahaya: air lindi (leachate). Cairan yang terbentuk dari rembesan sampah organik ini identik dengan bau menyengat, pencemaran tanah, hingga kandungan logam berat yang berpotensi membahayakan lingkungan.

Namun, bagaimana jika limbah yang selama ini dihindari justru bisa diubah menjadi produk yang bermanfaat?

Inilah yang ditunjukkan dalam sebuah penelitian yang melibatkan peneliti dari Program Studi Kimia Universitas Pertamina. Melalui pendekatan kimia dan pengolahan limbah, limbah cair organik berhasil dimanfaatkan menjadi produk protein imun (protim) yang membantu meningkatkan pertumbuhan ayam pedaging.

Kenapa Leachate Selalu Dianggap Berbahaya?

Leachate atau air lindi terbentuk ketika air hujan maupun cairan dari sampah organik meresap melalui tumpukan sampah. Selama proses tersebut, berbagai senyawa ikut larut sehingga menghasilkan cairan yang mengandung campuran senyawa organik maupun anorganik.

Secara kimia, leachate dapat mengandung:
  • senyawa organik seperti hidrokarbon, asam lemak, dan fenol;
  • unsur hara seperti nitrogen, fosfor, dan kalium;
  • logam berat seperti besi, mangan, seng, kadmium, hingga merkuri, terutama apabila berasal dari tempat pembuangan yang tercampur sampah anorganik.

Inilah alasan mengapa leachate tidak dapat langsung dimanfaatkan. Tanpa pengolahan yang tepat, kandungan logam berat maupun senyawa toksiknya dapat membahayakan manusia, hewan, maupun lingkungan.

Dari Limbah Menjadi Produk Bernilai Lewat Rekayasa Kimia

Di sinilah ilmu kimia berperan penting.

Alih-alih menggunakan air lindi dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA), penelitian ini memanfaatkan limbah cair organik hasil pemisahan sampah sayur, buah, dan sisa makanan yang kemudian diproses menjadi bahan baku produk protein imun.

Prosesnya melibatkan beberapa tahapan, yaitu:
  • pemilahan sampah organik;
  • pencacahan dan pengepresan untuk memperoleh cairan lindi;
  • pencampuran dengan ekstrak tanaman keluarga Zingiberaceae (temu-temuan);
  • penambahan minyak sawit (Crude Palm Oil/CPO);
  • penambahan lemak sapi;
  • pencampuran air kelapa tua sebagai bagian formulasi produk.

Dari sudut pandang kimia, formulasi tersebut bukan sekadar mencampur berbagai bahan, melainkan mengombinasikan sumber senyawa bioaktif, lipid, vitamin, dan nutrien yang saling melengkapi sehingga menghasilkan produk yang disebut protein imun (protim).

Apa Peran Kimia di Balik Formula Ini?

Setiap bahan dipilih berdasarkan sifat kimianya.

Misalnya, CPO mengandung beta-karoten dan vitamin E yang berfungsi sebagai antioksidan. Senyawa ini membantu melindungi sel dari radikal bebas sekaligus mendukung metabolisme ayam selama masa pertumbuhan.

Sementara itu, tanaman temu-temuan mengandung berbagai senyawa fitokimia yang telah lama dikenal memiliki aktivitas biologis, termasuk membantu menjaga kondisi tubuh ternak.

Air kelapa berfungsi sebagai sumber berbagai mineral dan elektrolit, sedangkan lemak hewani menyediakan asam lemak yang berperan sebagai sumber energi serta mendukung pembentukan jaringan tubuh.
Dengan pendekatan formulasi tersebut, limbah cair organik tidak lagi dipandang sebagai bahan buangan, melainkan sebagai salah satu komponen yang dapat dimanfaatkan setelah melalui proses pengolahan yang tepat.

Benarkah Ayam Tumbuh Lebih Baik?

Penelitian membandingkan ayam broiler yang diberi tambahan protein imun dalam air minumnya dengan ayam yang dipelihara secara konvensional.

Hasilnya menunjukkan perbedaan yang cukup mencolok.

Pada usia panen 35 hari, ayam yang memperoleh protein imun memiliki bobot:
  • 2.732 gram
  • 2.670 gram
  • 2.458 gram
Sementara kelompok tanpa protein imun hanya mencapai:
  • 1.749 gram
  • 2.238 gram
  • 2.338 gram

Selain bobot yang lebih tinggi, peneliti juga mengamati ayam yang memperoleh protein imun memiliki konsumsi pakan yang lebih efisien serta pertumbuhan bulu yang relatif lebih sedikit sehingga energi lebih banyak diarahkan untuk pembentukan massa tubuh.

Pengolahan Limbah yang Mendukung Ekonomi Sirkular

Temuan ini menunjukkan bahwa limbah tidak selalu harus berakhir sebagai sumber pencemaran.
Melalui pendekatan kimia, bahan yang semula dianggap tidak bernilai dapat diubah menjadi produk baru yang memiliki manfaat ekonomi sekaligus mendukung pengurangan limbah organik.

Konsep seperti ini sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular, yaitu memanfaatkan kembali sumber daya agar memiliki nilai tambah, mengurangi volume limbah yang dibuang ke lingkungan, dan membuka peluang inovasi berbasis sains.

Meski demikian, peneliti juga menegaskan bahwa keamanan tetap menjadi aspek utama. Air lindi yang digunakan harus berasal dari limbah organik yang telah dipilah dengan baik dan melalui proses pengolahan yang memadai. Pengujian kandungan logam berat maupun uji toksisitas tetap diperlukan sebelum produk dapat diaplikasikan secara lebih luas.

Inilah Pentingnya Belajar Kimia

Banyak orang mengenal kimia hanya sebagai pelajaran tentang rumus dan reaksi di laboratorium. Padahal, ilmu kimia memiliki peran yang jauh lebih luas dalam menjawab berbagai persoalan nyata, mulai dari pengolahan limbah, pengembangan pangan, kesehatan, energi, hingga keberlanjutan lingkungan.

Riset ini menjadi salah satu contoh bagaimana pemahaman terhadap sifat-sifat senyawa kimia mampu mengubah limbah yang sebelumnya dipandang sebagai masalah menjadi inovasi yang berpotensi memberikan manfaat bagi sektor peternakan dan lingkungan.

Melalui riset-riset seperti ini, Program Studi Kimia Universitas Pertamina menunjukkan bahwa ilmu kimia tidak hanya berfokus pada reaksi di laboratorium, tetapi juga berperan dalam menciptakan solusi inovatif bagi berbagai tantangan nyata, mulai dari pengelolaan limbah, pengembangan material, kesehatan, hingga ketahanan pangan. Dengan menggabungkan pemahaman tentang senyawa kimia, analisis laboratorium, dan pendekatan keberlanjutan, mahasiswa didorong untuk menghasilkan inovasi yang mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat dan industri.

Inovasi pemanfaatan limbah cair organik menjadi produk bernilai tambah ini juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 9: Industry, Innovation and Infrastructure melalui pengembangan teknologi berbasis riset, SDG 12: Responsible Consumption and Production melalui optimalisasi limbah menjadi sumber daya yang bermanfaat, serta SDG 2: Zero Hunger dengan mendukung produktivitas sektor peternakan secara lebih efisien dan berkelanjutan.

Tertarik mempelajari bagaimana ilmu kimia dapat melahirkan berbagai inovasi yang berdampak bagi kehidupan? Bergabunglah bersama Program Studi Kimia Universitas Pertamina dan jadilah bagian dari generasi ilmuwan yang berkontribusi dalam menciptakan solusi untuk masa depan yang lebih berkelanjutan. Informasi lengkap mengenai pendaftaran mahasiswa baru dapat diakses melalui laman Penerimaan Mahasiswa Baru Universitas Pertamina.

Referensi: 
Bahri, S., Berghuis, N. T., Ambarwati, Y., Sari, R., & Nurfaradina, Z. A. (2025). Utilization of Organic Waste into Immunity Protein Products and Its Application in Broiler Chicken Growth. Stannum: Jurnal Sains dan Terapan Kimia, 7(1), 25-36. 

Thumbnail
Bagikan:
Bagikan ke WhatsApp
Bagikan ke Facebook
Bagikan ke X
Bagikan ke Telegram
Bagikan ke LinkedIn

Tinggalkan Balasan
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalan UU ITE

© 2026 Universitas Pertamina.
All rights reserved