Essay: Generasi Post-Millenial Perlu “Guru”, Antar Tim Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi UP Raih Juara II Lomba Olimpiade Sosiologi Nasional di Universitras Negeri Yogyakarta

JAKARTA – Tim Mahasiswa Ilmu Komunikasi Angkatan 2016 Universitas Pertamina yang terdiri dari Kadek Liberia Arya Kusuma, Ilham Ayatullah Syamtar, dan Hanna Patricia Siregar berhasil lolos di peringkat kedua pada ajang Lomba Olimpiade Mahasiswa Nasional dengan tema “Menjawab Tantangan Pendidikan melalui Guru Masa Depan” yg diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Universitas Yogyakarta pada 11 November 2017 lalu. Dalam perlombaan tersebut, mereka mempresentasikan karya mereka yang berjudul : Generasi Post-Millenial Perlu “Guru” dengan menawarkan solusi yang mereka sebut dengan “Program Sobat Asuh.”

Mereka memilih topik tersebut karena dilatarbelakangi banyaknya kasus yang melibatkan antara guru, orangtua siswa, dan siswa itu sendiri, seperti kriminalisasi guru, kekerasan fisik yang dilakukan baik orangtua terhadap guru maupun guru terhadap siswa. “…Essay ini bercerita tentang begitu banyak kasus yang terjadi di dunia pendidikan dalam beberapa tahun terakhir yang melibatkan siswa, guru, dan orangtua siswa. Kami menilai bahwa persoalan tersebut lebih disebabkan oleh persolan mendasar yaitu persoalan di ranah komunikasi dimana ada pergeseran makna dalam menginterpretasi pola pendidikan yang tepat bagi peserta didik masa kini.” Ucap Ilham saat ditemui bersama timnya senin lalu (13/11/17).

Kemudian, istilah Post-Milenial dimunculkan untuk mendeskripsikan karakter siswa masa kini yang menurut mereka sangat jauh berbeda dengan karakter siswa pada generasi sebelumnya, dan realitas tersebut turut mempengaruhi adanya miskonsepsi dalam penggunaan kekerasan fisik dalam pendidikan meskipun tujuannya untuk mendisplinkan siswa. “…Jika istilah Generasi Milenial sering disebut juga sebagai Generasi Transisi, maka istilah Generasi Post-Milenial ini merujuk pada generasi yang memang lahir dan tumbuh bersama derasnya perkembangan teknologi, sehingga jangan heran kalau mereka memiliki persepsi yang berbeda pula dengan generasi sebelumnya terhadap penggunaan kekerasan fisik dalam dunia pendidikan. Jadi bukan guru yang tidak tau cara mendidik, tetapi generasi yang mereka hadapi sekarang sudah berbeda dan tentu membutuhkan pendekatan yang berbeda pula dalam pola pendidikannya.” Ujar salah satu anggota tim yang kerap disapa Patris.

Tim yang diketuai oleh Kadek ini pun mengakui bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab dari berbagai pihak, sehingga menurut mereka jaringan komunikasi yang melibatkan antara orangtua, guru dan siswa haruslah berjalan secara sinergis. Untuk itu, diperlukan suatu wadah yang mampu menjembatani antara ketiga unsur pendidikan tersebut, yang kemudian mereka sebut dengan nama “Program Sobat Asuh” sebagai tawaran solusi terhadap permasalahan diatas.

Sebagaimana yang disebutkan Kadek dalam wawancara senin kemarin bahwa : “Pendidikan sejatinya harus mampu mendewasakan perserta didik agar mampu menjalani kehidupan pada zamannya, karena tantangan pendidikan tiap zamannya tentu berbeda. Nah, Program Sobat Asuh ini meskipun masih dalam ranah ide, kami berharap program ini dapat diterapkan dan mampu menyelesaikan permasalahan yang melibatkan siswa, guru, dan orang tua siswa secara kekeluargaan.” Ucapnya.

Essay tersebut telah mengantarkan tim ini lolos dalam setiap tahap olimpiade tersebut yang dimulai dari presentasi, tanya jawab, dan debat pada sesi final. Universitas Pertamina berbagi posisi dengan universitas lain dalam kejuaraan tersebut, dimana tim 1 UGM menempati Urutan Pertama, UNJ menempati urutan Ketiga, dan tim 2 UGM menempati urutan keempat. Pencapaian Universitas Pertamina dalam Olimpiade tersebut sekaligus mengalahkan 15 tim yang berasal dari universitas lain di seluruh Indonesia. “Yaa, semoga hasil yang kami raih ini dapat menjadi motivasi bagi seluruh rekan-rekan mahasiswa Universitas Pertamina lainnya agar terus berkarya dan berprestasi, dan harapannya karya tersebut tidak hanya di ranah ide, tetapi kita harus berusaha bersama-sama mewujudkan ide tersebut untuk Indonesia yang lebih mandiri.” Tutup Kadek. (IA/IH)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *