Tingkatkan Kesadaran Bahaya Narkoba di Kalangan Mahasiswa, Universitas Pertamina dan BNN Bekerjasama Adakan Kegiatan Seminar Kenali dan Jauhi Narkoba

Kasubdit Masyarakat dan Pendidikan Badan Narkotika Nasional(BNN) Sudirman, Msi bersama Direktur Kemahasiswaan Universitas Pertamina DR. Rifki Muhida menunjukan poster jenis-jenis narkotika serta menjelaskan bahaya dari tiap jenis narkotika kepada para mahasiswa di ruang Auditorium, Universitas Pertamina pada, Rabu (18/4/18). Foto/HumasUP

Jakarta – Guna mengedukasi mahasiswa terhadap bahaya penggunaan narkoba, Direktorat Kemahasiswaan bersama dengan Kantor Wakil Rektor III Bidang Riset, Pengembangan dan Kerjasama Universitas Pertamina dan Badan Narkotika Nasional (BNN) mengadakan seminar bertema “UPBringing: Kenali dan Jauhi Narkoba” yang dilaksanakan pada hari Rabu, 18 April 2018 di Auditoriumm Lantai 3, Gedung Griya Legita, Universitas Pertamina. Menghadirkan Sudirman, Msi selaku Kasubdit Masyarakat dan Pendidikan Badan Narkotika Nasional, Sudirman ingin mengajak generasi penerus bangsa untuk membangun diri dengan ilmu dan kegiatan yang bermanfaat dan berani mengatakan tidak kepada narkoba dan segala zat adiktif lainnya.

Sudirman menuturkan bahwa perkembangan teknologi yang semakin cepat menjadikan Indonesia masuk dalam pusaran ancaman “Proxy War” atau Perang Proxy yang didefinisikan sebagai perang antara dua pihak yang tidak saling berhadap-hadapan namun menggunakan pihak ketiga untuk mengalahkan musuh. Dalam Perang Proxy, antara musuh maupun kawan sudah tidak bisa dikenali karena musuh mengendalikan aktor non-negara. Adapun bentuk ancaman Perang Proxy yang terjadi di Indonesia adalah  gerakan separatis, bentrok atau tawuran antar kelompok, radikalisme, demonstrasi anarkis, pronografi dan pornoaksi, serta kejahatan narkoba. Dari sekian banyak ancaman Perang Proxy yang ada, kejahatan narkoba menjadi salah satu ancaman yang paling serius untuk ditangani oleh seluruh elemen mengingat penyalahgunaan dan penyelundupan narkoba sudah masuk kategori luar biasa. Sudirman menambahkan bahwa BNN telah menemukan narkoba yang diekstrak menjadi kue dengan kandungan THC yang sudah beredar di Indonesia. “Penjualan melalui online shop yang ditujukan ke kampus/sekolah,” tandasnya.

Menurut Undang-Undang No.35/2009 tentang Narkotika, Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan. Narkotika sendiri dibagi 3 (tiga) golongan yaitu golongan I seperti Heroin/Putaw, Ganja, Cocain, Opium, dan lain sebagainya. Golongan I tidak digunakan dalam pengobatan dan berpotensi menyebabkan ketergantungan bagi pemakainya. Sedangkan golongan II terdiri dari Morfin, Pethidin, dan Metadona yang terkadang digunakan sebagai alternatif dalam pengobatan atau terapi. Untuk golongan III seperti Codein, Etil, dan Morfin (Dionin) berpotensi ringan menyebabkan ketergantungan dan banyak digunakan dalam terapi. Adapun untuk Psikotropika dibagi menjadi 4 (empat) golongan yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan syaraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental perilaku. Masing-masing zat tersebut memiliki perbedaan dalam penggunaannya; dihisap, dihirup, ditelan, dan disuntik.

Sudirman menjelaskan bahwa Narkoba memiliki dampak yang sangat berbahaya bagi otak manusia bahkan hingga menyebabkan kematian, “Berbagai permasalahan biasanya muncul setelah orang mengkonsumsi Narkoba mulai dari dari penilaian yang salah (disorientasi ruang dan waktu), kegelisahan akut, paranoid, kecanduan, pandangan kabur, perilaku aneh, tidak menentu dan kadang kasar, halusinasi, depresi, sakau, bahkan bisa menyebabkan penggunanya meninggal.”

Saat ini BNN sedang menggalakkan Kebijakan Wujudkan Generasi Indonesia Emas Bersih Narkoba 2045 dengan bekonsentrasi kepada 2 (dua) aspek yaitu aspek pengurangan permintaan yang terdiri dari mengembangkan sistem pertahanan diri (imunitas) masyarakat secara intensif melalui upaya promotif dan pengembangan kecakapan hidup sejak usia dini, mengembangkan sistem deteksi dini penyalahgunaan narkoba di lingkungan keluarga, pendidikan, kerja, dan masyarakat, mengoptimalisasi peran serta instansi pemerintah, swasta, dan organisasi kemasyarakatan (agama, wanita, pemuda, profesi, dll) dalam upaya pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba, dan mengembangkan layanan rehabilitasi pecandu narkoba secara terpadu dan berkelanjutan di seluruh wilayah dan penawaran. Sedangkan aspek kedua yaitu pengurangan pasokan yang terdiri dari memperkuat sistem interdiksi di wilayah jalur-jalur masuk (pelabuhan laut, bandara, dan lintas batas), mengungkap jaringan tindak kejahatan narkoba hingga tuntas, menyita aset sindikat narkoba yang berasal dari tindak kejahatan narkoba, meningkatkan koordinasi dan kerjasama lintas instansi dan lintas negara dalam rangka pengungkapan sindikat tindak kejahatan narkoba, meningkatkan profesionalisme Penyidik BNN, dan mendorong eksekusi mati terhadap terpidana mati kasus narkoba untuk memberikan efek jera. (IMH)