Mahasiswa Program Studi Teknik Geologi Universitas Pertamina, Giza Unika Anantasa bersama Akhdan Novrizal Tumanggor, berhasil meraih Juara 2 pada kompetisi Core Description dalam ajang IPA Convex 2026 yang diselenggarakan oleh Indonesian Petroleum Association (IPA). Prestasi tersebut menunjukkan kemampuan keduanya dalam menganalisis dan menginterpretasikan batuan inti, kompetensi yang menjadi salah satu fondasi penting dalam kegiatan eksplorasi energi.
Core Description merupakan kompetisi yang menguji kemampuan peserta dalam mendeskripsikan dan menginterpretasikan sampel batuan inti (core) untuk memahami karakteristik geologi bawah permukaan. Kompetensi ini berperan penting dalam industri migas karena membantu geolog mengidentifikasi potensi reservoir serta merekonstruksi kondisi geologi berdasarkan data batuan yang tersedia.
Bagi Giza dan Akhdan, keikutsertaan dalam kompetisi tersebut berawal dari ketertarikannya pada bidang sedimentologi, stratigrafi, dan analisis batuan inti. Selain menjadi wadah untuk mengasah kemampuan interpretasi geologi, IPA Convex juga memberinya kesempatan untuk merasakan atmosfer kompetisi yang dekat dengan kebutuhan industri energi.
“IPA Convex memberikan kesempatan bagi kami untuk menguji kemampuan yang selama ini dipelajari di perkuliahan dalam lingkungan kompetisi yang dekat dengan kebutuhan industri. Itu yang membuat kami tertarik untuk mencoba,” ujarnya.
Untuk menghadapi kompetisi tersebut, Giza dan Akhdan menjalani persiapan intensif selama beberapa minggu. Mereka kembali mempelajari teknik deskripsi core, identifikasi struktur sedimen, interpretasi lingkungan pengendapan, hingga berbagai studi kasus yang pernah ditemui selama praktikum. Proses tersebut diperkuat melalui diskusi rutin bersama dosen pembimbing, Yan Bachtiar, guna mempertajam kemampuan analisis dan cara berpikir ilmiah tim.
Menurut Yan, capaian tersebut merupakan hasil dari komitmen dan semangat belajar yang ditunjukkan keduanya selama masa persiapan.
“Giza dan Akhdan sangat amazing dalam belajar. Mereka sangat semangat mengikuti rangkaian persiapan lomba. Ini tidak lepas dari value "Be Global Leaders" yang telah ditanamkan oleh dosen UPER sejak semester awal,” ujar Yan.
Bekal tersebut menjadi modal penting saat kompetisi berlangsung. Dalam ajang Core Description, peserta dituntut mengaplikasikan berbagai kompetensi geologi yang dipelajari selama perkuliahan, mulai dari identifikasi litologi, analisis struktur sedimen, hingga interpretasi lingkungan pengendapan. Seluruh proses dilakukan berdasarkan pengamatan langsung terhadap sampel batuan inti yang merepresentasikan kondisi bawah permukaan bumi.
Tantangan semakin terasa karena seluruh rangkaian analisis harus diselesaikan dalam waktu yang terbatas. Dalam tiga jam, peserta harus mengamati setiap lapisan batuan inti, mengidentifikasi jenis batuan dan karakteristik reservoir, menyusun interpretasi geologi, hingga menyajikan hasil analisis dalam bentuk poster ilmiah berukuran A1.
“Kami harus mengolah banyak informasi dalam waktu yang terbatas dan memastikan setiap interpretasi memiliki dasar ilmiah yang kuat. Di situ kemampuan berpikir kritis, ketelitian, dan kerja sama tim benar-benar diuji,” jelas Giza.
Menurutnya, keberhasilan tim tidak hanya ditentukan oleh penguasaan materi, tetapi juga komunikasi yang efektif dan pembagian peran yang jelas. Setiap hasil pengamatan selalu didiskusikan bersama sebelum ditetapkan sebagai kesimpulan akhir untuk memastikan interpretasi yang disusun tetap objektif dan dapat dipertanggungjawabkan.
Prestasi yang diraih Giza dan Akhdan pun bukan capaian yang diperoleh melalui proses penilaian biasa. Menurut Yan, kompetisi Core Description IPA Convex menghadirkan juri yang berasal dari kalangan profesional geosains dan eksplorasi yang berpengalaman di industri energi global, seperti ExxonMobil. Hal tersebut membuat standar penilaian yang digunakan mengacu pada praktik dan kebutuhan industri yang sesungguhnya.
“Karena yang menjadi juri adalah para profesional yang sehari-hari berkecimpung di bidang eksplorasi, setiap interpretasi peserta diuji tidak hanya dari sisi akademik, tetapi juga relevansinya terhadap praktik industri. Oleh karena itu, prestasi ini menunjukkan bahwa kompetensi yang dimiliki mahasiswa mampu bersaing dan diakui oleh kalangan profesional,” tambah Yan.
Lebih dari sekadar meraih penghargaan, pengalaman mengikuti IPA Convex memberikan gambaran nyata mengenai standar kompetensi yang dibutuhkan di industri energi. Bagi Giza dan Akhdan, seorang geolog tidak hanya dituntut memahami teori, tetapi juga mampu bekerja dengan data, berpikir logis, dan mengambil keputusan berdasarkan bukti yang tersedia di lapangan.
Ia pun mengajak mahasiswa Universitas Pertamina untuk berani mengambil kesempatan mengikuti berbagai kompetisi akademik maupun profesional. Menurutnya, proses belajar yang diperoleh selama kompetisi sering kali jauh lebih berharga dibandingkan hasil akhir yang diraih.
“Jangan takut memulai meskipun merasa belum sepenuhnya siap. Setiap proses akan memberikan pengalaman dan pembelajaran yang berharga untuk pengembangan diri ke depan,” tutupnya.
Prestasi yang diraih Giza dan Akhdan menjadi bukti bahwa penguasaan kompetensi geosains yang didukung latihan, ketelitian, dan kemampuan bekerja sama mampu menghasilkan capaian membanggakan di tingkat nasional. Pengakuan dari para praktisi eksplorasi industri energi menunjukkan bahwa kompetensi yang dikembangkan mahasiswa Universitas Pertamina telah selaras dengan kebutuhan dunia kerja yang terus berkembang.
Capaian ini sekaligus mencerminkan komitmen Universitas Pertamina dalam menghadirkan pembelajaran yang menghubungkan teori dengan praktik industri. Melalui penguatan kompetensi geologi dan pengalaman kompetitif yang aplikatif, mahasiswa didorong untuk menjadi lulusan yang siap berkontribusi dalam pengembangan sektor energi nasional.
Upaya tersebut sejalan dengan SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui pengembangan kompetensi mahasiswa serta SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui penguatan kapasitas sumber daya manusia yang mendukung kemajuan industri energi. [MV]