Edukasi Ketahanan Energi Nasional, Himpunan Mahasiswa Program Studi Teknik Perminyakan Universitas Pertamina Menyelenggarakan Seminar Petroinsight

JAKARTA – Energi merupakan instrumen vital bagi suatu negara untuk terus menjalankan kegiatannya. Terbukti cadangan minyak bumi Indonesia tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan negara lain. Indonesia hanya memiliki cadangan proven sebesar 3,6 miliar barrel. Jauh lebih rendah dibandingkan dengan Saudi Arabia sebesar 200 miliar barrel ataupun Venezuela yang saat ini memiliki 300 miliar barrel. Merujuk pada laporan Dewan Energi Nasional yang dirilis tahun 2014 jika sumur Indonesia tidak dimanfaatkan dengan maksimal maka pada tahun 2025 produksi minyak hanya mampu menyuplai 25% kebutuhan, sisanya sebanyak 75% akan diimpor. Guna meningkatkan cadangan, Indonesia harus mengintensifkan kegiatan eksplorasi. Eksplorasi sangat penting dilakukan untuk menjaga tingkat produksi migas dan membuat Indonesia memiliki bargaining position yang kuat karena didukung oleh ketahanan dan keamanan energi nasional.

Selain mengintensifkan kegiatan eksplorasi migas, pemerintah juga perlu memanfaatkan potensi Energi Baru Terbarukan (EBT) untuk menjaga ketahanan dan keamanan energi, mengingat potensi EBT sangat besar untuk dapat menjadi andalan dalam penyediaan energi nasional di masa mendatang. Namun potensi (EBT) di Indonesia saat ini belum dimanfaatkan secara maksimal. Oleh karena itu dibutuhkan pemetaan yang matang agar bauran energi dapat terealisasi. Hal inilah yang menginisasi Himpunan Mahasiswa Program Studi Teknik Perminyakan Universitas Pertamina menyelenggarakan talkshow Petroinsight bertajuk “The Future of Fossil Energy Amid The Rise of Renewable Energy.” Talkshow ini diselenggarakan pada hari Kamis, 19 April 2017 di Auditorium Universitas Pertamina dengan mengundang berbagai pembicara yang ahli di bidang masing-masing. Mereka adalah Toto Nugroho Pranatayasto (Senior Vice President of ISC PT Pertamina), Ananda Setyo Ivananto (President Director of PT Awina Sinergi Indonesia), dan Salis Aprilian (Founder and CEO of Digital Energy Asia).

Diketahui produksi minyak Indonesia terus menunjukkan tren yang menurun karena terbatasnya penemuan dan pengembangan baru lapangan minyak. Oleh karena itu pada tahun 2003 Indonesia sudah menjadi net importir. Namun saat ini terdapat harapan baru yang muncul terkait eksplorasi migas. Ketika kita berbicara minyak, maka kita akan bicara mengenai basin. “Kebanyakan basin ada sejumlah wilayah seperti Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jawa bagian utara dan Kalimantan Timur.  Sehingga peluang untuk bermain di wilayah timur Indonesia masih sangat besar, mengingat aktivitas eksporasi masih sangat rendah jika dibandingkan dengan barat. Back up basin sudah di eksplorasi, namun front up basin belum,” ungkap Toto. Tidak hanya terfokus pada fossil energy, Pemerintah juga perlu melirik EBT karena memiliki potensi yang besar. Dilansir dari kementrian energi, potensi panas bumi Indonesia mencapai 28.8 MW, tenaga matahari 112 GWp, hidro dan minihidro 75 GW,  biofuel dan biomassa memiliki potensi sekurang-kurangnya 60GW, sedangkan potensi energi tenaga angin Indonesia mencapai 950 MW. “Bahkan Indonesia menjadi  produsen terbesar biomassa. Hal ini menjadikan EBT memiliki peluang untuk bermain dalam mengisi ketahanan energi nasional, “ ungkap Ivan. Namun yang menjadi kendala terbesar mengapa EBT sulit sekali diimplementasikan adalah karena jenis energi ini kurang populer di Indonesia daripada energi fosil sehingga hal ini mendorong kurangnya investasi untuk mendanai proyek EBT. (Humas/RAS)