Investasi Sektor Hulu Perlu Digairahkan

Sekretaris SKK Migas, Arief Setiawan Handoko memberikan kuliah umum dalam acara UPBringing yang bertajuk "Prospek dan Peluang Pengembangan Industri Hulu Migas" kepada para mahasiswa pada, Rabu (25/4/18) di ruang Auditorium, Universitas Pertamina.Foto/HumasUP

Jakarta- Pembentukan minyak bumi berasal dari binatang dan tumbuhan yang telah mati jutaan tahun yang lalu, sehingga minyak bumi disebut sebagai bahan bakar fosil yang tersimpan dalam reservoir. Salah satu kegiatan insdutri migas adalah upstream atau yang lebih kita kenal dengan sebutan “hulu”. Kegiatan hulu dibagi menjadi dua, yaitu eksplorasi dan produksi. Eksplorasi Migas meliputi pencarian prospek reservoir migas yang dimulai dengan survey geologi, geofisika, seismik, dan seterusnya. Sedangkan produksi migas yang berarti memproduksikan lapangan migas melalui hasil melalui pemboran sumur-sumur eksplorasi, Proses produksi terbagi atas primary recovery (pemboran sumur secara alamiah dan melalui artificial lift: poma dan gas lift), secondary recovery (menggunakan metoda water-flood/gas-flood), tertiary recovery/EOR dengan menggunakan zat kimia, polymer, dan sirfactant.

Sekretaris SKK Migas, Arief Setiawan Handoko memberikan kuliah umum dalam acara UPBringing yang bertajuk “Prospek dan Peluang Pengembangan Industri Hulu Migas” kepada para mahasiswa pada, Rabu (25/4/18) di ruang Auditorium, Universitas Pertamina. Foto/HumasUP

Seperti yang diketahui kegiatan hulu migas memiliki resiko yang sangat besar hal inilah yang ditekankan oleh Arief Setiawan Handoko (Sekretaris SKK Migas) saat mengisi sesi UP-Bringing bertajuk Prospek dan Peluang Pengembangan Industri Hulu Migas di auditorium Universitas Pertamina pada tanggal 25 April 2017. Menurutnya, perusahaan Migas memiliki resiko yang tinggi dalam investasi hulu sehingga pelaku usaha menginginkan pengembalian keuntungan yang tinggi pula dari resiko yang akan dihadapinya. Resiko dapat dibagi menjadi 4 kategori, resiko eksplorasi (seandainya tidak ditemukan cadangan komersial), resiko teknologi (biaya teknologi untuk pengembangan lapangan lebih mahal dari perkiraan semula), resiko pasar (seandainya terjadi perubahan harga migas), dan resiko kebijakan negara (peraturan, kontrak, fiskal, politik, hukum, keamanan,dan lainnya).

Namun menurut Arief, investasi di sektor hulu harus perlu ditingkatkan karena hal ini akan mendorong penemuan cadangan baru. “ Jika dibagi antara produksi dan konsumsi saat ini, maka diperkiran minyak kita hanya bertahan 10-11 tahun mendatang. Sisanya kita akan menjadi net importer.” Jelasnya. Oleh karena itu diperlukan peran dari Pemerintah dan kesadaran bagi PT. Pertamina (persero) untuk melakukan investasi yang lebih masif di sektor hulu. (RAS)

Sekretaris SKK Migas, Arief Setiawan Handoko bersama Sekretaris Universitas Pertamina, Ir. Sugiyarto MBA dan jajaran pejabat rektorat Universitas Pertamina melakukan sesi foto bersama selepas materi kuliah umum pada, Rabu (25/4/18) di ruang Auditorium, Universitas Pertamina. Foto/HumasUP