Literasi Media

Berbagi Ilmu Mengenai HOAX Bersama Remotivi di Kuliah Tamu Prodi Ilmu Komunikasi

Jakarta – Guna meningkatkan literasi media mahasiswa, Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Pertamina menghadirkan Muhammad Heychael, Direktur Remotivi, dalam memberikan pemaparan mengenai HOAX, ujaran kebencian atau yang dikenal dengan hatespeech, dan cyberbullying di mata kuliah Literasi Media pada 8 November 2017.

Heychael menuturkan bahwa sejak diperkenalkannya internet pertama kalinya di Arizona Amerika Serikat tahun 1972, dunia tak lagi sama. Internet merevolusi dunia kita dan berdampak pada cara amsyarakat berkomunikasi. Internet mengubah model industri media, juga mengubah definisi informasi, dan melebur hubungan antara produsen-konsumen informasi. Kehadiran media baru juga mengubah pola konsumsi informasi masyarakat, dulu dikenal adanya produsen-kosumen sekarang beralih menjadi prosumen (produsen dan konsumen). Dulu membaca media adalah ritual, kini media menembus ruang dan waktu. Dulu informasi kualitasnya terjaga oleh “Gate Keeper”, kini tak ada lagi pintu, informasi membanjir. Dulu kredibilitas ditentukan oleh reputasi media/produsen informasi, kini internet memperkenalkan pada kita “anonimitas.” Sebagai akibat dari hal tersebut, tak ayal masyarakat seringkali terjebak pada informasi atau media palsu atau masyarakat mengenalinya dengan sebutan HOAX. Lebih lanjut Heychael menyampaikan bahwa meskipun memiliki konten palsu, tetapi HOAX dan berita palsu memiliki perbedaan. Hoax merupaka informasi palsu yang ditujuan untuk memanipulasi banyak orang sedangkan berita palsu merupakan informasi yang dikemas seperti berita namun informasi didalamnya palsu, ditujukan memanipulasi orang.

Heychael juga menyampaikan bahwa mahasiswa sebagai agen perubahan harus dapat meminimalisir penyebaran HOAX dengan tidak terpancing terhadap isu yang ada. Heychael memberikan tips kepada mahasiswa untuk mengenali informasi yang layak baca.  Hal pertama dapat mengenali identitas media dengan melihat susunan redaksi, pemilik media, serta alamat dan nomor telepon yang bisa dikonfirmasi. Kedua, mahasiswa dapat melakukan verifikasi terlebih dahulu dengan membandingkan informasi yang diterima dengan informasi dari sumber lain yang memiliki tingkat kredibilitas tinggi. Ketiga, mengenali jenis konten dari media yang dibaca, apakah benar-benar berisikan berita atau justru opini yang provokatif. Keempat, memahami akurasi judul dengan isi, apakan judul berita yang diberika sama dengan isi konten yang diberitakan. Terakhir, jika media mencantumkan penelitian, telusuri reputasi serta pengalaman pihak yang melakukan penelitian tersebut terkait dengan topik yang diangkat.

Di akhir kuliah, Heychael berpesan kepada mahasiswa untuk memegan prinsip “semua yang saya temui di media digital adalah hoax sampai sebelum saya bisa membuktikan itu benar” dan “jangan sebar apapun yang anda tidak tahu kebenarannya. Jika anda lakukan itu anda sedang memperkaya produsen hoax.” (IMH)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *