ID / EN
Berita Populer

Ingin Pensiun Tenang? Hitung Dulu Berapa Dana yang Harus Disiapkan


Published by: Universitas Pertamina Rabu, 19 Agustus 2026
Dibaca: 19 kali
Banyak orang sudah terbiasa menyisihkan uang untuk kebutuhan jangka pendek, tetapi belum tentu memiliki gambaran berapa dana yang dibutuhkan setelah tidak lagi menerima penghasilan aktif. Padahal, berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat literasi dana pensiun masyarakat Indonesia baru mencapai 27,79 persen, sedangkan tingkat inklusinya hanya 5,37 persen. Artinya, pemahaman mengenai dana pensiun maupun penggunaan produk dana pensiun masih memiliki ruang yang besar untuk ditingkatkan.

Persoalan ini semakin relevan ketika seseorang perlu memperhitungkan berapa lama dana tersebut harus menopang kehidupannya. BPS mencatat umur harapan hidup saat lahir di Indonesia pada 2025 mencapai 74,47 tahun, meningkat 0,32 tahun dibandingkan tahun sebelumnya. Angka tersebut bukan berarti seseorang yang pensiun pada usia tertentu pasti hidup hingga usia tersebut, tetapi menunjukkan bahwa masa hidup masyarakat Indonesia terus memanjang dan perencanaan keuangan jangka panjang perlu mempertimbangkan periode yang cukup panjang.

Lalu, sebenarnya berapa dana pensiun yang perlu disiapkan?

Dana Pensiun Tidak Bisa Dihitung dari Pengeluaran Hari Ini

Cara paling sederhana untuk memperkirakan kebutuhan dana pensiun adalah melihat pengeluaran bulanan saat ini, kemudian memperkirakan bagaimana kebutuhan tersebut berubah hingga masa pensiun.

Masalahnya, nilai uang tidak berhenti pada angka hari ini. Inflasi dapat membuat harga barang dan jasa meningkat sehingga jumlah uang yang dibutuhkan untuk mempertahankan gaya hidup yang sama di masa depan menjadi lebih besar.

Sebagai gambaran, BPS mencatat inflasi Indonesia pada Desember 2025 sebesar 2,92 persen secara tahunan.
Misalnya, seseorang berusia 30 tahun saat ini membutuhkan Rp8 juta per bulan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Jika orang tersebut berencana pensiun pada usia 55 tahun dan menggunakan asumsi inflasi 2,92 persen per tahun, kebutuhan Rp8 juta tersebut secara nominal dapat meningkat menjadi sekitar Rp16,4 juta per bulan 25 tahun kemudian.

Perhitungannya secara sederhana:

Rp8 juta × (1 + 2,92%)²⁵ ≈ Rp16,4 juta

Artinya, seseorang tidak cukup hanya mengatakan, “Saat pensiun nanti saya butuh Rp8 juta per bulan.” Angka tersebut perlu disesuaikan dengan perubahan nilai uang.

Lalu, Berapa Total Dana yang Dibutuhkan?

Setelah mengetahui perkiraan kebutuhan bulanan saat pensiun, langkah berikutnya adalah memperkirakan berapa lama dana tersebut akan digunakan.

Sebagai ilustrasi sederhana, seseorang berusia 30 tahun ingin pensiun pada usia 55 tahun dan membuat perencanaan hingga usia 74 tahun. Dengan kebutuhan awal masa pensiun sekitar Rp16,4 juta per bulan, periode pensiun yang dibiayai sekitar 19 tahun, serta asumsi imbal hasil investasi nominal 6 persen per tahun, kebutuhan dana pada awal masa pensiun berada di kisaran Rp2,2 miliar.

Namun, angka tersebut bukan angka ideal dana pensiun untuk semua orang. Nilainya dapat berubah apabila usia pensiun, kebutuhan bulanan, tingkat inflasi, imbal hasil investasi, atau periode masa pensiun berubah.
Bahkan, perhitungan tersebut belum memasukkan sejumlah kemungkinan lain seperti biaya kesehatan, perubahan gaya hidup, pajak, biaya pengelolaan investasi, maupun sumber pendapatan lain selama masa pensiun.

Karena itu, simulasi tersebut lebih tepat dipahami sebagai cara untuk melihat bagaimana asumsi yang berbeda dapat mengubah kebutuhan dana di masa depan, bukan sebagai rekomendasi investasi atau target dana pensiun personal.

Di Sini Ilmu Aktuaria Berperan

Persoalan dana pensiun sebenarnya merupakan contoh nyata dari masalah yang banyak dihadapi dalam ilmu aktuaria: bagaimana membuat keputusan finansial hari ini berdasarkan kondisi yang belum pasti di masa depan?
Aktuaria menggunakan matematika, statistika, probabilitas, dan pemodelan untuk mengukur risiko serta memperkirakan dampak finansial dari berbagai kemungkinan.

Dalam perencanaan dana pensiun, misalnya, terdapat sejumlah pertanyaan yang perlu dijawab: Berapa besar dana yang dibutuhkan? Berapa lama dana harus tersedia? Bagaimana jika inflasi lebih tinggi dari perkiraan? Bagaimana jika hasil investasi berbeda dari asumsi? Dan bagaimana perubahan usia harapan hidup memengaruhi kebutuhan dana?

Semakin banyak variabel yang harus diperhitungkan, semakin kompleks pula model yang diperlukan.

Belajar Forecasting dan Pemodelan Risiko di Sains Aktuaria UPER

Kemampuan untuk membuat proyeksi semacam itu menjadi bagian dari pembelajaran di Program Studi Sains Aktuaria Universitas Pertamina.

Kurikulum Sains Aktuaria UPER dibangun dengan penekanan pada aktuaria, manajemen risiko, serta penerapannya di sektor keuangan dan energi. Kurikulum tersebut mengacu pada standar minimal kurikulum aktuaria dan standar kompetensi Persatuan Aktuaris Indonesia (PAI), sekaligus disesuaikan dengan kebutuhan industri.

Untuk memahami persoalan seperti perencanaan dana pensiun, mahasiswa terlebih dahulu dibekali dasar melalui mata kuliah Statistika Dasar dan Probabilitas, Pengantar Sains Data, Matematika Keuangan, dan Teori Investasi. Bekal tersebut kemudian berkembang melalui Pemodelan Risiko I dan II, Model Stokastik, Manajemen Risiko I dan II, Matematika Aktuaria, serta Forecasting Method.

Salah satu mata kuliah yang menarik untuk dikaitkan dengan perencanaan jangka panjang adalah Model Survival. Pemodelan survival berkaitan dengan analisis waktu hingga suatu peristiwa terjadi. Dalam konteks aktuaria, pendekatan ini dapat membantu memahami pola keberlangsungan hidup dan menjadi salah satu komponen dalam pengukuran risiko yang berkaitan dengan manfaat jangka panjang.

Sementara itu, Forecasting Method membantu mahasiswa memahami bagaimana data masa lalu dan berbagai asumsi dapat digunakan untuk membuat proyeksi. Matematika Keuangan dan Teori Investasi memberikan dasar untuk memahami nilai uang dan keputusan investasi, sedangkan Pemodelan Risiko dan Manajemen Risiko memperkuat kemampuan untuk mempertimbangkan ketidakpastian dalam pengambilan keputusan.

Kombinasi tersebut menunjukkan bahwa persoalan sederhana seperti menghitung kebutuhan dana pensiun sebenarnya dapat menjadi pintu masuk untuk memahami bagaimana seorang aktuaris bekerja.

Bukan sekadar menghitung angka, tetapi mengidentifikasi variabel, menyusun asumsi, membuat model, mengukur risiko, dan menerjemahkan hasil perhitungan menjadi informasi yang dapat digunakan untuk mengambil keputusan.

Bukan Hanya untuk Dana Pensiun

Penerapan ilmu aktuaria juga tidak berhenti pada persoalan dana pensiun. Kemampuan membaca ketidakpastian dan memproyeksikan risiko dapat digunakan untuk berbagai persoalan yang membutuhkan pengambilan keputusan berbasis data, termasuk di sektor energi.

Kombinasi antara fondasi aktuaria dan pemahaman terhadap sektor energi memberikan ruang bagi mahasiswa untuk melihat bagaimana metode kuantitatif dapat digunakan dalam menghadapi berbagai ketidakpastian di industri. Dengan begitu, pembelajaran tidak hanya berfokus pada bagaimana menghitung risiko, tetapi juga memahami konteks persoalan dan menerjemahkan hasil analisis menjadi dasar pengambilan keputusan.

Bagi mahasiswa dan profesional muda, memahami konsep dana pensiun sejak dini juga dapat menjadi langkah awal untuk membangun perencanaan keuangan yang lebih rasional. Tidak harus langsung menentukan nominal miliaran rupiah, tetapi mulai memahami berapa kebutuhan hidup, kapan ingin pensiun, bagaimana inflasi memengaruhi daya beli, serta risiko apa saja yang mungkin muncul.

Pada akhirnya, pensiun yang tenang bukan hanya tentang memiliki uang dalam jumlah besar, tetapi tentang memiliki perencanaan yang dibuat berdasarkan perhitungan dan pemahaman terhadap risiko.

Kemampuan membaca data dan memproyeksikan berbagai kemungkinan masa depan menjadi semakin penting ketika keputusan finansial harus dibuat dalam kondisi yang penuh ketidakpastian. Karena itu, ilmu aktuaria memiliki relevansi yang semakin luas, baik dalam pengelolaan dana pensiun maupun dalam berbagai kebutuhan industri keuangan dan manajemen risiko.

Melalui pembelajaran yang mengintegrasikan matematika, statistika, sains data, keuangan, forecasting, dan pemodelan risiko, Program Studi Sains Aktuaria Universitas Pertamina berupaya menyiapkan mahasiswa untuk memahami persoalan nyata dan menghasilkan keputusan yang lebih terukur. Upaya tersebut sejalan dengan SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, khususnya dalam mendorong produktivitas, inovasi, dan akses terhadap layanan keuangan yang mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif. 

Penguatan kompetensi tersebut juga sejalan dengan Asta Cita ke-4, yang menempatkan penguatan sumber daya manusia, sains, teknologi, dan pendidikan sebagai salah satu agenda pembangunan nasional. 

Melalui pendidikan yang menghubungkan keilmuan dengan kebutuhan industri dan persoalan masyarakat, Universitas Pertamina terus mendorong semangat UPER Berdampak menghadirkan pembelajaran yang tidak berhenti pada penguasaan teori, tetapi dapat diterapkan untuk menjawab tantangan nyata. 

Bagi kamu yang tertarik mendalami matematika, data, keuangan, dan pengelolaan risiko serta ingin mempersiapkan diri menghadapi kebutuhan industri masa depan, Program Studi Sains Aktuaria Universitas Pertamina dapat menjadi pilihan untuk memulai langkah tersebut. Jangan hanya menunggu masa depan datang, mulai siapkan kompetensimu dari sekarang. Daftarkan diri dan jadilah bagian dari Universitas Pertamina melalui laman Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Universitas Pertamina.

Referensi:
OJK. (2026). Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2025. https://ojk.go.id/id/Fungsi-Utama/Perilaku-Pelaku-Usaha-Jasa-Keuangan/SNLIK/Pages/SNLIK-2025.aspx 
BPS. (2025). Indeks Pembangunan Manusia (IPM). https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2025/11/05/2480/indeks-pembangunan-manusia--ipm--indonesia-tahun-2025-mencapai-75-90--meningkat-0-88-poin-dibandingkan-tahun-sebelumnya-yang-sebesar-75-02-.html 
BPS. (2025). Perkembangan Indeks Harga Konsumen Desember 2025. https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2026/01/05/2527/inflasi-year-on-year--y-on-y--pada-desember-2025-sebesar-2-92-persen.html 

Thumbnail
Bagikan:
Bagikan ke WhatsApp
Bagikan ke Facebook
Bagikan ke X
Bagikan ke Telegram
Bagikan ke LinkedIn

Tinggalkan Balasan
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalan UU ITE

© 2026 Universitas Pertamina.
All rights reserved