IMG_7263

UPBringing Session: Petroleum Technology and Economiscs

Jakarta – Salah satu isu yang seringkali dibicarakan oleh negara berkembang adalah ketahanan energi. Dengan bonus demografi yang didapatkan oleh negara berkembang seperti Indonesia, kebutuhan akan energi juga semakin bertambah setiap tahunnya. Tentunya hal ini menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah beserta pemangku kepentingan lainnya untuk dapat menemukan solusi atas persoalan tersebut. Masyarakat sebagai sasaran utama dalam ketahanan energi diharapkan dapat memperoleh pasokan energi cukup tanpa harus terkonsentrasi pada kelompok tertentu.

Idealnya pihak yang terlibat dalam isu ketahanan energi dapat menemukan sumur baru terkait ekplorasi di dunia migas, meningat hal ini berhubungan langsung dengan ketahanan energi suatu negara. Jika suatu negara memiliki masalah pada pemenuhan energi masyarakatnya maka akan menyebabkan kondisi negara tidak stabil. Menurut Dewan Energi Internasional, suatu negara memiliki tingkat keamanan energi yang baik jika telah menyentuh aspek reliable (dapat memenuhi konsumsi yang berkelanjutan), affordable ( harganya dapat dijangkau oleh berbagai kalangan di sutau negara), accesible (mudah diakses masyarakat tanpa melihat permasalahan wilayah). Terkait dengan dunia migas sendiri, Indonesia sudah sepatutnya untuk mencari sumur-sumur baru dan tidak terfokus pada sumur tua yang tidak memiliki keuntungan maksimal. Hal ini dimaksudkan agar dapat memenuhi tingkat konsumsi masyarakat Indonesia yang membutuhkan energi.

Berangkat dari permasalahan tersebut, pada hari Selasa, 25 April 2017, Universitas Pertamina mengadakan UPBringing Session dengan tema Petroleum Technology and Economiscs di ruang 2803-04. UPBringing yang dilaksanakan pukul 07.00-09.00 ini mendatangkan pemateri dari Universiti Teknologi Petronas,  yaitu Assoc. Prof. Dr, Sonny Irawan selaku  Deputy Head of Department, Petroleum Engineering, Universiti Teknologi Petronas dan Dr. Syahrir Ridha sebagai Senior Lecturer, Petroleum Engineering Department, Universiti Teknologi Petronas dan diikuti oleh mahasiswa/i Universitas Pertamina dari berbagai program studi, seperti Teknik Perminyakan, Teknik Sipil, Manajemen, Ekonomi, dan Hubungan Internasional.

UpBringing kali ini dibagi dalam dua sesi; sesi pertama dengan pembicara Prof. Dr, Sonny Irawan yang membawakan sub-tema ‘Basic and Concept of Offshore Drilling’, Prof. Dr, Sonny Irawan memaparkan bahwa mahasiswa yang berfokus pada kajian tentang dunia perminyakan perlu memiliki pengetahuan lebih mendalam tentang pengeboran lepas pantai karena pada dekade ini sumur-sumur minyak yang ditemukan cenderung berada di laut. Konsep pengeboran onshore dan offshore sangatlah berbeda. Dilihat dari segi biaya, pengeboran offshore juga membutuhkan biaya berlebih karena tingkat kompleksitas tinggi, mulai dari exploration, appraisal, development, dan production. Prof. Dr, Sonny Irawan juga menambahkan bahwa permasalahan teknis yang kerap dihadapi saat pengeboran lepas pantai adalah keadaan cuaca di suatu negara yang kerap kali mengganggu saat dilakukannya drilling. “Maka dari itu sebelum memasang platform, suatu perusahaan migas harus melakukan observasi terlebih dahulu terhadap kondisi cuaca dengan rentang waktu 100 tahun ke depan.” imbuhnya

Pada sesi kedua, Syahrir Ridha menyampaikan materi dengan sub-tema ‘Economics of Oil and Gas Industry.’ Selama diskusi, mahasiswa menunjukkan antusiasmenya dengan melontarkan atau menanggapi pertanyaang yang dikemukakan oleh Syahrir seperti Rafi Widhyadana, mahasiswa dari prodi Hubungan Internasional saat menjawab pertanyaan dari Syahrir mengenai kemungkinan minyak akan habis, “Menurut saya minyak akan habis dan kita harus lebih fokus terhadap bauran energi dan pengembangan energi baru terbarukan. Hal ini terbukti bahwa sekarang Pertamina sudah mengubah visi mereka yang tadinya, to be world class oil company menjadi to be world class energy company.” Jawab Rafi.

Dari segi ekonomi, Syahrir menekankan permasalahan yang dihadapi oleh industri migas Indonesia adalah kurangnya kemampaun berbahasa asing dari para sumber daya manusia. Kemampuan negosiasi dibutuhkan untuk melakukan diskusi tentang kontrak dengan luar negeri. Di Indonesia, kerugian yang cukup banyak terjadi disebabkan karena sumur dihandle oleh Indonesia. Hal ini disebabkan karena adanya miskonsepsi saat negosiasi yang tentunya membuat Indonesia harus berbagi sumur dengan perusahaan asing. “Pada tahun 2002, Indonesia membuka lelang sumur minyak yang ada di salah satu pulau Indonesia namun mengapa PT Pertamina ikut tender dengan berbagai perusahaan asing padahal sumurnya ada di Indonesia. Sehingga mau tidak mau akhrinya PT Pertamina harus berbagi sumur dengan perusahaan migas asing, itu yang sangat disayangkan.”, imbuhnya. Maka untuk mengatasi hal ini diperlukan kecakapan SDM dalam penggunaan bahasa asing saat melakukan negosisasi agar kedepannya Indonesia memiliki profit yang lebih saat mengambil alih sumur minyak.

Acara ini pun mendapat atensi yang baik dari para peserta, harapannya UPBringing kali ini dapat menambah wawasan mahasiswa untuk dapat berbicara lebih terkait energi karena Universitas Pertamina merupakan perguruan tinggi yang fokus mencetak mahasiswa di bidang energi. (Madha/Ita).

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *