Sambutan Rektor Universitas Pertamina pada Sidang Terbuka Penerimaan Mahasiswa Baru Universitas Pertamina Tahun Akademik 2018/2019 “Peran dan Tantangan Perguruan Tinggi dalam Menghadapi Revolusi Industri Ke-4”

Yang kami hormati,

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia/ Kepala Bappenas, Bapak Prof. Bambang P. S. Brodjonegoro, Ph.D.,

Plt. Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Ibu Nicke Widyawati,

Para Direksi PT Pertamina (Persero),

Bapak/Ibu Rektor mitra Universitas Pertamina,

Pimpinan Pertamina Foundation,

Para Pimpinan Universitas Pertamina,

Rekan-rekan dosen dan tenaga kependidikan,

Para mahasiswa baru Universitas Pertamina yang saya banggakan,

Para Tamu Undangan dan Hadirin yang saya muliakan.

 

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Selamat Pagi, salam sejahtera untuk kita semua.

Puji syukur marilah kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, atas rahmat dan ridho-Nya sehingga pada pagi hari yang berbahagia ini kita semua dapat hadir dalam rangka melaksanakan Sidang Terbuka Penerimaan Mahasiswa Baru Universitas Pertamina Tahun Akademik 2018/2019.

Alhamdulillah, pada tahun ini Universitas Pertamina menerima 1.413 mahasiswa. Para mahasiswa baru yang tergabung di Universitas Pertamina adalah putra putri terpilih yang telah mengikuti tes ujian masuk dengan persaingan yang sangat ketat. Proses ujian masuk diikuti oleh 5.365 peserta dari berbagai penjuru tanah air dengan total pendaftar mencapai 13.700 peserta. Dari 5.365 peserta ujian masuk, Universitas Pertamina menerima 1.316 mahasiswa reguler dan memberikan beasiswa ekonomi kepada 36 orang di antaranya. Selain itu, Universitas Pertamina juga memberikan beasiswa undangan tanpa melalui proses seleksi ujian masuk atau biasa dikenal dengan beasiswa bidik misi kepada 97 putra putri Indonesia yang berprestasi.

Sebagai Rektor, saya mengucapkan selamat atas keberhasilan adik-adik, segenap mahasiswa baru Universitas Pertamina, atas kerja keras mengikuti ujian masuk Universitas Pertamina, sehingga saat ini adik-adik dapat bergabung dalam komunitas kampus yang membanggakan kita semua.

Segenap mahasiswa baru yang saya cintai,

Pada kesempatan ini, Saya akan mengetengahkan suatu hal penting untuk kita cermati bersama yaitu tentang “Peran dan Tantangan Perguruan Tinggi dalam Menghadapi Revolusi Industri ke-4”.

Bapak/Ibu para undangan dan hadirin yang kami hormati,

Perubahan dan transformasi adalah suatu keniscayaan bagi perguruan tinggi. Perguruan tinggi berada pada posisi yang dinamis di tengah-tengah masyarakat. Cara-cara bagaimana suatu perguruan tinggi berperan di masyarakat, terus-menerus mengalami pembaharuan seiring dengan perubahan dan tantangan yang ada di setiap zaman.

Saat ini, kita menghadapi tantangan dari revolusi industri ke-empat. Revolusi industri merupakan titik balik dalam sejarah dunia karena mempengaruhi hampir setiap aspek kehidupan manusia. Revolusi industri dimulai pada tahun 1780an, ditandai dengan dikembangkannya mesin uap yang dapat meningkatkan produktivitas manusia. Kemudian pada tahun 1870an, dunia mengalami revolusi industri yang kedua dengan dimulainya produksi massal yang didukung oleh pengembangan pembangkit tenaga listrik dan pabrik-pabrik perakitan (assembly line). Revolusi industri ketiga dimulai pada tahun 1960an yang juga dikenal dengan sebutan revolusi komputer atau revolusi digital. Disebut demikian karena revolusi ini ditandai dengan inovasi di bidang semikonduktor, mainframe computer (1960s), personal computer (1970s dan 1980s), dan internet (1990s).[1]

Klaus Schwab, pendiri dan Ketua Eksekutif World Economic Forum (WEF) dalam bukunya “The Fourth Industrial Revolution” mengatakan bahwa saat ini kita sedang mengalami revolusi industri ke-empat yang ditandai oleh otomatisasi (automation) dan megatrend perkembangan pada aspek fisik, digital, dan biologis. Pada aspek fisik, telah dikembangkan kendaraan tanpa pengemudi, mesin cetak tiga dimensi, advanced robotics, dan material-material baru seperti grafena (graphene) yang lebih kuat 200 kali lipat dari besi, jutaan kali lebih tipis dari rambut manusia, dan merupakan penghantar panas dan listrik yang sangat efisien. Pada aspek digital, saat ini telah dikembangkan artificial intelligence, big data, dan Internet of Things (IoT) atau biasa disebut internet of allthings yang memungkinkan teknologi menghubungkan antara manusia dengan benda berupa produk, jasa, tempat, dan sebagainya. Pada aspek biologis, dengan kemajuan teknologi komputasi, para ilmuwan dapat menguji variasi genetik dengan lebih akurat.[2]

Seiring dengan perubahan dan tantangan zaman, perguruan tinggi terus menerus mengalami perkembangan dan transformasi yang dinamis. Pada awalnya, perguruan tinggi modern bercikal bakal pada gagasan perguruan tinggi Humboldtian. Istilah Humboldtian merujuk pada Wilhelm von Humboldt, yang pada tahun 1809 menggagas bentuk lembaga pendidikan tinggi atas dasar filosofi idealis, bahwa pendidikan tinggi merupakan wadah yang penting bagi pembentukan karakter manusia. Dalam filosofis idealis, pembentukan karakter melalui pengembangan ilmu pengetahuan dipandang sebagai sesuatu yang sekunder. Dalam gagasan Humboldtian, ilmu-ilmu pengetahuan seperti filsafat, matematika, filsafat alam (natural philosophy), dan humaniora mendapat prioritas utama, sementara ilmu pengetahuan empiris dan eksperimental dipandang sebagai sekunder.

Perkembangan perguruan tinggi Humboldtian di Eropa abad ke-19 menimbulkan masalah tersendiri, yakni terabaikannya kebutuhan kelas pengusaha dan pekerja industri. Pertumbuhan industri-industri kurang mendapat dukungan dari penelitian-penelitian di perguruan tinggi. Sebagai respons atas situasi seperti ini, sejumlah organisasi profesi yang terkait dengan industri mengambil inisiatif untuk mendirikan institusi perguruan tinggi berbentuk lain, yang dikenal dengan nama Technische Hochschule. Salah satu Technische Hochschule di Indonesia dibangun di Bandung yang sekarang menjadi ITB. Pendirian lembaga ini dimaksudkan untuk menghasilkan tenaga ahli teknik yang mengisi kebutuhan tenaga kerja di industri-industri. Di Perancis abad ke-19, lembaga demikian diberi nama Grandes Ecoles. Ini merupakan suatu bentuk sekolah teknik profesional yang memberikan layanan pendidikan dan pelatihan untuk menghasilkan tenaga ahli, bukan tenaga peneliti. Berdirinya Grandes Ecoles tersebut merupakan hasil dari upaya re-organisasi sistem pendidikan yang dipimpin langsung oleh Napoleon. Keberadaan sistem ganda (dual system) di Eropa abad ke-19 yaitu Universitas dan Technische Hochschule, mencerminkan adanya hirarki sosial yaitu kelas bangsawan dan kelas pengusaha atau industri yang pada gilirannya mempengaruhi peran lembaga-lembaga pendidikan tinggi.

Para undangan dan hadirin yang saya muliakan,

Gagasan komersialisasi penelitian, untuk pertama kalinya, dikenal dan dipraktikkan di Amerika Serikat (AS) di awal abad ke-20 (sebelum Perang Dunia I). Di masa itu, tingkat kemajuan IPTEK di AS jauh tertinggal dari Eropa. Meskipun demikian, kesejahteraan masyarakat AS jauh lebih tinggi.  Tingginya kesejahteraan ini ditopang oleh faktor kekayaan sumber daya alam, pasar domestik yang berukuran besar, dan meluasnya praktik wirausaha. Meluasnya kewirausahaan ini didukung oleh struktur sosial masyarakat AS yang relatif lebih datar (flat).

Dipicu oleh krisis ekonomi akibat meluasnya praktik kartel, di awal abad ke-20 perusahaan-perusahaan AS mulai mengubah strategi persaingan mereka, dan menempuh cara-cara diferensiasi produk. Untuk menjalankan strategi ini perusahaan-perusahaan AS ‘meminjam’ IPTEK dari Eropa, dan melakukan adaptasi untuk keperluan persaingan domestik. Para akademisi dari perguruan-perguruan tinggi nasional AS, terutama Universitas Stanford, dilibatkan untuk mendukung strategi ‘pinjam dan komersialisasi’ (borrowing and commercializing) tersebut. Salah satu contohnya adalah proses Haber-Bosch, yang dapat mengubah nitrogen di atmosfer menjadi pupuk dalam jumlah yang berlimpah. Teknologi ini semula dikembangkan oleh ilmuwan Jerman, kemudian diadopsi oleh insinyur-insinyur industri di AS. Setalah menempuh waktu yang panjang akhirnya berhasil dikomersialkan.

Di masa Perang Dingin, kontestasi politik dan isu-isu pertahanan menjadi faktor penting yang memacu investasi negara dalam jumlah yang besar ke dalam penelitian fundamental (fundamental research) di perguruan-perguruan tinggi penelitian (research universities) yang dikenal dengan universitas generasi ketiga. Akan tetapi, berakhirnya Perang Dingin membawa perubahan yang mendasar pada kebijakan penelitian dan pendidikan tinggi. Ketika isu-isu pertahanan dianggap sudah tidak relevan lagi, berkembang luas tuntutan masyarakat bahwa: program-program penelitian yang menggunakan anggaran negara harus akuntabel dan responsif terhadap kebutuhan publik; Penelitian dan pendidikan harus memberikan dampak yang positif bagi kemajuan ekonomi dan kualitas kehidupan sosial secara keseluruhan. Berakhirnya Perang Dingin sekaligus merupakan awal dari liberalisasi perdagangan global. Tantangan baru yang dihadapi oleh perguruan-perguruan tinggi di mancanegara adalah bagaimana memberikan kontribusi dalam menjawab masalah persaingan ekonomi global.

Para undangan dan hadirin yang saya muliakan,

Setelah melalui transformasi 3 generasi, yaitu Humboldtian university, teaching university, dan research university, saat ini perguruan tinggi dituntut untuk bertransformasi menjadi perguruan tinggi generasi ke-4 (fourth generation university). Perguruan tinggi generasi ke-4 adalah entrepreneurial university. Elemen pokok dalam gagasan perguruan tinggi entrepreneurial adalah pergeseran kegiatan penelitian dari basis individual menjadi basis kolektif atau berkelompok dan perluasan misi pendidikan dari pendidikan untuk individu menjadi pendidikan untuk pengembangan organisasi-organisasi di luar kampus, di antaranya melalui pelembagaan inkubator bisnis dan pengembangan startup companies. Dengan perkataan lain, yang diluluskan oleh perguruan tinggi entrepreneurial bukan saja individu-individu sarjana, melainkan juga organisasi-organisasi baru atau perusahaan-perusahaan rintisan yang kita kenal dengan sebutan startup companies. Dengan cara seperti ini, perguruan tinggi entrepreneurial berperan sebagai simpul dari jaringan perusahaan-perusahaan (companies network).

Para undangan dan hadirin yang saya muliakan,

Kita sedang mengalami tantangan besar revolusi industri ke-4. Laporan McKinsey Global Institute yang terbit Desember 2017 memperkirakan bahwa akan ada 400-800 juta orang di dunia yang akan kehilangan pekerjaan digantikan oleh otomatisasi (automation) hingga tahun 2030 nanti.[3] Jika individu-individu usia produktif tidak dibekali dengan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang memadai, maka tingkat pengangguran diperkirakan akan sangat tinggi.

Perguruan tinggi memegang peran sentral ditengah arus perubahan yang begitu pesat. Hampir semua hal di era revolusi industri ke-4, kecuali bahasa daerah, akan sangat cepat berubah. Konsep baru, teknologi baru, pengetahuan baru, bahkan cabang ilmu baru akan terus bermunculan. Maka, perguruan tinggi bekerja sama dengan pemerintah dan industri dituntut untuk mampu bersama-sama mempersiapkan pembelajar sepanjang hayat (lifelong learner), yaitu individu-individu yang memiliki motivasi kuat untuk terus belajar. Belajar sepanjang hayat adalah elemen esensial untuk sukses di era revolusi industri ke-4.[4] Kita tidak tahu perkembangan apa yang akan terjadi besok, kita tidak tahu pasti tantangan apa yang akan kita hadapi, maka perguruan tinggi harus mempersiapkan individu-individu menjadi sarjana plus yang memiliki fikiran cerdas, fleksibel, dan kooperatif, yang selain mampu bekerja secara profesional juga mampu menginisiasi startup companies.

Massachusette Institute Technology (MIT) adalah perguruan tinggi terkemuka di Amerika yang bisa kita jadikan contoh. berdasarkan hasil riset Bank Boston, pada tahun 1994, MIT telah mampu melahirkan 4.000 perusahaan dari tangan alumninya dengan omset 232 miliar dollar AS per tahun dan mempekerjakan 1,1 juta orang. Para scientist, engineer, dan manajer MIT memiliki keyakinan bahwa ukuran kesuksesan tidak cukup hanya dengan sekadar inovasi suatu produk, konsep, atau teknologi. Ukuran dari kesuksesan adalah komersialisasi global dan penerimaan secara luas terhadap hasil-hasil inovasi.[5] Berapa jumlah startup asal AS saat ini? Berdasarkan data dari startupranking, saat ini Amerika Serikat memiliki 45.469 startup dan berada di posisi pertama sebagai negara dengan jumlah startup terbanyak di dunia, terpaut jauh dengan Indonesia yang menempati urutan ke-6 dengan jumlah startup sebanyak 1.868.[6]

Para insan pendidikan dan hadirin yang saya muliakan,

Ciri utama dari 4th generation university adalah adanya riset bersama antara perguruan tinggi dan industri. Hal ini sejalan dengan program pemerintah RI saat ini yaitu program hilirisasi hasil-hasil riset. Perguruan Tinggi dituntut untuk menjalankan peran transformasi hasil-hasil penelitiannya menjadi karya yang bermanfaat secara nyata bagi peningkatan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional, sesuai dengan visi dan misi pemerintah Indonesia dalam pembangunan 2015-2020 (Nawa Cita).

Sinergi yang baik antara akademisi, industri, dan pemerintah, merupakan poin utama untuk menjadi entrepreneurial university. Dengan segala keterbatasan, perguruan tinggi tidak mungkin menanggung sendiri dana untuk riset atau penelitian. Untuk itu dibutuhkan kerja kolaboratif antara industri dan perguruan tinggi. Di satu sisi, industri menyediakan program dan anggaran, di sisi lain, perguruan tinggi menyediakan SDM untuk melakukan riset dan menghasilkan inovasi.

Segenap mahasiswa baru yang saya cintai,

Universitas Pertamina, dengan visi menjadi universitas kelas dunia (world class university) di bidang energi, akan terus maju berkontribusi dalam rangka menyongsong pengembangan IPTEK dan berbagai tantangan bangsa di masa depan. adik-adik, mahasiswa Universitas Pertamina, adalah calon-calon pemimpin dunia (global leaders). Sejak awal didirikannya, Universitas Pertamina telah berkomitmen untuk mengisi dunia industri dengan sarjana-sarjana yang kompeten di bidangnya masing-masing. Lulusan Universitas Pertamina akan menjadi sarjana plus, yaitu scholar atau cendekia yang tidak hanya menguasai keilmuan, namun juga memiliki karakter profesional.

Di kampus ini, adik-adik akan kami ajak menjadi lifelong learners, pembelajar sepanjang hayat. Kurikulum di Universitas Pertamina di-desain sesuai dengan kebutuhan dan tantangan di masa depan, di antaranya dengan memasukkan 10 keterampilan yang dibutuhkan di tahun 2020, yaitu complex problem solving, critical thinking, creativity, people management, coordinating with others, emotional intelligence, judgement and decision making, service orientation, negotiation, dan cognitive flexibility. Selanjutnya, hampir setiap minggu, adik-adik akan mendapat kesempatan untuk meningkatkan wawasan dalam kegiatan UPbringing yang mendatangkan tokoh-tokoh yang sukses di bidangnya masing-masing. Selain itu, pengajar di Universitas Pertamina tidak hanya dosen, namun juga praktisi/ pelaku industri. Harapannya, agar adik-adik tidak hanya belajar dalam lingkup kelas atau laboratorium saja, tetapi juga bisa belajar di luar kelas dan di luar laboratorium, baik dalam bentuk fieldtrip, pertukaran pelajar ke luar negeri, maupun dalam bentuk internship di sektor industri. Hal ini sangat mungkin dilakukan karena Universitas Pertamina memiliki dukungan fasilitas dan kedekatan dengan industri (close to the industry), bahkan Universitas Pertamina lahir dari dunia industri, yaitu PT Pertamina (Persero), BUMN terbesar di Indonesia pada bidang energi.

Segenap mahasiswa baru yang saya cintai,

Pada kesempatan yang berbahagia ini saya ingin berpesan, adik-adik adalah putra putri bangsa terbaik karena telah sanggup meraih kesempatan yang tidak bisa didapatkan oleh putra putri bangsa yang lainnya. Akan tetapi, menjadi putra putri bangsa terbaik juga membawa konsekuensi. Di pundak adik-adik juga terdapat tanggung jawab untuk turut menyelesaikan permasalahan yang dihadapi masyarakat dan bangsa Indonesia. Kemajuan bangsa Indonesia bergantung pada kontribusi adik-adik kelak ketika adik-adik telah menyelesaikan studi dan berkiprah di berbagai arena kehidupan di masyarakat. Masyarakat dan bangsa Indonesia membutuhkan kontribusi terbaik adik-adik untuk memimpin perubahan bangsa ke arah yang lebih sejahtera. Sesuatu hal yang wajar dan adil bila tanggung jawab yang lebih besar diemban oleh mereka yang mendapatkan kesempatan yang lebih baik dan memiliki kemampuan yang lebih.

adik-adik harus belajar secara sungguh-sungguh sehingga akan menjadi bagian dari SDM Indonesia yang tangguh. Dengan IPTEK yang adik-adik pelajari dan kembangkan selama mengikuti pendidikan di Universitas Pertamina disertai dengan motivasi kuat untuk menjadi lifelong learner saya percaya kita mampu membangun Indonesia yang lebih sejahtera dan beradab. Dengan segala potensi yang ada, adik-adik berpotensi menjadi pemimpin global (global leaders) bila disertai dengan semangat, wawasan yang luas, sanggup menembus pluralitas pemikiran, sanggup memahami permasalahan dalam pluralitas perspektif, memahami dengan pemikiran yang kritis dan berpijak pada prinsip yang kokoh, serta memberikan sumbangan-sumbangan pemikiran maupun tindakan atas dasar prinsip kesetaraan, dan berpegang pada nilai-nilai universal.

Pada hari yang berbahagia ini, sesuai dengan tradisi dalam acara penerimaan mahasiswa baru di kampus-kampus, akan ada ada pidato ilmiah atau kuliah umum. Pada kesempatan kali ini kuliah umum akan diberikan oleh Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia/ Kepala Bappenas, Bapak Prof. Bambang P. S. Brodjonegoro, Ph.D..

Kami mengucapkan terima kasih atas pencurahan waktu, tenaga dan pikiran yang telah diberikan untuk menyiapkan kuliah umum ini. Kami berharap kuliah umum ini akan memberikan gambaran tentang perencanaan pembangunan nasional jangka menengah dan jangka panjang serta korelasinya dengan ristek dan pendidikan tinggi. Semoga kita dapat menyimak dengan baik dan dapat memetik manfaat dari pemaparan yang disampaikan.

Perkenankan juga pada kesempatan yang berbahagia ini, saya atas nama Rektor Universitas Pertamina menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang dalam kepada PT Pertamina (Persero), Pertamina Foundation dan seluruh sivitas akademika Universitas Pertamina. Selanjutnya, kami juga ingin menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada Schlumberger, PT Pelni (Persero), Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara, Kabupaten Batu Bara, UNS, Binus, UNAIR, UNPAD, dan seluruh mitra universitas yang telah bekerja sama dengan kami selama ini.

Bapak/Ibu para undangan dan hadirin yang kami hormati,

Sebagai akhir dari sambutan ini, marilah kita panjatkan doa semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan kepada kita semua rasa kepedulian dan kebersamaan yang tinggi serta kekuatan dan kesabaran dalam menjalankan kegiatan dan tugas kita bersama di Kampus Universitas Pertamina yang kita banggakan ini. Kepada adik-adik mahasiswa, selamat belajar dan berkarya.

Wabillahi taufiq wal hidayah,

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Prof. Akhmaloka, Ph.D.

Rektor Universitas Pertamina

[1] Schwab, Klaus. (2016). The Fourth Industrial Revolution. Switzerland: World Economic Forum

[2] Ibid.

[3] McKinsey Global Institute. Jobs Lost, Jobs Gained: Workforce Transitions In A Time Of Automation. Desember 2017

[4] Gleason, Nancy W. (2018). Higher Education in the Era of the Fourth Industrial Revolution. Singapore: Palgrave Macmillan

[5] News, MIT. (5 Maret 1997). MIT Graduates Have Started 4,000 Companies With 1,100,000 Jobs, $232 Billion in Sales in ’94. Diambil kembali dari MIT News: http://news.mit.edu/1997/jobs pada 19 Juli 2018 pukul 14.00 WIB

[6] Sumber: https://www.startupranking.com/countries diakses pada 6 Agustus 2018 pukul 13.00 WIB

Contact Appointment