Movie Discussion: The Dan’s Way A Praise of Life 2019

Jakarta – Film merupakan salah satu media komunikasi bersifat audio visual yang dianggap sangat efektif untuk menyampaikan suatu pesan. Berbagai genre hadir mewarnai industri perfilman, diantaranya komedi, aksi, dan dokumenter. Film dokumenter mejadi salah satu alternatif terbaik untuk menyampaikan sisi kehidupan seorang tokoh atau suatu kelompok yang jarang diketahui oleh masyarakat secara umum.

Guna menunjang pemahaman mahasiswa terhadap film-film bergenre dokumenter, pada tanggal 30 Maret 2019, Fakultas Komunikasi dan Diplomasi Universitas Pertamina bekerjasama dengan Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok dan Rumah Milenial melaksanakan kegiatan movie discussion dan nonton bersama (nobar). Menampilkan “The Dan’s Way: A Praise of Life 2019” yang merupakan karya dari Kedutaan Besar Repubik Rakyat Tiongkok, film tersebut menceritakan tentang perjuangan orang-orang biasa dengan kehidupan biasa yang kemudian menjadi luar biasa dengan memberikan manfaat bagi sekitar mereka.

Salah satu tokoh yang diceritakan dalam film tersebut adalah Robin Lim, seorang perempuan berkewarganegaraan Amerika yang lahir dan tumbuh di Kepulauan Hawaii. Kecintaan pada Bali membuat Lim memutuskan untuk menjadi warga negara Indonesia. Tidak sampai disitu, Lim juga beralihprofesi menjadi seorang bidan untuk menolong masyarakat sekitar.

Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi panel yang menghadirkan sejumlah panelis: 1) Counsellor Gao Huijun, Counsellor of Media & PR Chinese Mission To ASEAN; 2) Vania Santoso, perwakilan dari Community Ambassador Rumah Millenials; 3) IGP Wiranegara, sineas dan peraih Piala Citra Film Dokumenter Terbaik FFI 2005; dan 4) Dr Adde Oriza Rio, Ketua Program Studi Komunikasi Universitas Pertamina.

Mengangkat tema “Perspektif Komunikasi: Film & millenialsVania Santoso mengatakan bahwa cara terbaik bagi seorang produser untuk menentukan konsep film yang menarik adalah mengetahui bagaimana film tersebut akan dikomunikasikan kepada khalayak. Bagi millenials, film yang menarik adalah film yang dapat mereka diskusikan. Artinya, seorang produser harus mampu memberikan pengalaman menonton yang menyenangkan kepada para millenials.

IGP Wiranegara menambahkan bahwa film dokumenter merupakan film yang bercerita tentang kebenaran. Sehingga, sangat penting bagi para produser untuk menyajikan realitas yang mendalam. “Bagaimanapun pahitnya, kebenaran harus dijunjung tinggi. Untuk itulah film dokumenter hadir.” Ia menambahkan

Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Griya Legita, Universitas Pertamina, tersebut ditutup dengan penampilan dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kesenian Modern dan Kesenian Daerah yang menampilkan pembacaan puisi dan tarian lenggang nyai dari Betawi.