Sebagai wilayah kepulauan terdepan, Natuna menghadapi tantangan pembangunan yang berbeda dibandingkan banyak daerah lain di Indonesia. Kabupaten ini terdiri atas 154 pulau, namun hanya 27 di antaranya yang berpenghuni. Kondisi geografis tersebut membuat konektivitas antarpulau dan pemerataan pembangunan menjadi isu penting bagi masyarakat. Karena itu, Pemerintah Kabupaten Natuna menempatkan pemerataan pembangunan berkelanjutan dan penguatan konektivitas antarpulau sebagai salah satu prioritas pembangunan daerah.
Bagi Daiva, pilihan menempuh pendidikan di bidang teknik sipil bukan hanya tentang membangun gedung atau jalan. Ia ingin memahami bagaimana infrastruktur dapat dirancang sesuai dengan karakter wilayah kepulauan, sekaligus tetap memperhatikan lingkungan pesisir yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Natuna.
“Natuna adalah daerah kepulauan, jadi kebutuhan infrastrukturnya juga memiliki tantangan tersendiri. Saya ingin belajar bagaimana membangun infrastruktur yang tidak hanya kuat dan bermanfaat bagi masyarakat, tetapi juga tetap ramah terhadap lingkungan pesisir,” kata Daiva.
Keinginannya tersebut sejalan dengan tantangan pembangunan Natuna saat ini. Dengan wilayah yang sebagian besar berupa laut dan jarak antarpulau yang berjauhan, akses dan konektivitas masih menjadi persoalan dalam pemerataan pembangunan dan pelayanan masyarakat. Pada 2026, Natuna bahkan dipilih menjadi salah satu lokus kajian Bappenas untuk merumuskan model pembangunan yang lebih adaptif bagi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.
Bagi Daiva, kesempatan belajar Teknik Sipil melalui Beasiswa Sobat Bumi Natuna membuka jalan untuk mempersiapkan kemampuan yang suatu hari dapat dibawa kembali ke daerah asalnya. Ia bercita-cita ikut menghadirkan infrastruktur yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat tanpa mengabaikan keberlanjutan lingkungan.
“Saya ingin suatu saat bisa kembali dan ikut membangun Natuna. Salah satu mimpi saya adalah berkontribusi pada pembangunan infrastruktur pesisir yang ramah lingkungan di tanah kelahiran saya,” ujarnya.
Menjadi penerima beasiswa juga memberikan arti tersendiri bagi Daiva. Menurutnya, dukungan tersebut tidak hanya meringankan langkah dari sisi finansial, tetapi juga memberikan keyakinan bahwa anak-anak dari wilayah terdepan memiliki kesempatan yang sama untuk menempuh pendidikan tinggi dan mengejar cita-cita.
“Bagi saya, mimpi anak daerah, termasuk kami yang berasal dari wilayah terdepan, sangat layak diperjuangkan. Kadang yang dibutuhkan bukan hanya keberanian untuk bermimpi, tetapi juga kesempatan untuk bisa melangkah lebih jauh,” tuturnya.
Ia berharap semakin banyak generasi muda dari daerah kepulauan dan wilayah 3T yang mendapatkan akses pendidikan serta kesempatan untuk mengembangkan diri. Menurutnya, semakin banyak anak daerah yang memperoleh pendidikan tinggi, semakin besar pula peluang mereka untuk kembali membawa pengetahuan dan pengalaman bagi pembangunan daerah asal.
Dukungan keluarga dan orang-orang terdekat turut menguatkan langkah Daiva menempuh pendidikan tinggi. Ia menyampaikan apresiasi kepada Pertamina melalui Beasiswa Sobat Bumi Natuna yang tidak hanya meringankan beban finansial, tetapi juga menguatkan tekadnya untuk terus belajar dan suatu hari kembali berkontribusi bagi pembangunan Natuna.
Cita-cita Daiva untuk kembali berkontribusi bagi Natuna menjadi bagian dari semangat UPER Berdampak, yang mendorong pendidikan tinggi tidak berhenti pada pengembangan kapasitas individu, tetapi juga membuka ruang bagi mahasiswa untuk membawa pengetahuan dan kompetensinya bagi masyarakat. Melalui pendidikan dan pengalaman selama masa studi, mahasiswa didorong untuk tumbuh menjadi talenta yang mampu melihat persoalan di daerahnya dan turut menghadirkan solusi sesuai kebutuhan masyarakat.
Upaya tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) ke-4: Pendidikan Bermutu, melalui perluasan kesempatan pendidikan tinggi bagi generasi muda dari wilayah kepulauan. Pilihan Daiva untuk mendalami teknik sipil dan pembangunan infrastruktur juga berkaitan dengan SDGs ke-9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur serta SDGs ke-11: Kota dan Komunitas Berkelanjutan, khususnya dalam mendorong pembangunan infrastruktur yang adaptif terhadap karakter wilayah dan kebutuhan masyarakat. Sementara itu, perhatian terhadap pembangunan infrastruktur yang tetap menjaga lingkungan pesisir turut mendukung SDGs ke-13: Penanganan Perubahan Iklim.
Komitmen tersebut juga mendukung Asta Cita ke-4, yaitu memperkuat pembangunan sumber daya manusia, sains, teknologi, pendidikan, kesehatan, prestasi olahraga, kesetaraan gender, serta penguatan peran perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas. Melalui kesempatan pendidikan yang lebih luas, generasi muda dari wilayah kepulauan seperti Natuna dapat mempersiapkan diri untuk menjadi bagian dari pembangunan daerah sekaligus membawa pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama menempuh pendidikan tinggi kembali ke masyarakat. [IH]
Tentang Beasiswa Sobat Bumi Natuna
Beasiswa Sobat Bumi Natuna merupakan program beasiswa yang memberikan kesempatan bagi generasi muda asal Natuna untuk melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Pertamina (UPER). Melalui program ini, penerima memperoleh dukungan pendidikan untuk menempuh studi sekaligus mengembangkan kompetensi akademik dan nonakademik, sebagai bagian dari upaya memperluas akses pendidikan tinggi bagi putra-putri daerah. [IH]