Bangun Karirmu, Atur Ritmenya!

Dalam menentukan dan mengembangkan karir, orang akan melihat berbagai peluang yang ada di masa datang, kemampuan diri, dan hambatan. Bagi sebagian orang yang memilih berkarir di sektor perminyakan harus mengetahui betul bahwa kondisi minyak dan gas sedang diambang ketidakpastian, sehingga mereka yang tertarik di bidang tersebut harus melakukan perencanaan karir yang matang, cermat, dan sistematis. Untuk menjawab tantangan tersebut, Universitas Pertamina bersama dengan Halliburton Oil Service Company menyelenggarakan UPBringing: Owning Your Carreer pada tanggal 24 Agustus 2017.

UPBringing yang diselenggarakan di Auditorium Universitas Perrtamina ini dibuka dengan sambutan Simson Pandjaitan selaku Wakil Rektor Bidang Keuangan dan Organisasi, Universitas Pertamina. Simson menuturkan bahwa Halliburton merupakan salah satu perusahaan Oil Service Company terbaik di dunia dan PT. Pertamina (persero) banyak memakai jasa mereka pada proyek eksplorasi. Melalui acara ini, diharapkan mahasiswa dapat memanfaatkan kesempatan sebaik mungkin untuk membangun karir mereka, terlebih pembicara yang datang merupakan yang memiliki jam terbang yang tinggi di bidang keprofesian mereka. Selanjutnya sambutan disambung oleh Illan Khabani selaku perwakilan dari Halliburton yang mengungkapkan komitmen Halliburton untuk maju bersama Universitas Pertamina dalam mencetak sumberdaya yang berkualitas, “Ketika tahun 2012 Halliburton membangun MoU dengan Universiti Teknologi Petronas lalu mengapa di Indonesia tidak ada Universitas Pertamina?  Padahal jika diinisiasi hal ini merupakan terobosan besar dalam menuntaskan permasalahan energi Indonesia. Maka dari itu setelah universitas ini terbentuk saya sangat senang dan setuju dengan MoU yang terjalin dengan Universitas Pertamina, berkomitmen untuk maju bersama membangun negeri, “ tuturnya.

Sesi pertama disampaikan oleh Donya Tasdik selaku Halliburton Indonesia Country Manager, dengan subtema Human Capitality. Donya menekankan Indonesia masih dianggap sebagai high economic growth. Indonesia menjadi tujuan investor untuk berinvestasi dan tujuan pencari kerja. Hal ini akan menjadi masalah apabila masyarakat Indonesia tidak memiliki jiwa kompetitif yang dibutuhkan pasar, sehingga masalah pengangguran akan terus menghantui.  Sehingga Donya menyampaikan kepada mahasiswa, jika ingin bersaing, maka mahasiswa harus memiliki target yang jelas. Donya memberikan contoh pentingnya komunikasi di acara International Job Market,  “…kita harus memiliki highly verbal coomunication karena hal tersebut berkolerasi dengan lancarnya komunikasi dalam dunia kerja global. Kedua adalah ahli pada bidang yang dimiliki, karena hal tersebut dapat menentukan apakah pada masa-masa kuliah bertanggung jawab pada hal yang diembannya. Ketiga,  kemampuan menulis harus bagus karena hal tersebut menjadi salah satu kriteria pada International Job Market apakah layak untuk direkrut atau tidak. Kemudian kemampuan Problem Solving dan belajar International Culture…”

Lebih lanjut Donya menyampaikan bahwa perguruan tinggi harus berpartisipasi dalam meningkatkan kompetensi mahasiswanya. Beberapa diantaranya adalah membiasakan pengajar untuk melakukan observasi, menciptakan lingkungan bahwa mahasiswa mampu menganalisa masalah dengan sistematis, menciptakan lingkungan yang analikal bukan mekanikal, universitas diharapkan mendukung pelajar untuk melakukan diskusi dan teamwork, dan yang tak kalah penting adalah bagaimana universitas menciptakan lulusan dengan mental pemenang.

Melanjutkan diskusi yang disampaikan oleh Donya, Putra Adhiguna selaku Halliburton East Kalimantan Manager menggambarkan bahwa peradaban sebelumnya terfokus pada Amerika dan Eropa. Namun saat ini perkembangan sudah bergeser ke China, India, bahkan Asia. Indonesia berada pada wilayah hijau yang artinya memiliki kuantitas anak muda yang lebih banyak dan akan melahirkan inovasi. Oleh karena itu anak muda Indonesia harus men-setting treadmill karir mereka dengan lebih cepat untuk memberikan inovasi untuk negeri ini. Donya menganalogikan bahwa membangun karir seperti berlatih menggunakan treadmill. “…yang mengatur seberapa cepat ataupun lambat untuk meraih karir tergantung kita…”. Baginya langkah pertama ketika berbicara karir adalah dengan memahami faktor internal ( self-helped ) dan external (Field of work, company/independent, company culture fit, geography,dan mentorship ). Kedua, keluar dari zona kenyamanan dengan menghadapi berbagai tantangan yang justru akan menambah pengalaman, “Kalau Anda sedang berjalan dan itu terasa lelah berarti karir Anda sedang naik dan apabila perjalanan Anda terasa santai maka anda sedang menurun,” tandas Putra.  Putra menambahkan bahwa tahapan terakhir adalah tahan banting dan kerja keras dan mengevaluasi karir yang sudah kita tempuh. Harapannya UPBringing kali ini akan menambahkan jiwa kompetisi terhadap mahasiswa Universitas Pertamina dalam melakukan inovasi dan berkontribusi untuk negeri.  (Madha/Ita)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *