Persiapkan Mahasiswa Hadapi Era Ekonomi Digital, Pogram Studi Ekonomi Universitas Pertamina Hadirkan Kuliah Tamu dari Bank Indonesia Institute

Jakarta – Tidak dapat dipungkiri lagi, saat ini kita hidup di era digital dimana semua kegiatan tidak terlepas dari penggunaan internet. Berdasarkan survey Asosiasi Penyelenggaraan Jasa Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2018, penetrasi penggunaaan internet di Indonesia mencapai angka 143 juta jiwa dari total jumlah penduduk Indonesia. Dalam hasil survey tersebut disebutkan bahwa penggunaan internet di Indonesia didominasi oleh penduduk usia 19-34 tahun. Bank Indonesia memperkirakan peluang perkembangan ekonomi digital yang sedang berlangsung ini akan mampu menyumbangkan setidaknya Rp 150 miliar untuk PDB Indonesia pada tahun 2025.

Generasi milenial atau generasi muda sangat mempengaruhi perkembangan ekonomi Indonesia di era digitalisasi ekonomi ini. Pada tahun 2027 mendatang, generasi milenial akan menjadi populasi yang mendominasi hingga setengah dari penduduk Indonesia. Oleh karenanya, mereka harusl dibekai pengetahuan dan kemampuan yang memumpuni untuk beradaptasi dan bersaing di era yang terus berubah secara cepat. Literasi mengenai digitalisasi dirasa sangat penting dilakukan untuk menyiapkan kulaitas SDM Indonesia yang lebih baik.

Dalam rangka memberikan pengenalan mengenai digitalisasi terutama dalam bidang ekonomi kepada mahasiswa, Program Studi Ekonomi Universitas Pertamina membuka mata kuliah Ekonomi Digital. Dan guna memberikan kesempatan kepada mahasiswa dalam mempelajari perkembangan teknologi saat ini dan pengaruhnya bagi aktivitas perekonomian di Indonesia, pada hari Kamis 11 April 2019, Program Studi Ekonomi Universitas Pertamina melaksanakan kuliah tamu dengan mengusung tema “Kebijakan Bank Indonesia di Era Ekonomi Digital”. Kuliah tamu tersebut menghadirkan Direktur Bidang Pengembangan Akademi dari Bank Indonesia (BI) Institute, Dr. Ariyana Abubakar, sebagai pemateri.

Acara dibuka oleh Eka Puspitawati, PhD, sebagai Master of Ceremony (MC) sekaligus dosen pengampu mata kuliah Ekonomi Digital. Dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh Dr. Ariyana. Ia memulai materi dengan menjelaskan bahwa digitalisasi yang sejalan dengan revolusi industri 4.0 lebih berfokus pada people empowerment dibandingkan corporation empowerment. Sehingga, era digitalisasi ini 10 kali lebih berdampak bagi sosial-ekonomi, industri, pemerintah, maupun perorangan. Ia juga menjelaskan bawa perekembangan digitalisasi yang terjadi sangat cepat di Indonesia disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya: posisi strategis Indonesia sebagai negara dengan perekonomian terbesar di Asia Tenggara dan rumah bagi 1.638 perusahaan startups, masifnya pertumbuhan e-commerce, luasnya pasar untuk teknologi digital, serta potensi pertumbuhan kalangan ekonomi menegah di Indonesia.

Digitalisasi juga sudah mulai merambat di sektor keuangan baik bank maupun non-bank. Secara eksposur, digitalisasi keuangan yang dicerminkan oleh investasi pada fintech di Indonesia masih relatif kecil dibandingkan negara lain. Namun, akselerasi pertumbuhannya sangat cepat dan perlu adanya pengawasan. Tercatat pada tahun 2016, nilai transaksi fintech di Indonesia mencapai USD 14,5 miliar atau 0,6% dari total transaksi global yang diperkirakan sebesar USD 2.355,9 miliar. Digitalisasi nampaknya menjadi tantangan tersendiri bagi bank-bank yang masih menjalankan transaksinya secara konvensional. Memasuki era digitalisasi, sektor perbankanpun mulai meningkatkan investasi terkait teknologi informasi (IT). Sektor perbankan juga berhadapan dengan adanya transformasi struktur internal usahanya sesuai dengan kebutuhan digitalisasi perbankan. Selain melalui investasi pada sektor IT, beberapa bank juga memiliki alternatif lain dengan cara mengakuisisi perusahaan-perusahaan fintech seperti yang dilakukan Bank BRI pada tahun 2018 yang mengakuisisi 97,61% Perusahaan VC, BRI Venture (ex. PT Sarana NTT) dengan total nilai sebesar Rp 3,09 miliar.

Digitalisasi juga membawa manfaat yang komprehensif bagi sektor keuangan, diantaranya: mendorong desentralisasi dan diversifikasi keuangan guna mengurangi risiko konsentrasi ketika terjadi shock, meningkatkan efisiensi operasional dan model bisnis baru, melahirkan transparansi yang bisa menurunkan asymmetric information, dan membantu proses inklusi keuangan nasional dengan kemudahan akses jasa keuangan. Namun, dibalik manfaat-manfaat tersebut terdapat beberapa risiko yang mengancam, terlebih untuk jenis fintech. Dr. Ariyana memaparkan bahwa risiko digitalisasi di sektor perbankan dan licensed shadow bank masih dapat diprediksi. Untuk risiko digitalisasi bank, solusi yang dapat ditempuh sangat beragam. Namun, risiko fintech seringkali dianggap sebagai bongkahan es besar di laut. Sedikit risiko yang terlihat namun jauh di dalamnya masih banyak ekonom yang belum bisa melihat besaran risiko sebenarnya dan bagaimana mengatasinya. Bank Indonesia (BI) pun mulai memetakan kemungkinan risko yang ditimbulkan oleh fintech dengan mengundang orang-orang yang ahli di bidang teknologi keuangan.

Untuk memitigasi risiko-risiko tersebut, BI mengeluarkan kebijakan terkait keuangan digital. Pertama, program elektronifikasi yang betujuan mengembangkan sistem pembayaran untuk ekonomi keuangan digital dalam rangka mendukung inklusi keuangan dan perekonomian nasional, terutama UMKM dan ekonomi rakyat. Elektrofinikasi terdiri dari 3 (tiga) sub program, yakni: 1) pengembangan Gerbang Pembayaran Nasional (GPN) untuk mengintergrasikan sistem pembayaran; 2) akselerasi elektrofikasi dalam perekonomian dengan penyaluran dana bantuan sosial, kegiatan pemerintah, moda transportasi, remitansi, pembayaran tagihan dan lainnya; 3) pengembangan fintech di area sistem pembayaran. Selain program elektronifikasi, BI juga membuat peraturan yang berfokus pada sistem pembayaran, seperti definisi kriteria fintech, kategori penyelenggaraan fintech, pengawasan dan perizinan, dan kerjasama PJSP dan PTF. BI juga berkerja sama dengan OJK yang lebih berfokus pada pengaturan jasa keuangan, seperti definisi, ruang lingkup, dan kriteria IKD, pecatatan, pendaftaran, pemantauan, pelaporan, pusat data, perlindungan, dan kerahasian data, serta edukasi dan perlindungan konsumen.

Pada bagian akhir pemaparan, Dr. Ariayana menjelaskan kepada mahasiswa mengenai isu dan tantangan keuangan digital di masa depan, mulai dari kesiapan seumber daya manusia, manajemen risiko (operasional, siber, makrofinansial), digital currencies, sampai pada pengaturan cross-border dengan negara lain.

Dr. Nanda R Nurdianto, selaku Kepala Program Studi Ekonomi Universitas Pertamina menjelaskan bahwa kegiatan kuliah tamu dilaksanakan dengan tujuan agar mahasiswa dapat mengetahui kondisi rill dari digitalisasi di dunia keuangan langsung dari pakarnya. “Disamping itu, kegiatan ini juga merupakan salah satu cara BI untuk mengedukasi mahasiswa mengenai pentingya penerapan ekonomi global.” Ia menambahkan.