ID / EN
Berita Kampus

Dari Wilayah Terdepan, Mahasiswa Ini Ingin Bangun Infrastruktur Pesisir Ramah Lingkungan di Natuna


Published by: Universitas Pertamina Senin, 14 September 2026
Dibaca: 7 kali
Sebagai wilayah kepulauan terdepan, Natuna memiliki tantangan pembangunan yang berbeda dengan banyak daerah lain di Indonesia. Kabupaten ini terdiri atas 154 pulau, tetapi hanya 27 pulau yang berpenghuni. Kondisi geografis tersebut membuat konektivitas antarpulau dan pemerataan pembangunan menjadi isu penting bagi masyarakat setempat. Bahkan, Pemerintah Kabupaten Natuna menempatkan pemerataan pembangunan berkelanjutan dan konektivitas antarpulau sebagai salah satu prioritas pembangunan daerah.

Kondisi itu ikut membentuk cita-cita Tubagus Daiva Ardila, lulusan SMAN 1 Bunguran Timur, Ranai, yang kini melanjutkan pendidikan di Program Studi Teknik Sipil Universitas Pertamina (UPER) melalui Beasiswa Sobat Bumi Natuna.

Bagi Daiva, pilihan menempuh pendidikan di bidang teknik sipil bukan hanya tentang membangun gedung atau jalan. Ia ingin memahami bagaimana infrastruktur dapat dirancang sesuai dengan karakter wilayah kepulauan, sekaligus tetap memperhatikan lingkungan pesisir yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Natuna.

“Natuna adalah daerah kepulauan, jadi kebutuhan infrastrukturnya juga memiliki tantangan tersendiri. Saya ingin belajar bagaimana membangun infrastruktur yang tidak hanya kuat dan bermanfaat bagi masyarakat, tetapi juga tetap ramah terhadap lingkungan pesisir,” kata Daiva.

Keinginannya tersebut sejalan dengan tantangan pembangunan Natuna saat ini. Dengan wilayah yang sebagian besar berupa laut dan jarak antarpulau yang berjauhan, akses dan konektivitas masih menjadi persoalan dalam pemerataan pembangunan dan pelayanan masyarakat. Pada 2026, Natuna bahkan dipilih menjadi salah satu lokus kajian Bappenas untuk merumuskan model pembangunan yang lebih adaptif bagi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.

Bagi Daiva, kesempatan belajar Teknik Sipil melalui Beasiswa Sobat Bumi Natuna membuka jalan untuk mempersiapkan kemampuan yang suatu hari dapat dibawa kembali ke daerah asalnya. Ia bercita-cita ikut menghadirkan infrastruktur yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat tanpa mengabaikan keberlanjutan lingkungan.

“Saya ingin suatu saat bisa kembali dan ikut membangun Natuna. Salah satu mimpi saya adalah berkontribusi pada pembangunan infrastruktur pesisir yang ramah lingkungan di tanah kelahiran saya,” ujarnya.

Menjadi penerima beasiswa juga memberikan arti tersendiri bagi Daiva. Menurutnya, dukungan tersebut tidak hanya meringankan langkah dari sisi finansial, tetapi juga memberikan keyakinan bahwa anak-anak dari wilayah terdepan memiliki kesempatan yang sama untuk menempuh pendidikan tinggi dan mengejar cita-cita.

“Bagi saya, mimpi anak daerah, termasuk kami yang berasal dari wilayah terdepan, sangat layak diperjuangkan. Kadang yang dibutuhkan bukan hanya keberanian untuk bermimpi, tetapi juga kesempatan untuk bisa melangkah lebih jauh,” tuturnya.

Ia berharap semakin banyak generasi muda dari daerah kepulauan dan wilayah 3T yang mendapatkan akses pendidikan serta kesempatan untuk mengembangkan diri. Menurutnya, semakin banyak anak daerah yang memperoleh pendidikan tinggi, semakin besar pula peluang mereka untuk kembali membawa pengetahuan dan pengalaman bagi pembangunan daerah asal.

Dukungan keluarga dan orang-orang terdekat turut menguatkan langkah Daiva menempuh pendidikan tinggi. Ia menyampaikan apresiasi kepada Pertamina melalui Beasiswa Sobat Bumi Natuna yang tidak hanya meringankan beban finansial, tetapi juga menguatkan tekadnya untuk terus belajar dan suatu hari kembali berkontribusi bagi pembangunan Natuna. [IH]
Thumbnail Thumbnail
Bagikan:
Bagikan ke WhatsApp
Bagikan ke Facebook
Bagikan ke X
Bagikan ke Telegram
Bagikan ke LinkedIn

Tinggalkan Balasan
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalan UU ITE

© 2026 Universitas Pertamina.
All rights reserved