_MG_7476

Polemik Infrastruktur di Indonesia Lahirkan Gagasan untuk Lakukan Percepatan pada Pembangunan Infrastruktur

JAKARTA – Seringkali awam beranggapan bahwa pertumbuhan penduduk dapat menjadi bonus demografi bagi suatu negara. Padahal jika menelaah lebih jauh maksud tersebut, bonus demografi hanya didapat jika sumber daya manusia dikelola dengan baik dan terencana. Sebagai negara berkembang yang memiliki potensi untuk mewujudkan bonus demografi, Indonesia dihadapi oleh serentetan masalah multidimensi seperti terbatasnya lapangan pekerjaan hingga pembangunan infrastruktur umum.

Infrastruktur menjadi isu hangat yang seringkali diperbincangkan karena pengaruhnya terhadap hajat hidup orang banyak. Kemudahan berbisnis adalah salah satu contoh dari sekian banyak bidang yang dipengaruhi infrastruktur.  Dibandingkan dengan negara tetangga, pembangunan di Indonesia relatif relatif lambat. Ketidakmerataan pembangunan infrastruktur umum, sanitasi, pelayanan air minum, elektrifikasi, hingga infrastuktur komunikasi dan informatika masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah pusat maupun daerah untuk menyegerakan percepatan pada pembangunan infrastruktur. Jika hal ini tidak mendapat respon yang cepat maka bukan tidak mungkin jika investasi di Indonesia akan merosot tajam yang akhirnya menyebabkan permasalahan di sektor perekonomian dan sosial.

Berangkat pada persoalan tersebut, pada hari Selasa, 9 Mei 2017 Program Studi Teknik Sipil Universitas Pertamina menyelenggarakan seminar bertajuk “Innovation in Infrastructure Technology”. Seminar yang bertempat di Auditorium Universitas Pertamina ini fokus terhadap pembangunan infrsturur yang cocok diterapkan di abad 21. Selain itu, Prodi Teknik Sipil UP turut mengundang beberapa narasumber yang telah memiliki pengalaman lebih dibidang ini, mereka adalah Professor Bernt Johan Leira dari Dept. Of Marine Technology, Norwegian University of Science  dan Prof. Dr. Arief Sabaruddin selaku Kepala Pusat Litbang Perumahan dan Permukiman. Selain itu acara ini juga dihadiri oleh  Budi Soetjipto Ph.D selaku Wakil Rektor lll bidang pengembangan dan kerjasama Universitas Pertamina dan  Prof. Ir. Suprihanto Notodarmojo, Ph.D selaku Dekan Fakultas Perencanaan Infrastruktur & Fakultas Teknologi Industri.

Acara dibuka oleh Budi Soetjipto, Ph. D (Wakil Rektor lll bidang penelitian, pengembangan dan kerjasama). Dalam pidato singkatnya Wakil Rektor lll  menyampaikan bahwa perkembangan teknologi dan infrastruktur tidak dapat dipisahkan dan saling menyambung satu sama lain. Tak lupa dalam sesi sambutan,  Dekan Fakultas Perencanaan Infrastruktur & Fakultas Teknologi Industri, yaitu Suprihanto menjelaskan bahwa dengan adanya pertambahan jumlah penduduk di abad ini kita harus sadar untuk melakukan pembangunan fasilitas berkelanjutan agar tidak lagi ditemui masyarakat Indonesia yang hidup tanpa rumah.

Acara ini berlangsung selama dua sesi. Sesi pertama adalah penyampaian materi tentang innovation technology and infrastructure in Norwegia oleh Professor Bernt Johan Leira selaku perwakilan dari Dept. of Marine Technology, Norwegian University of Science and Tehnology. Prof. Leira menyampaikan bahwa pembangunan infrastrukur di Indonesia sampai saat ini masih kurang memuaskan terbukti dengan penggunaan teknologi yang tidak menunjang pembangunan di jaman yang modern. Oleh karena itu Prof. Leira memberikan gambaran dengan pembangunan yang ada di Norwegia dan Indonesia. Contohnya saja jika di berbagai negara Skandinavia sudah mengusung konsep tunnel pada infrastruktur jembatan untuk menghubungkan antar pulau yang dipisahkan oleh laut, maka di Indonesia belum. Padahal jika Indonesia dapat mengusung konsep ini maka transportasi dan kegiatan logistik dapat dilakukan dengan mudah dan cepat mengingat Indonesia adalah negara kepulauan.

Sesi kedua dilanjutkan oleh Arief Sabaruddin selaku Kepala Pusat Litbang Perumahan dan Permukiman. Pada sesi ini, Arif mengangkat sub tema “Inovasi Teknologi Konstruksi Dalam Mendukung Percepatan Infrastruktur.” Arief sangat menekankan dengan penggunaan teknologi dan optimalisasi SDM. Menurut Arif, dua faktor ini akan saling berhubungan dan berjalan beriringan dalam segala aspek yang dihadapi, Arif menuturkan, “…teknologi diciptakan untuk memudahkan manusia hidup di lingkungan, sudah seharusnya jika SDM Indonesia mampu menjadi operator dalam pengguanannya. Maka dari itu diperlukan sinergi yang kuat agar tidak terjadi miskonsepsi…”

Selain itu Arief  juga menambahkan tentang inovasi yang perlu dilakukan untuk mendukung percepatan infrastruktur Indonesia. Arief membaginya dalam indikator BMW (Biaya murah, Mutu lebih tinggi, Waktu cepat). Arief menyatakan bahwa biaya dalam pembangunan infrastruktur tidak melulu terkait dengan harga yang mahal apalagi yang disebabkan karena langkanya barang. Padahal begitu komponen bangunan yang dapat dijadikan alternatif terlebih jika barang yang ditawarkan biayanya jauh lebih murah sehingga hal ini berdampak pada kemudahan masyarakat dalam mengakses hasil produksi. Indikator kedua adalah mutu. Meskipun di awal penjelasan, biaya murah menjadi indikator utama tetapi kualitas harus tetap terjaga. Jika menurunkan kualitas dalam rangka mencari harga yang murah ujung-ujungnya akan membuat perawatan yang tidak murah hanya akan membuat cost lebih mahal. Terakhir adalah waktu. Sudah sepantasnya jika pembangunan infrastruktur umum harus dilakukan dengan cepat, disamping meminimalisir resiko kecelakaan indikator yang ketiga ini juga mampu memberikan value added  bagi setiap perusahaan. Di akhir acara, Arief memberikan nassehat kepada para peserta bahwa bangsa Indonesia haruslah dapat berpikiran out of the box untuk membahas segala tantangan. (Madha/Ita)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *