Manfaatkan Kopi sebagai Alat Diplomasi, Program Studi Ekonomi Gelar Seminar Bertajuk “Dari Kopi Hingga Afrika”

JAKARTA – Diplomasi ekonomi merupakan prioritas utama diplomasi Indonesia dalam upaya memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Untuk mendukung hal tersebut,  Indonesia sebagai negara penghasil kopi terbesar keempat di dunia dapat memanfaatkan kopi sebagai jalur diplomasi untuk dapat memperkuat hubungan antar negara meskipun produksi kopi di Indonesia menghadapi berbagai tantangan baik dari segi produktivitas maupun kualitas.

Untuk meningkatkan pengetahuan mahasiswa mengenai diplomasi kopi, Program Studi Ekonomi bekerja sama dengan Kantor Wakil Rektor III mengadakan seminar bertajuk Dari Kopi Hingga Afrika pada Jumat (9/11/2018) di Auditorium Universitas Pertamina dengan menghadirkan Direktur Sekolah Staf dan Pimpinan Kementerian Luar Negeri (Sesparlu), June Kuncoro Hadiningrat, Kepala Subdirektorat Penanganan Sengketa perdagangan dan Kekayaan intelektual, Direktorat Perdagangan, Komoditas dan Kekayaan Intelektual, Kementerian Luar Negeri, Adi Dzulfuat, Q Grader dan Roaster, Traffique Cafe, Kristaan Batafor dan Managing Director, Traffique Cafe, Kepala Museum Konferensi Asia Afrika (KAA) Meinarti Fauzie.

“Seminar Diplomasi Ekonomi Indonesia: Dari Kopi Hingga Afrika dapat menjadi proses pembelajaran bagi mahasiswa Universitas Pertamina terkait diplomasi ekonomi khususnya mengenai komoditi kopi dan pasar non-tradisional Afrika. Topik ini sangat relevan untuk diketahui para mahasiswa”, demikian disampaikan Budi W. Soetjipto, Ph.D, Wakil Rektor III Bidang Riset, Pengembangan dan Kerjasama di hadapan para peserta seminar ‘Diplomasi Ekonomi: Dari Kopi Hingga Afrika.”

Seperti diketahui, sebelum ekspor terbesar komoditi non-migas direbut oleh minyak kelapa sawit, kopi adalah komoditi ekspor setelah karet. Pada waktu itu delegasi Indonesia dibantu pengusaha yang tergabung dalam International Coffee Organization mengelola dan menjaga kestabilan pasar serta sistem kuota maupun buffer stocking. Namun ketika perekonomian dunia menuju orientasi pasar bebas kestabilan harga menjadi kelangkaan walaupun rule based system masih berlaku. Hal ini menyebabkan komoditi kopi Indonesia mengalami tekanan hebat. “Hal ini juga diperparah karena sejak 1989 kesepakatan tentang kuota yang berkolerasi dengan harga membuat Brazil menurunkan produksinya. Bahkan Amerika yang pada saat itu berstatus sebagai konsumen terbesar meningkatkan standarisasi bagi negara-negara pengekspor,” imbuh Jane.

Menurutnya sangat penting bagi pemerintah dan para pemangku kepentingan melakukan fungsi negoisasi dan promosi, dari kerjasama pengendalian harga menuju persaingan. Selain itu Soemadi juga menekankan untuk menjadikan kopi Indonesia lebih berkualitas. Karena selama ini kopi Indonesia masih dikenal sebagai kopi curah (blending) yang di mana hanya sebagai bahan campuran saja. Oleh karena itu perlu adanya fungsi branding dalam rangka memperkenalkan kopi dengan nama khas yang berkarakter. Selain itu dalam fungsi diplomasi kopi diperlukan konsep Business to Business (B2B) agar transaksi yang berjalan mampu lebih cair dan memperluas pangsa pasar, artinya tidak lagi terkendala dengan permasalahan birokrat yang cenderung kaku. (RAS)

Direktur (Sesparlu) Sekolah Staf dan Pimpinan Luar Negeri, Kementerian Luar Negeri, June Kuncoro H memberikan kata sambutan dalam acara Seminar Ekonomi “Diplomasi Ekonomi dari Kopi hingga Afrika” yang diselenggarakan oleh Program Studi Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pertamina, di Ruang Auditorium, Gedung Griya Legita, Universitas Pertamina. Jumat (9/11/2018).

Kepala Subdirektorat Penanganan Sengketa perdagangan dan Kekayaan intelektual, Direktorat Perdagangan, Komoditas dan Kekayaan Intelektual, Kementerian Luar Negeri Adi Dzulfuat, Bersama Q Grader dan Roaster, Traffique Cafe, Kristaan Batafor dan Managing Director, Traffique Cafe memberikan materi dan pemaparan dalam acara Seminar Ekonomi “Diplomasi Ekonomi dari Kopi hingga Afrika” yang diselenggarakan oleh Program Studi Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pertamina, di Ruang Auditorium, Gedung Griya Legita, Universitas Pertamina. Jumat (9/11/2018).

Kepala Museum Konferensi Asia Afrika (KAA) Meinarti Fauzie memberikan materi tentang Sejarah Hubungan Indonesia-Afrika dalam Konteks Konferensi Asia Afrika pada acara Seminar Ekonomi “Diplomasi Ekonomi dari Kopi hingga Afrika” yang diselenggarakan oleh Program Studi Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pertamina, di Ruang Auditorium, Gedung Griya Legita, Universitas Pertamina. Jumat (9/11/2018).

Wakil Rektor III Bidang Riset, Pengembangan dan Kerjasama Universitas Pertamina Budi W. Soetjipto, Ph.D. memberikan cinderamata kepada Direktur (Sesparlu) Sekolah Staf dan Pimpinan Luar Negeri, Kementerian Luar Negeri, June Kuncoro H dalam acara Seminar Ekonomi “Diplomasi Ekonomi dari Kopi hingga Afrika” di Ruang Auditorium, Gedung Griya Legita, Universitas Pertamina. Jumat (9/11/2018).

Para narasumber dan pengisi acara melakukan sesi foto bersama dalam acara Seminar Ekonomi “Diplomasi Ekonomi dari Kopi hingga Afrika” di Ruang Auditorium, Gedung Griya Legita, Universitas Pertamina. Jumat (9/11/2018).

Para narasumber dan para mahasiswa melakukan sesi foto bersama dalam acara Seminar Ekonomi “Diplomasi Ekonomi dari Kopi hingga Afrika” di Ruang Auditorium, Gedung Griya Legita, Universitas Pertamina. Jumat (9/11/2018).