Membedah Era Disruption Bersama Prof. Rhenald Kasali

Jakarta – Laju kembang teknologi komunikasi dan informasi memang membawa dampak perubahan masif pada masyarakat, mulai dari kebutuhan dasar hingga kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri.  Manusia terus berinovasi untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik dengan menciptakan penemuan yang dapat menghasilkan sesuatu yang efektif dan efisien. Di bidang transportasi, kita dikejutkan dengan tersedianya applikasi untuk memesan moda transportasi. Prinsipnya mudah, kita hanya perlu mengunduh applikasi di gawai yang kita miliki, kemudian membuat akun baru, memilih lokasi penjemputan hingga menentukan lokasi tujuan. Tanpa harus berlama-lama, seseorang akan menjemput dan membawa kita ke tempat tujuan. Kebutuhan manusia yang terus meningkat seiring dengan perkembangan jaman menjadikan masyarakat hidup di era disruption, sebuah era dengan berbagai perubahan dinamis.

Berangkat dari fenomena tersebut, pada hari Senin, 12 Juni 2017 Universitas Pertamina mengadakan UPBringing Session bertemakan, “Disruption: Menghadapi Lawan-Lawan Tak Kelihatan di Peradaban Uber” dengan mengundang Prof. Rhenald Kasali Ph.D sebagai pemateri. Sebagai cendekiawan yang seringkali melakukan riset dan menulis buku tentang disruption, Prof. Rhenald mengungkapan materinya dengan apik sehingga para peserta pun tak sesekali memberikan applause. Di sesi pembukaan, Prof. Rhenald mengungkapkan bahwa dunia telah mengalami disruption, kondisi yang ditandai dengan indikator simpler (lebih mudah), cheaper (lebih murah), accesible (lebih terjangkau), dan faster (lebih cepat). Hal ini seolah menuntut kita untuk terus berubah jika tidak ingin terlindas oleh zaman, “Dulu siapa yang membayangkan bahwa pasar wartel akan direbut oleh aplikasi internet? Saat ini kita tidak perlu bayar mahal untuk telepon luar negeri karena sudah bisa pakai aplikasi yang tarifnya murah. Secara tidak langsung hal ini membuat bisnis wartel akan collapse,” imbuhnya.

Prof. Rhenald melanjutkan bahwa persaingan bisnis cenderung menghadapi lawan-lawan tak kelihatan sehingga membuat tantangan bagi para pebisnis dalam melakukan usahanya semakin sulit karena mereka ditunutut untuk melakukan inovasi yang tidak hanya bersaing secara produk namun juga bisnis model, “Dulu kita tahu kalo ada  minimarket A pasti ada minimarket B di sebelahnya, saingan ini lebih mudah karena hanya melihat dari besar kecilnya konsumen yang belanja di mininarket tersebut. Namun sekarang ini bisnis-bisnis yang bermunculan seolah tidak mementingkan tempat untuk menjalankan aktivitasnya, mereka hanya perlu menggunakan internet sebagai media untuk mendapatkan pelanggan, seperti menjamurnya toko online” terangnya. Fenomena seperti ini menjadikan pelaku usaha harus memikirkan cara untuk bertahan dalam persaingan bisnis. Pebisnis dihimbau untuk rajin mengamati dan menganalisis perkembangan berita terbaru di berbagai bidang guna menjadikan bisnis tersebut berjalan dengan baik.

Selain menjadi tantangan bagi para kelompok pebisnis, era disruption juga harus diantisipasi dan dikelola dengan baik oleh para karyawan. Salah satu tantangan yang harus siap dihadapi adalah automatisasi atau yang disebut dengan perpindahan mata pencaharian yang sebelumnya dikerjakan oleh manusia dan bergeser ke mesin. Contohnya adalah jalur lintas hambatan atau yang disebut tol. Di setiap pintu tol, kita dapat menemui pekerja yang mengatur keluar masuk kendaraan. Namun, keadaan tersebut berubah semenjak diberlakukannya e-toll card. Meskipun di sejumlah pintu tol masih terdapat sejumlah pekerja, namun perbandingan antara e-toll card dan pekerja memiliki persentase yang hampir sama. Hal ini tentunya menjadi pertimbangan para pekerja untuk terus meningkatkan kompetensi dan keahlian.

Di akhir seminarnya, Prof. Rhenald berpesan kepada mahasiswa untuk memiliki pemikiran terbuka terhadap berbagai hal dan dapat beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan yang ada. Mahasiswa juga dihimbau untuk berpikir kreatif dalam menemukan ide model bisnis yang dapat berguna untuk lingkungan. (Madha/Ita)

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *