ID / EN
Berita Populer

Belajar dari Gempa Filipina M7,8: Seperti Apa Bangunan yang Tahan Gempa?


Published by: Universitas Pertamina Senin, 29 Juni 2026
Dibaca: 4 kali
Gempa berkekuatan Magnitudo (M) 7,7–7,8 yang mengguncang wilayah lepas pantai Mindanao, Filipina, pada Juni 2026 menjadi pengingat bahwa negara-negara di kawasan Asia Tenggara hidup berdampingan dengan ancaman gempa bumi. Dampaknya tidak hanya dirasakan di Filipina, tetapi juga hingga Indonesia. 

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bahkan sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami setelah gempa terjadi, sebelum akhirnya mengakhirinya setelah pemantauan menunjukkan kondisi laut telah kembali aman. Kenaikan muka air laut juga sempat terpantau di beberapa wilayah Indonesia, seperti Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara.

Peristiwa ini kembali mengingatkan bahwa gempa bumi tidak dapat diprediksi maupun dicegah. Namun, jumlah korban dan besarnya kerusakan dapat diminimalkan apabila bangunan dirancang dengan prinsip ketahanan gempa yang tepat. Inilah alasan mengapa konstruksi tahan gempa menjadi salah satu aspek terpenting dalam pembangunan infrastruktur, terutama di negara rawan gempa seperti Indonesia.

Bangunan Tahan Gempa Bukan Berarti Tidak Rusak

Masih banyak yang beranggapan bahwa bangunan tahan gempa adalah bangunan yang tidak mengalami retak sedikitpun ketika diguncang. Padahal, dalam dunia teknik sipil, tujuan utama perancangan bangunan tahan gempa bukanlah menghilangkan kerusakan sepenuhnya.

Bangunan dirancang agar mampu menahan gaya gempa tanpa mengalami keruntuhan, sehingga penghuni memiliki waktu untuk menyelamatkan diri. Kerusakan pada dinding, plafon, atau elemen non-struktural masih mungkin terjadi, tetapi struktur utama—seperti fondasi, kolom, balok, dan sambungan—harus tetap mampu menopang bangunan.

Prinsip ini diterapkan dalam berbagai standar internasional maupun SNI 1726:2019 tentang Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung dan Non Gedung, yang menjadi acuan utama perencanaan bangunan tahan gempa di Indonesia.

Struktur yang Mampu Menyerap Energi Gempa

Ketika gempa terjadi, tanah bergerak secara horizontal maupun vertikal. Gerakan tersebut menghasilkan gaya yang diteruskan ke seluruh bagian bangunan.

Di sinilah peran struktur bangunan menjadi sangat penting. Bangunan yang baik bukanlah yang paling kaku, melainkan yang memiliki kombinasi antara kekuatan, kekakuan, dan daktilitas. Daktilitas merupakan kemampuan struktur untuk mengalami deformasi tanpa langsung runtuh sehingga energi gempa dapat diserap secara bertahap.

Untuk bangunan bertingkat tinggi, para insinyur bahkan memanfaatkan teknologi seperti base isolation dan seismic damper yang berfungsi mengurangi energi getaran sebelum diteruskan ke struktur bangunan.

Fondasi Menjadi Penentu Stabilitas

Bangunan yang kokoh tidak hanya bergantung pada bagian atasnya. Fondasi merupakan elemen pertama yang menerima pengaruh kondisi tanah.

Sebelum pembangunan dimulai, dilakukan investigasi geoteknik untuk mengetahui karakteristik tanah, daya dukung, serta potensi bahaya seperti likuefaksi atau penurunan tanah. Hasil investigasi tersebut menjadi dasar dalam menentukan jenis fondasi yang sesuai sehingga bangunan memiliki stabilitas yang optimal saat terjadi gempa. Karena itu, setiap wilayah memiliki kebutuhan desain fondasi yang berbeda, bergantung pada kondisi geologi setempat.

Material Berkualitas Sama Pentingnya dengan Desain

Perencanaan struktur yang baik tidak akan memberikan hasil optimal apabila pelaksanaannya menggunakan material yang tidak memenuhi standar.

Beton harus memiliki mutu sesuai spesifikasi, baja tulangan harus memenuhi standar kekuatan, sementara setiap sambungan struktur harus dipasang dengan benar agar mampu menyalurkan beban gempa secara merata.
Kesalahan kecil dalam proses konstruksi dapat mengurangi kemampuan bangunan menghadapi guncangan yang besar.

Bentuk Bangunan Ternyata Berpengaruh

Tidak hanya material dan struktur, bentuk bangunan juga memengaruhi respons terhadap gempa.
Bangunan dengan bentuk sederhana dan simetris cenderung memiliki distribusi gaya yang lebih merata dibandingkan bangunan dengan bentuk yang tidak beraturan. Sebaliknya, desain yang terlalu kompleks dapat menyebabkan konsentrasi gaya pada titik tertentu sehingga meningkatkan risiko kerusakan.

Inilah sebabnya proses perancangan arsitektur selalu melibatkan kolaborasi erat dengan insinyur sipil agar bangunan tidak hanya indah secara visual, tetapi juga aman secara struktural.

Belajar dari Gempa Filipina

Gempa Filipina menunjukkan bahwa kesiapsiagaan terhadap bencana tidak hanya berkaitan dengan sistem peringatan dini, tetapi juga kualitas infrastruktur.

Indonesia sendiri berada di pertemuan tiga lempeng tektonik utama dunia sehingga memiliki tingkat aktivitas seismik yang tinggi. Oleh karena itu, penerapan prinsip konstruksi tahan gempa menjadi kebutuhan, bukan lagi pilihan. Selain memastikan bangunan baru dirancang sesuai standar, evaluasi terhadap bangunan lama juga penting dilakukan agar mampu menghadapi potensi gempa di masa mendatang.

Teknik Sipil Berperan Membangun Infrastruktur yang Lebih Aman

Di balik setiap gedung, jembatan, bendungan, jalan raya, hingga pelabuhan yang aman digunakan masyarakat, terdapat peran besar para insinyur sipil. Mereka tidak hanya merancang infrastruktur agar kuat dan efisien, tetapi juga memastikan setiap konstruksi mampu melindungi manusia dari berbagai risiko bencana.

Seiring meningkatnya tantangan perubahan iklim, urbanisasi, dan kebutuhan akan infrastruktur yang tangguh, kompetensi di bidang teknik sipil semakin dibutuhkan untuk menghadirkan solusi pembangunan yang berkelanjutan.

Program Studi Teknik Sipil Universitas Pertamina mempersiapkan mahasiswa menjadi rekayasawan profesional yang mampu merancang, membangun, mengoperasikan, dan memelihara infrastruktur dengan mengintegrasikan aspek keselamatan, inovasi, dan keberlanjutan. Mahasiswa juga dapat memperdalam kompetensinya melalui berbagai peminatan, seperti Manajemen Bencana dan Infrastruktur Tanggap Bencana, Rekayasa Struktur Khusus, Teknologi Bahan Berkelanjutan, hingga Pengembangan Energi Terbarukan. 

Keunggulan tersebut menjadikan lulusan siap berkontribusi dalam pembangunan infrastruktur yang adaptif terhadap tantangan masa depan, khususnya di sektor energi dan lingkungan.

Membangun Kota yang Lebih Tangguh dan Berkelanjutan

Gempa Filipina menjadi pengingat bahwa membangun infrastruktur bukan hanya soal mendirikan gedung atau jembatan, tetapi juga tentang melindungi kehidupan manusia. Di negara yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik seperti Indonesia, penerapan prinsip bangunan tahan gempa merupakan investasi jangka panjang untuk menciptakan kota yang lebih aman, tangguh, dan siap menghadapi bencana.

Upaya tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 11: Sustainable Cities and Communities yang mendorong pembangunan kota yang aman, inklusif, tangguh, dan berkelanjutan. Selain itu, pengembangan infrastruktur yang mengintegrasikan material ramah lingkungan dan teknologi hemat energi juga mendukung SDG 7: Affordable and Clean Energy, sehingga pembangunan tidak hanya kuat terhadap bencana, tetapi juga berkontribusi pada masa depan yang lebih berkelanjutan.

Karena, di balik setiap jembatan yang kokoh, gedung yang aman, atau infrastruktur yang tetap berdiri saat bencana terjadi, ada peran seorang insinyur sipil. Jika Anda tertarik menjadi bagian dari profesi tersebut, Program Studi Teknik Sipil Universitas Pertamina dapat menjadi tempat untuk mengembangkan kompetensi di bidang perencanaan, perancangan, pembangunan, hingga pemeliharaan infrastruktur. 

Mahasiswa juga memiliki kesempatan mendalami berbagai bidang, seperti Manajemen Bencana dan Infrastruktur Tanggap Bencana, Rekayasa Struktur Khusus, Teknologi Bahan Berkelanjutan, serta Pengembangan Energi Terbarukan. 

Selengkapnya mengenai Program Studi Teknik Sipil dan informasi pendaftaran dapat diakses melalui laman Penerimaan Mahasiswa Baru Universitas Pertamina. 

Daftar Pustaka: 


Thumbnail
Bagikan:
Bagikan ke WhatsApp
Bagikan ke Facebook
Bagikan ke X
Bagikan ke Telegram
Bagikan ke LinkedIn

Tinggalkan Balasan
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalan UU ITE

© 2026 Universitas Pertamina.
All rights reserved