Peluang dan Tantangan Masyarakat Indonesia di Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)

Jakarta – 59 Tahun sudah Indonesia menjalin hubungan regional dengan negara-negara Asia Tenggara. Selama itu pula Indonesia ikut andil sebagai key player dalam pembuatan kebijakan yang diusung ASEAN. Namun dalam kurun waktu 2 tahun terakhir, publik seolah dibuat risau dengan pemberitaan deklarasi Masyarakat Ekonomi ASEAN yang ditengarai adanya invasi pekerja dari negara Asia Tengara. Fenomena pun direspon cepat oleh prodi Hubungan Internasional Universitas Pertamina dengan menyelenggarakan Studium Generale: Kebijakan Luar Negeri di Era MEA pada tanggal 19 Juli 2017. Bertempat di Gedung Griya Legita Universitas Pertamina, acara ini mengundang Prof. Dr. Dewi Fortuna Anwar, MA., Prof. Dr. Dewi sebagai pembicara. Prof. Dewi merupakan Ketua Institut Demokrasi dan HAM, The Habibie Center Research Professor di P2P-LIPI.

Acara yang mengundang beberapa dosen dari universitas lain dan civitas akademik Universitas Pertamina ini dibuka oleh sambutan Dekan Fakultas Komunikasi dan Diplomasi Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Dermawan Wibisono, M.Eng. Dalam sambutannya beliau menekankan bahwa di Era MEA ini sudah saatnya mahasiswa mampu memiliki power yang kuat agar cita-cita bangsa Indonesia dapat terwujud, lebih lanjur era MEA menjadi peluang bagi masyarakat karena dengan jumlah penduduk yang besar diharapkan mampu menduduki sektor-sektor penting di ASEAN.

Saat ini ASEAN menjadi kawasan yang diprediksi akan berkembang secara ekonomi. Dengan pertumbuhan sebesar 5,3% selama periode 2000-2016 dan dukungan populasi terbesar ketiga di dunia setelah Tiongkok (1.379 juta jiwa) dan India (1.309 juta jiwa) menjadikan ASEAN memiliki peluang untuk menjadi raksasa ekonomi terbesar di dunia. Lebih lanjut Prof. Dewi menjelaskan deklarasi MEA seharusnya menjadikan bangsa Indonesia semakin kompetitif dan berpeluang untuk maju karena menurut World Economic Forum (WEF) daya saing Indonesia berada pada posisi 47 dunia atau keempat di Asia Tenggara setelah Singapura, Malaysia, Thailand. “Jumlah rakyat Indonesia mencapai 258 juta jiwa, kok masih takut?  Kalau dikorelasikan jumlah rakyat Singapura tidak lebih dari masyarakat Bintaro. Apalagi daya saing Indonesia sudah cukup memuaskan, nomor 41 dunia dan keempat se-ASEAN. Jadi kita tidak boleh pesimis, MEA harus dijadikan momentum untuk membuat negara Indonesia lebih kuat,” tuturnya.

Namun tentunya dengan persaingan yang terus meningkat, perusahaan lokal harus mampu menjaga pangsa pasar domestik. Di tingkat regional, perusahaan juga harus merambah pangsa pasar lainnya sehingga competitive advantage bangsa ini semakin membaik. Saat ini sudah banyak perusahaan lokal yang merambah pangsa pasar ASEAN, diantaranya pakaian (Barang Batik), Perbankan (BNI, BCA, BRI, dan Bank Mandiri), Minyak dan Gas (Pertamina, Java  Offshore), Pertambangan (Britmindo), dan Logistik (PT. Indonesia Bulk Carrier). Meskipun memliki kesempatan yang begitu besar untuk berkembang, Prof. Dewi juga mengemukakan adanya hambatan yang harus diperbaiki seperti korupsi Indonesia masih relatif tinggi bila dibandingkan dengan Singapura dan Brunnei Darussalam, peraturan yang sering tumpang tindih, terjadinya perubahan peraturan ketika terjadi pergantian pemimpin, hingga inkonsistensi kebijakan antara pemerintah pusat dan daerah.

Jika merujuk pada kebijakan luar negeri, Indonesia harus mampu memiliki kebijakan yang komprehensif, mencakup isu politik kemanan dan ekonomi sosial budaya, “Secara umum kebijakan luar negeri Indonesia pasca era reformasi didominasi isu keamanan dibanding dengan ekonomi. Hal ini ditandai dengan penghapusan Direktorat Jenderal Hubungan Ekonomi Luar Negeri dalam masa restrukturisasi era Menlu Hassan Wirajuda. Terkait isu ekonomi jika Kebijakan Luar Negeri Indonesia juga ikut mendorong perekonomian nasional dan menopang kemandirian indonesia,” tambahnya. Terlepas dari segala tantangan dan hambatan yang ada, pemerintah perlu memperkuat koordinasi dengan sektor swasta agar mereka dapat mengoptimalkan berbagai kerjasama ekonomi di dalam MEA yang telah disepakati pemerintah dan meningkatkan dukungan finansial dan operasional bagi KBRI yang menjadi salah satu ujung tombak dalam hal diplomasi ekonomi.  Di akhir acara Prof. Dewi menyampaikan harapan yang besar terhadap lulusan Universitas Pertamina untuk menjadi aktor nasional yang siap membantu Indonesia merajai ASEAN. (Madha/Ita)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *