Sambutan Rektor Universitas Pertamina untuk Penerimaan Mahasiswa Baru Universitas Pertamina 2017/2018

PERAN DAN TANTANGAN PERGURUAN TINGGI MODERN

SAMBUTAN REKTOR UNIVERSITAS PERTAMINA

pada

SIDANG TERBUKA PENERIMAAN MAHASISWA BARU

UNIVERSITAS PERTAMINA

TAHUN AKADEMIK 2017/2018

 

Yang kami hormati,

Bapak Menteri Agraria dan Tata Ruang Republik Indonesia, Bapak Dr. Sofyan A. Djalil, S.H., M.A., M.ALD.

Bapak Deputi Bidang Koordinasi Sumberdaya Alam dan Jasa Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman Republik Indonesia, Bapak Ir. Agung Kuswandono, M.A.

Bapak Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Bapak Elia Massa Manik beserta para Direksi. Yang kali ini diwakili oleh Direktur Hulu Pertamina, Bpk. Dr. Syamsu Alam.

Ketua Dewan Penasehat (Advisory Board) Universitas Pertamina, Bapak Prof. Dr. Ir. Muhammad Nuh, DEA.

Para Bapak/Ibu Rektor mitra Universitas Pertamina

Pimpinan dan anggota Dewan Penasehat Universitas Pertamina.

Pimpinan Pertamina Foundation

Para Pengelola Universitas Pertamina.

Rekan-rekan dosen dan tenaga kependidikan.

Para mahasiswa baru Universitas Pertamina yang saya banggakan.

Para undangan yang saat ini hadir:

Dan Para Hadirin sekalian yang saya muliakan

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Selamat Pagi, salam sejahtera untuk kita semua.

Puji syukur marilah kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang atas rahmat dan ridha-Nya sehingga pada pagi hari yang sangat berbahagia ini kita semua bisa hadir dalam rangka melaksanakan salah satu agenda utama Universitas Pertamina, yaitu Sidang Terbuka Penerimaan Mahasiswa Baru Universitas Pertamina Tahun Akademik 2017/2018.

Alhamdulillah, tahun ini Universitas Pertamina telah menyeleksi 5323 calon mahasiswa dan menerima 1234 mahasiswa yang berasal dari berbagai penjuru tanah air. Sebagai Rektor, perkenankan saya mengucapkan selamat atas keberhasilan Adik-Adik, segenap mahasiswa baru Universitas Pertamina, atas kerja keras mengikuti ujian masuk Universitas Pertamina, sehingga saat ini Adik-Adik dapat bergabung dalam komunitas kampus yang membanggakan kita semua ini. Saya yakin bahwa Adik-Adik adalah putra-putri terbaik bangsa Indonesia, dan saya bangga menerima kedatangan Adik-Adik sebagai peserta didik di Universitas Pertamina.

Segenap mahasiswa baru yang saya cintai.

Pada kesempatan ini, perkenankan kami mengetengahkan suatu hal yang menurut hemat kami perlu kita cermati bersama yaitu tentang tuntutan dan peran perguruan tinggi modern.

Bapak/Ibu para undangan dan hadirin yang kami hormati.

Posisi perguruan tinggi di masyarakat merupakan hal yang dinamis. Meskipun gagasan mengenai pentingnya iptek dan pendidikan iptek tidak terbantahkan, tetapi cara-cara bagaimana suatu perguruan tinggi berperan di masyarakat, tampaknya terus-menerus mengalami pembaharuan.

Perguruan tinggi modern bercikal bakal pada gagasan mengenai perguruan tinggi Humboldtian. Istilah Humboldtian merujuk pada Wilhelm von Humboldt, yang pada tahun 1809 menggagas bentuk lembaga pendidikan tinggi atas dasar filosofi idealis, bahwa pendidikan tinggi merupakan wadah yang penting bagi pembentukan karakter manusia. Dalam filosofis idealis, pembentukan karakter melalui pengembangan ilmu pengetahuan dipandang sebagai sesuatu yang sekunder. Dalam gagasan Humboldtian,  ilmu-ilmu pengetahuan seperti filsafat, matematika, filsafat alam (natural philosophy), dan humaniora mendapat prioritas utama, sementara ilmu pengetahuan empiris dan eksperimental dipandang sebagai sekunder.

Perkembangan perguruan tinggi Humboldtian di Eropa abad ke-19 menimbulkan masalah tersendiri, yakni terabaikannya kebutuhan kelas pengusaha dan pekerja industri. Pertumbuhan industri-industri kurang mendapat dukungan dari penelitian-penelitian di perguruan tinggi. Sebagai respons atas situasi seperti ini, sejumlah organisasi profesi yang terkait dengan industri mengambil inisiatif untuk mendirikan institusi perguruan tinggi berbentuk lain, yang dikenal dengan nama Technische Hochschule. Pendirian lembaga ini dimaksudkan untuk menghasilkan tenaga ahli teknik yang mengisi kebutuhan tenaga kerja di industri-industri. Di Perancis abad ke-19, lembaga demikian diberi nama Grandes Ecoles. Ini merupakan suatu bentuk sekolah teknik profesional yang memberikan layanan pendidikan dan pelatihan untuk menghasilkan tenaga ahli, bukan tenaga peneliti. Berdirinya Grandes Ecoles tersebut merupakan hasil dari upaya re-organisasi sistem pendidikan yang dipimpin langsung oleh Napoleon. Keberadaan sistem ganda (dual system) di Eropa abad ke-19 yaitu Universitas  dan Technische Hochschule, mencerminkan adanya hirarki sosial yaitu (kelas bangsawan dan kelas pengusaha/industri), pada gilirannya, mempengaruhi peran lembaga-lembaga pendidikan tinggi.

Gagasan komersialisasi penelitian, untuk pertama kalinya, dikenal dan dipraktikkan di Amerika Serikat (AS) di awal abad ke-20 (sebelum Perang Dunia I). Di masa itu, tingkat kemajuan iptek di AS jauh tertinggal dari Eropa. Meskipun demikian, kesejahteraan masyarakat AS jauh lebih tinggi.  Tingginya kesejahteraan ini ditopang oleh faktor kekayaan sumber daya alam, pasar domestik yang berukuran besar, dan meluasnya praktik wirausaha. Meluasnya kewirausahaan ini didukung oleh struktur sosial masyarakat AS yang relatif lebih datar (flat).

Dipicu oleh krisis ekonomi akibat meluasnya praktik kartel, di awal abad ke-20 perusahaan-perusahaan AS mulai mengubah strategi persaingan mereka, dam menempuh cara-cara diferensiasi produk. Untuk menjalankan strategi ini perusahaan-perusahaan AS ‘meminjam’ iptek dari Eropa, dan melakukan adaptasi untuk keperluan persaingan domestik. Para akademisi dari perguruan-perguruan tinggi nasional, terutama Universitas Stanford, dilibatkan untuk mendukung strategi ‘pinjam dan komersialisasi’ (borrowing and commercializing) tersebut. Salah satu contohnya adalah proses Haber-Bosch, yang dapat mengubah nitrogen di atmosfer menjadi pupuk dalam jumlah yang berlimpah. Teknologi ini semula dikembangkan oleh ilmuwan Jerman, kemudian diadopsi oleh insinyur-insinyur industri di AS. Setalah menempuh waktu yang panjang akhirnya berhasil dikomersialkan.

Di masa Perang Dingin, kontestasi politik dan isu-isu pertahanan menjadi faktor penting yang memacu investasi negara dalam jumlah yang besar ke dalam penelitian fundamental (fundamental research) di perguruan-perguruan tinggi penelitian (research universities). Akan tetapi, berakhirnya Perang Dingin membawa perubahan yang mendasar pada kebijakan penelitian dan pendidikan tinggi. Ketika isu-isu pertahanan dianggap sudah tidak relevan lagi, berkembang luas tuntutan masyarakat bahwa: (i) program-program penelitian yang menggunakan anggaran negara harus akuntabel dan responsif terhadap kebutuhan publik; dan (ii) penelitian dan pendidikan harus memberikan dampak yang positif bagi kemajuan ekonomi dan kualitas kehidupan social secara keseluruhan. Berakhirnya Perang Dingin sekaligus merupakan awal dari liberalisasi perdagangan global. Tantangan baru yang dihadapi oleh perguruan-perguruan tinggi di mancanegara adalah bagaimana memberikan kontribusi dalam menjawab masalah persaingan ekonomi global.

Dalam situasi seperti ini, lahir gagasan-gagasan mengenai perguruan tinggu entrepreneurial dan system inovasi nasional. Elemen pokok dalam gagasan perguruan tinggi entrepreneurial adalah: (i) pergeseran kegiatan penelitian dari basis individual menjadi basis kolektif/berkelompok; dan (ii) perluasan dalam misi pendidikan dari pendidikan untuk individu menjadi pendidikan untuk pengembangan organisasi-organisasi di luar kampus, seperti melalui pelembagaan inkubasi bisnis dan pengembangan start up companies. Dengan perkataan lain, yang diluluskan oleh perguruan tinggi entrepreneurial bukan saja sarjana-sarjana secara individual, melainkan juga organisasi-organisasi baru seperti inkubator bisnis, dan start up companies. Dengan cara seperti ini, perguruan tinggi entrepreneurial berperan sebagai simpul dari jaringan perusahaan-perusahaan, alumni dari perguruan tinggi entrepreneurial bukan hanya sarjana-sarjana, melainkan juga organisasi-organisasi dan start up companies.

Perguruan tinggi seperti ini biasa disebut dengan 4th generation of university.  Ciri utama dari 4th generation of university adalah adanya riset bersama antara perguruan tinggi dan industri. Hal ini sejalan dengan program pemerintah yaitu program hilirisasi hasil-hasil riset. Perguruan Tinggi dituntut untuk menjalankan peran mentransformasi hasil-hasil penelitiannya menjadi karya yang bermanfaat secara nyata bagi peningkatan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional, sesuai dengan visi dan misi pemerintah Indonesia dalam pembangungan 2015-2020 (Nawa Cita).

Para undangan dan hadirin yang saya muliakan,

Tantangan dari program hilirisari riset yang digaungkan oleh Pemerintah  adalah belum adanya sinkronisasi antara apa yang dikerjakan di perguruan tinggi dan persoalan apa yang dihadapi oleh pelaku industri. Saat ini, khususnya di Indonesia, perguruan tinggi masih dianggap sebagai penerima CSR saja, padahal seharusnya perguruan tinggi dan industri bergandeng tangan, bersama-sama menyelesaikan persoalan bangsa, khususnya untuk kesejahteraan rakyat Indonesia.

Perguruan tinggi perlu dipersiapkan dengan dukungan penuh pemerintah agar bisa melakukan hilirisasi riset. Di sisi lain, dunia industri harus disadarkan tentang pentingnya hilirisasi riset. Hilirisasi riset masih akan tetap menjadi mimpi jika riset yang dilakukan di kebanyakan perguruan tinggi hanya riset yang sesuai dengan kemauan dosennya saja, bukan riset yang menjadi kebutuhan industri dan bangsa. Wadah semacam techno park, science park, atau inovation park perlu diadakan untuk menjadi medium bertemunya sivitas akademika atau akademisi dengan pelaku industri dalam rangka hilirisasi riset. Di wadah itu, pelaku industri bisa mengetahui sejauh mana kemampuan riset perguruan tinggi, dan sebaliknya sivitas akademika perguruan tinggi bisa menganalisis kebutuhan industri.

Para undangan dan hadirin yang saya muliakan,

Sinergi yang baik antara universitas dengan dunia usaha maupun pemerintah, merupakan poin utama untuk menjadi entrepreneurial university. Dengan segala keterbatasan, perguruan tinggi tidak mungkin menanggung sendiri dana untuk riset atau penelitian. Untuk itu dibutuhkan kerja kolaboratif antara industri dan perguruan tinggi. Di satu sisi, industri menyediakan program dan anggaran, di sisi lain, perguruan tinggi menyediakan SDM untuk melakukan riset dan menghasilkan inovasi.

Para insan pendidikan dan hadirin yang saya muliakan,

Kita bisa mencontoh salah satu perguruan tinggi terkemuka di Amerika Serikat, yaitu MIT (Massachusette Institute Technology). Hasil riset Bank Boston menunjukan bahwa pada tahun 1994, MIT telah mampu melahirkan 4.000 perusahaan dari tangan alumninya dengan omset 232 miliar dollar pertahun dan mempekerjakan 1,1 juta orang. Hal ini berawal dari keyakinan para scientist, engineer, dan manajer MIT bahwa tidak cukup hanya dengan sekadar penemuan suatu produk, konsep, atau teknologi. Ukuran dari kesuksesan adalah komersialisasi global dan penerimaan secara luas terhadap hasil-hasil inovasi.[1]

Jika kita tengok negara-negara maju, industri-industri di sana pasti memiliki R&D di rumahnya sendiri. Perguruan tinggi berperan besar dalam R&D industri di negaranya masing-masing. Berkaca dari hal tersebut, industri-industri yang ada di Indonesia seharusnya bermitra dengan perguruan tinggi lokal. Pada tahap awal, BUMN dapat menjadi contoh. Pelaku usaha harus sadar bahwa untuk mengembangkan diri dan untuk mengembangkan perguruan tinggi menjadi world class university maka diperlukan inovasi dan R&D yang merupakan hasil sinergi yang kuat antara industri, perguruan tinggi, dan pemerintahan.

Segenap mahasiswa baru yang saya cintai,

Pada kesempatan yang berbahagia ini saya ingin berpesan, Adik-Adik adalah putra putri bangsa terbaik karena telah sanggup meraih kesempatan yang tidak bisa didapatkan oleh putra putri bangsa yang lainnya. Akan tetapi, menjadi putra putri bangsa terbaik juga membawa konsekwensi. Di pundak Adik-Adik juga terdapat tanggung jawab untuk turut menyelesaikan permasalahan yang dihadapi masyarakat dan bangsa Indonesia. Kemajuan bangsa Indonesia bergantung pada kontribusi Adik-Adik kelak ketika Adik-Adik telah menyelesaikan studi dan berkiprah di berbagai arena kehidupan di masyarakat. Masyarakat dan bangsa Indonesia membutuhkan kontribusi terbaik Adik-Adik untuk menghela dan memimpin perubahan-perubahan bangsa ke arah yang lebih sejahtera dan lebih tercerahkan. Adalah wajar dan adil bila tanggung jawab yang lebih besar diemban oleh mereka yang mendapatkan kesempatan yang lebih baik dan memiliki kemampuan yang lebih.

Adik-Adik harus belajar secara sungguh-sungguh sehingga akan menjadi bagian dari SDM Indonesia yang tangguh. Dengan IPTEK yang Adik-Adik pelajari dan kembangkan selama mengikuti pendidikan di Universitas Pertamina, saya percaya kita mampu membangun Indonesia yang lebih sejahtera dan beradab. Dengan segala potensi yang ada, Adik-Adik berpotensi mejadi pemimpin global (global leader) bila disertai dengan semangat, wawasan yang luas, sanggup menembus pluralitas pemikiran, sanggup memahami permasalahan dalam pluralitas perspektif, memahami dengan pemikiran yang kritis dan berpijak pada prinsip yang kokoh, serta memberikan sumbangan-sumbangan pemikiran maupun tindakan atas dasar prinsip kesetaraan, dan berpegang pada nilai-nilai universal.

 

Para mahasiswa baru serta hadirin yang kami hormati,

Pada hari yang berbahagian ini, sesuai dengan tradisi dalam acara penerimaan mahasiswa baru di kampus-kampus, akan ada ada pidato ilmiah atau kuliah umum. Pada kesempatan kali ini kuliah umum akan diberikan oleh Menteri Agraria & Tata ruang Republik Indonesia dan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Republik Indonesia yang akan diwakili oleh Deputi Bidang Koordinator Sumbe Daya Alam dan Jasa.

Kami mengucapkan terima kasih atas pencurahan waktu, tenaga dan pikiran yang telah diberikan untuk menyiapkan kuliah umum ini. Kami berharap kuliah umum ini akan memberikan gambaran tentang prospek sumber daya alam dan energi di tanah air dan seluruh hadirin dapat menyimak dengan baik dan dapat memetik manfaat dari pemaparan yang disampaikan.

Semoga Allah melimpahkan kepada kita semua rasa kepedulian dan kebersamaan yang tinggi serta kekuatan dan kesabaran dalam menjalankan kegiatan dan tugas kita bersama di Kampus Universitas Pertamina yang kita banggakan ini. Selamat belajar dan berkarya.

 

Wabillahi taufiq wal hidayah,

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

 

Prof. Akhmaloka, Ph.D.

Rektor Universitas Pertamina

 

[1]News, MIT. (5 Maret 1997). MIT Graduates Have Started 4,000 Companies With 1,100,000 Jobs, $232 Billion in Sales in ’94. Diambil kembali dari MIT News: http://news.mit.edu/1997/jobs pada 17 Juli 2017 Pukul 07.00 WIB

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *