Setiap empat tahun sekali, Piala Dunia selalu menghadirkan fenomena yang sama. Kafe dipenuhi penonton yang menggelar nonton bareng (nobar), grup WhatsApp ramai dengan prediksi skor, sementara media sosial dibanjiri komentar, meme, hingga video reaksi setelah pertandingan berakhir. Tak sedikit pula orang yang rela mengorbankan waktu tidur demi menyaksikan laga yang berlangsung dini hari.
Menariknya, antusiasme tersebut tidak hanya datang dari penggemar sepak bola. Banyak orang tetap mengikuti pertandingan meskipun negara favoritnya telah tersingkir atau bahkan tidak memiliki tim yang didukung secara khusus.
Lantas, mengapa menonton Piala Dunia bisa membuat banyak orang merasa begitu antusias dan bahagia?
Menonton Pertandingan Ternyata Meningkatkan Kebahagiaan
Fenomena tersebut ternyata memiliki penjelasan ilmiah. Penelitian Guo, Yang, dan Zhang (2024) yang melibatkan 885 responden di Tiongkok menemukan bahwa menonton pertandingan olahraga berpengaruh positif terhadap subjective wellbeing atau kebahagiaan seseorang. Namun, faktor yang memberikan pengaruh terbesar bukanlah pertandingan itu sendiri, melainkan interaksi sosial yang terbangun selama proses menonton. Sementara itu, pengalaman emosional juga berkontribusi meningkatkan kebahagiaan, meskipun pengaruhnya tidak sebesar interaksi sosial.
Temuan ini menjelaskan mengapa budaya nobar selalu menjadi bagian dari setiap penyelenggaraan Piala Dunia. Ketika berkumpul bersama keluarga, teman, maupun komunitas, penonton tidak hanya menyaksikan pertandingan, tetapi juga saling berdiskusi, memprediksi skor, bercanda, hingga merayakan kemenangan atau menerima kekalahan bersama. Interaksi tersebut menciptakan pengalaman yang jauh lebih berkesan dibandingkan menonton seorang diri.
Piala Dunia Bukan Sekadar Pertandingan, tetapi Peristiwa Komunikasi
Menurut dosen Program Studi Komunikasi Universitas Pertamina, Ita Musfirowati Hanika, S.Sos., M.I.Kom., fenomena ini menunjukkan bahwa olahraga telah berkembang menjadi ruang komunikasi yang mempertemukan jutaan orang dalam satu pengalaman yang sama.
"Banyak orang mengira mereka menonton Piala Dunia hanya karena menyukai sepak bola. Padahal, yang membuat pengalaman tersebut begitu berkesan adalah interaksi yang terjadi selama proses menonton. Orang berdiskusi, saling bertukar pendapat, berbagi emosi, hingga merasa menjadi bagian dari komunitas yang lebih besar. Inilah yang membuat menonton pertandingan menjadi pengalaman sosial, bukan sekadar aktivitas hiburan," jelas Ita.
Menurutnya, media memiliki peran penting dalam membentuk pengalaman tersebut. Siaran langsung pertandingan menjadi titik awal lahirnya berbagai bentuk komunikasi, mulai dari percakapan antarteman, diskusi di media sosial, unggahan video reaksi, hingga berbagai konten kreatif yang diproduksi oleh penggemar.
Mengapa Nobar Selalu Terasa Lebih Seru?
Berdasarkan hasil penelitian Guo dkk. (2024), interaksi sosial menjadi jalur utama yang meningkatkan kebahagiaan penonton. Hal ini menjelaskan mengapa banyak orang lebih memilih menonton pertandingan bersama dibandingkan sendirian.
Saat gol tercipta, seluruh ruangan bersorak bersama. Ketika penalti gagal, semua orang ikut menahan napas. Momen-momen tersebut menciptakan pengalaman emosional yang dibangun secara kolektif sehingga terasa lebih intens dan lebih mudah dikenang.
"Yang dicari banyak orang sebenarnya bukan hanya hasil pertandingan, tetapi pengalaman berbagi momen dengan orang lain. Piala Dunia menghadirkan topik percakapan yang sama bagi jutaan orang di berbagai negara. Dari situlah muncul rasa memiliki, kebersamaan, dan keterhubungan sosial," tambah Ita.
Di era digital, pengalaman tersebut bahkan tidak berhenti ketika pertandingan selesai. Percakapan terus berlanjut melalui media sosial, grup percakapan, meme, podcast olahraga, hingga konten video yang memperpanjang pengalaman menonton. Dengan kata lain, pertandingan hanyalah awal dari proses komunikasi yang berlangsung jauh lebih lama.
Dari Piala Dunia hingga Media Sosial, Semua Bisa Dikaji dalam Komunikasi
Fenomena Piala Dunia menunjukkan bahwa media tidak hanya berfungsi menyampaikan informasi, tetapi juga membentuk cara masyarakat berinteraksi, merasakan emosi, membangun identitas, hingga menciptakan budaya populer.
Kajian mengenai budaya nobar, fandom olahraga, komunikasi digital, perilaku audiens, viralitas konten, hingga bagaimana media memengaruhi pengalaman sosial merupakan bagian dari studi dalam ilmu komunikasi. Fenomena sehari-hari yang tampak sederhana ternyata menyimpan proses komunikasi yang kompleks dan menarik untuk diteliti.
Di Program Studi Komunikasi Universitas Pertamina, mahasiswa mempelajari berbagai fenomena tersebut melalui mata kuliah seperti Literasi Media, Komunikasi Massa, Psikologi Komunikasi, Komunikasi Digital, Perilaku Konsumen, hingga Manajemen Public Relations. Pembelajaran tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga mendorong mahasiswa menganalisis isu-isu aktual, melakukan riset, serta menghasilkan solusi komunikasi yang relevan dengan perkembangan masyarakat.
Bagi kamu yang tertarik memahami bagaimana media membentuk cara berpikir, berinteraksi, dan berperilaku masyarakat—mulai dari fenomena Piala Dunia, budaya fandom, hingga tren media sosial—Program Studi Komunikasi Universitas Pertamina menjadi tempat yang tepat untuk mengembangkan wawasan sekaligus keterampilan menghadapi tantangan industri komunikasi di era digital.
Referensi: