Mahasiswa Program Studi Komunikasi Universitas Pertamina Kembali Juarai Lomba Esai Nasional

Jakarta – Sebagai generasi yang memiliki keakraban dengan komunikasi, media, dan teknologi digital di era revolusi industri 4.0, generasi milenial memiliki peran yang cukup signifikan dalam berbagai aspek. Dalam bidang pendidikan misalnya, generasi milenial yang memiliki karakteristik spontan serta penuh dengan inovasi dan kreasi, diharapkan menjadi ujung tombak bagi terciptanya reformasi pendidikan di Indonesia.

Salah satu karakteristik dari revolusi industri 4.0 adalah pesatnya perkembangan teknologi komunikasi dan informasi dengan Internet of Things sebagai penggeraknya. Dinamika dari perkembangan teknologi tersebut diibaratkan pisau bermata dua, memberi manfaat di satu sisi, namun memberi dampak yang cenderung destruktif di sisi lain. Dampak negatif tersebut mulai terlihat implikasinya sejak penyebaran hoax (berita palsu), hate speech (ujaran kebencian), cyber-bullying (perundungan siber), pencurian data, pornografi dan berbagai fakta lainnya terjadi begitu masif di dunia maya. Realitas ini semakin diperburuk dengan lemahnya peran sekolah sebagai institusi pendidikan dalam memprioritaskan diskursus literasi media.

Guna membantu generasi milenial dalam menghadapi perkembangan teknologi yang begitu cepat, dua mahasiswa Program Studi Komunikasi Universitas Pertamina mengikuti Lomba Karya Tulis Esai tingkat Nasional yang dilaksanakan oleh Himpunan Mahasiswa Kebijakan Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Kedua mahasiswa tersebut berhasil meraih Juara II dalam lomba yang bertema “Peran Generasi Milenial dalam Reformasi Pendidikan” dan berhasil mengalahkan perwakilan dari universitas-universitas ternama di Indonesia.

Gelar juara yang diraih oleh Ilham Ayatullah Syamtar dan Kadek Liberia Arya Kusuma tersebut merupakan gelar ketiga yang diraih oleh kedua pasangan tersebut setelah sebelumnya menjuarai ajang serupa. Gagasan yang dibawa Ilham dan Kadek merupakan formulasi antara isu-isu terkait pendidikan dengan kebidangan komunikasi yang turut mengkaji gejala-gejala sosial yang timbul akibat perubahan teknologi.

Ilham yang bertugas sebagai ketua tim mengatakan bahwa perkembangan revolusi teknologi yang begitu pesat dan sulit dibendung tentu mempengaruhi berbagai aspek kehidupan masyarakat, tidak terkecuali aspek pendidikan. Menurutnya, ketika suatu perubahan terjadi, maka akan ada hal-hal mendasar yang ikut bergeser sebagai langkah penyesuaian terhadap perubahan tersebut. Tetapi, ada hal-hal yang tidak berubah dalam paradigma pendidikan di Indonesia meskipun tantangan yang ada telah jauh berebeda dari sebelumnya.

“Esai ini kami beri judul Literasi Media: Upaya Reformasi untuk Bahtera yang Usang. Esai kami kali ini menyoroti tentang pengaruh perkembangan teknologi terhadap perilaku peserta didik yang dalam hal ini berada pada kelompok generasi milenial. Dalam esai ini, kami juga memberikan tawaran solusi yang menurut kami mampu menyelesaikan persoalan ini secara sistemik.” Terang ilham.

Gagasan tersebut, menurut Ilham dan Kadek, berangkat dari pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang menekankan bahwa hakikat pendidikan yang sesungguhnya merupakan upaya untuk membentuk manusia yang peka akan budi pekerti agar manusia menjadi selaras dengan realitasnya. Ilham dan Kadek menilai bahwa realitas yang dihadapi oleh generasi masa kini merupakan realitas yang berbeda dari realitas yang dihadapi oleh generasi sebelumnya. Oleh karenanya, paradigma pendidikan masa kini perlu direformasi guna menghadapi tantangan tersebut.

“Dulu, para tokoh pendiri bangsa dan kaum terpelajar pra-kemerdekaan menghadapi tantangan penjajahan kolonialisme. Hari ini, generasi kita juga menghadapi tantangan penjajahan, yakni penjajahan informasi sebagai konsekuensi dari perilaku konsumeris dari hasil produksi terbesar abad ini.” Imbuh Kadek.

Ilham dan Kadek menganalogikan tantangan tersebut sebagai sebuah “lautan”. Untuk mengarungi sebuah lautan, tentu memerlukan suatu bahtera. Bahtera yang digunakan untuk mengarungi “lautan” penjajahan zaman pra-kemerdekaan dipahami keduanya sebagai kemampuan baca-tulis (literasi). Dalam rangka mengarungi “lautan” informasi sebagai bentuk tantangan baru di era ini, maka diperlukan literasi lanjutan yang dalam hal ini adalah literasi media.

Menurut Ilham dan Kadek, secara umum budaya belajar bangsa Indonesia berkembang dari oralitas, lalu literasi, kemudian barulah menerima teknologi. Akan tetapi, keduanya berpandangan bahwa belum selesai kemampuan literasi tersebut diinternalisasikan secara komprehensif, masyarakat Indonesia telah didera oleh berbagai kemudahan teknologi yang melenakan. Sehingga, jika tidak segera memiliki proyeksi untuk membangun “bahtera” yang baru, maka lautan informasi yang sedang dihadapi oleh generasi milenial ini akan menghanyutkan dan menenggelamkan bangsa Indonesia.