Di tengah impitan krisis iklim dan lonjakan kebutuhan listrik, peralihan ini hadir sebagai jembatan baru: menekan emisi karbon sekaligus membuka pintu bagi 1,8 juta hingga 4,4 juta lapangan kerja hijau. Pada akhirnya, transisi energi bukan sebatas mengganti sumber daya, melainkan membangun sistem utuh yang mampu menopang pertumbuhan ekonomi, memperluas akses energi, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara merata.
Potensi Energi Terbarukan dan Tantangan Kesiapan Indonesia
Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang beragam, mulai dari tenaga surya, air, panas bumi, hingga bioenergi. Namun, ketersediaan sumber daya tersebut belum sepenuhnya diikuti kesiapan infrastruktur dan pengelolaan di setiap wilayah.
Indeks Kesiapan Transisi Energi Desa 2026 mengukur kesiapan melalui tiga aspek, yaitu inisiatif energi bersih, ketahanan ekonomi, dan kapasitas pemerintahan. Berdasarkan data yang dipaparkan dalam indeks tersebut, hingga 2024 baru sekitar 5,7 persen desa yang memiliki program energi terbarukan, sedangkan 94,6 persen belum memiliki program serupa. Kondisi infrastruktur energi juga masih menjadi tantangan. Hingga 2024, hanya 8,7 persen desa yang tercatat memiliki infrastruktur energi, sementara 91,3 persen lainnya belum memiliki infrastruktur yang memadai.
Kesenjangan ini menunjukkan bahwa keberhasilan transisi energi tidak hanya ditentukan oleh potensi alam. Pembiayaan, teknologi, tata kelola, dan kesiapan masyarakat turut memengaruhi penerapan energi bersih. Oleh karena itu, strategi transisi energi perlu menyesuaikan karakteristik dan kebutuhan setiap wilayah.
Transisi Energi Membuka Peluang Ekonomi Baru
Di balik berbagai tantangan, transisi energi menghadirkan peluang untuk mendorong inovasi dan memperkuat perekonomian. Pemanfaatan energi terbarukan dapat mendukung aktivitas produktif masyarakat, mulai dari pertanian dan UMKM hingga pengembangan industri rendah karbon.
Perubahan ini juga membuka kebutuhan terhadap tenaga profesional dengan kompetensi baru.
Pengembangan teknologi energi, pengelolaan lingkungan, efisiensi energi, hingga inovasi bisnis berkelanjutan menjadi bidang yang berpotensi berkembang seiring transformasi sektor energi.
Dengan demikian, transisi energi bukan hanya agenda lingkungan, melainkan juga peluang untuk menciptakan nilai tambah, memperkuat ketahanan ekonomi, dan mendorong terciptanya lapangan kerja hijau (green jobs).
Menyiapkan SDM untuk Menghadapi Transformasi Energi
Transformasi energi membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga mampu berpikir kritis, beradaptasi, dan berkolaborasi lintas disiplin. Kebutuhan tersebut menjadi perhatian penting bagi perguruan tinggi dalam menyiapkan generasi yang mampu menjawab tantangan industri dan perubahan iklim.
Dalam pelantikan mahasiswa baru tahun akademik 2026/2027, Universitas Pertamina menekankan pentingnya peran generasi muda dalam memperkuat ketahanan energi dan daya saing nasional. Melalui tema “Navigate The Future: Empowering Sustainability Innovators,” mahasiswa didorong untuk menjadi calon pemimpin dan inovator yang mampu menghadirkan solusi bagi masyarakat.
Komitmen tersebut juga tercermin dalam upaya Universitas Pertamina menyiapkan sumber daya manusia yang kompeten untuk menghadapi transformasi energi. Melalui pengembangan pendidikan, riset, dan kolaborasi lintas disiplin, UPER mendorong lahirnya inovasi yang relevan dengan kebutuhan industri dan pembangunan berkelanjutan, termasuk pada pengembangan bioenergi dan bisnis rendah karbon.
Melalui semangat UPER Berdampak, pendidikan, penelitian, dan inovasi di Universitas Pertamina diarahkan untuk menjawab persoalan nyata, termasuk tantangan transisi energi, perubahan iklim, dan kebutuhan industri akan sumber daya manusia yang adaptif dan berkelanjutan.
Mendorong Masa Depan Energi yang Berkelanjutan
Upaya mempercepat transisi energi turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) 7 tentang energi bersih dan terjangkau, SDG 9 tentang industri, inovasi, dan infrastruktur, serta SDG 13 tentang penanganan perubahan iklim. Di tingkat nasional, agenda tersebut juga sejalan dengan Asta Cita poin ke-5, khususnya penguatan kemandirian energi, pengembangan ekonomi hijau, dan hilirisasi industri.
Masa depan energi Indonesia tidak hanya bergantung pada teknologi yang dikembangkan, tetapi juga pada kesiapan manusia dan ekosistem dalam mengelola perubahan. Karena itu, pendidikan, riset, dan kolaborasi menjadi bagian penting dalam membangun generasi yang mampu menghadirkan solusi bagi transisi energi yang berkelanjutan.
Kenali lebih jauh peran pendidikan tinggi dalam membangun masa depan energi Indonesia bersama Universitas Pertamina.
Referensi:
Celios Greenpeace. Indeks Kesiapan Transaksi Energi Desa 2026.
Kompas. 2025. Pemerintah Targetkan 1,8 Juta Lapangan Kerja Hijau pada 2030.
Kementrian ESDM. 2026. Perkuat Ketahanan Energi, Indonesia - Jerman Percepatan Investasi EBT dan Jaringan Listrik.
Kompas. 2024. Bahan Bakar Fosil Sumbang 82 Persen Bauran Energi Global.